sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ada Munas Golkar dan Setya Novanto di korupsi Bakamla

Fakta tersebut terungkap setelah JPU menunjukkan chat WhastApp antara Fayakhun Andriadi dengan Managing Director PT Rohde and Schwarz.

Syamsul Anwar Kh
Syamsul Anwar Kh Kamis, 25 Jan 2018 14:21 WIB
Ada Munas Golkar dan Setya Novanto di korupsi Bakamla

Setelah menjadi tersangka dalam kasus korupsi proyek e-KTP, mantan Katua Umum Partai Golkar, Setya Novanto kembali terseret dalam rasuah pengadaan drone dan satellite monitoring Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Nama Novanto terungkap dalam pesan WhatsApp anggota Komisi I DPR, Fayakhun Andriadi dengan Managing Director PT Rohde and Schwarz Erwin Arif pada Mei 2016. Kala itu, Fayakhun menulis ‘Bro tadi saya sudah ketemu onta, SN (Setya Novanto) dan Kahar. Semula dari KaBa yang sudah Ok drones, satmon belum. Tapi saya sudah ‘paksa’ bahwa harus drones + satmon (satellite monitoring) total 850. Onta sudah konfirm dengan KaBa dan saya, ok untuk Fahmi dapat 2 items, drones dan satmon, 850. Sekarang semestinya onta ketemu fahmi. Begitu OK, saya perlukan Senin dimulai didrop’.

Chat tersebut lalu dibalas Erwin Arief, ‘Ok nanti aku kabarin Fahmi sekarang’.

Tak hanya itu, saat sidang terdakwa Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Bakamla Nofel Hasan disebut juga adanya aliran dana USD300 ribu dari Fahmi untuk musyawarah nasional (munas) Golkar. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menunjukkan percakapan antara Fayakhun dengan Erwin.

Fayakhun menulis, ‘Noted bro, konfirm bro. Bro kalau dikirim senin maka masuk di tempat saya kamis atau jumat depan. Padahal jumat depan sudah munas Golkar. Apa bisa dipecah, yang cash di sini 300 ribu, sisanya di JP Morgan? 300 ribunya diperlukan segera untuk petinggi-petingginya dulu. Umatnya nyusul minggu depan’.

Lalu dibalas oleh Erwin Arief ‘Bro akan diusahakan karena Kamis atau Jumat libur’. JPU menyebut uang lalu dikirim ke 4 rekening perusahaan di luar negeri secara bertahap.

Meski demikian, Setya Novanto membantah ikut campur dalam kedua proyek Bakamla tersebut. Ia mengaku tak pernah tahu dan tak ada urusan dengan Bakamla.

"Saya tidak pernah tahu urusan Bakamla, tidak pernah tahu urusan Bakamla," terang Novanto seperti dikutip dari Antara, Kamis (25/1).

Suami Deisty Astriani Tagor itu menilai pencatutan namanya sebagai pencemaran nama baik. Terlebih di tengah kondisinya yang sudah mendekam di Rutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus e-KTP.

"Iya, pencemaran nama baik, ya kadang masih dalam keadaan begini cuma prihatin sajalah, nyebut, nyebut, tapi kita lihat lah perkembangannya," tandasnya.

Sponsored
Berita Lainnya