sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BMKG peringatkan potensi gempa kuat di Tunjaman Lempeng Laut Filipina

Wilayah Morotai Maluku Utara merupakan salah satu kawasan seismik aktif di Indonesia.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Minggu, 07 Jun 2020 12:11 WIB
BMKG peringatkan potensi gempa kuat di Tunjaman Lempeng Laut Filipina
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 527.999
Dirawat 66.752
Meninggal 16.646
Sembuh 441.983

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut adanya potensi gempa kuat di Tunjaman Lempang Laut Filipina.

Seperti diketahui, gempa berkekuatan M 6,8 dengan kedalaman 11 kilometer pada Kamis (4/6) sore menimbulkan kerusakan pada ratusan bangunan di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara.

 “Update hasil monitoring BMKG hingga Minggu pagi 7 Juni 2020 menunjukkan aktivitas gempa susulan yang terjadi hanya 5 kali. Magnitudo gempa susulan terbesar M 4,8 dan terkecil M 2,9. Gempa susulan terakhir tercatat pada Minggu (7/6) pukul 10.58.23 WIB berkekuatan M 3,9,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangan tertulis, Minggu (7/6).

Minimnya jumlah aktivitas gempa susulan di Morotai disebabkan karakteristik batuan pada Lempang Laut Filipina sangat homogeny dan elastis (ductile). Sifat elastis ini menyebabkan batuan tidak rapuh. Sehingga, gempa susulan terjadi sangat sedikit.

Hasil monitoring BMKG sepanjang Mei 2020, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas seismisitas. Khususnya, untuk aktivitas gempa menengah di kedalaman sekitar 100 kilometer di wilayah Morotai. Imbasnya, wajar jika di zona aktif gempa yang terjadi sebulan sebelumnya, kini terjadi gempa kuat.

Wilayah Morotai Maluku Utara merupakan salah satu kawasan seismik aktif di Indonesia. Lokasi Pulau Morotai bersebelahan dengan zona subduksi Lempeng Laut Filipina. Di sebelah Timur Pulau Halmahera melintas subduksi Lempeng Laut Filipina yang berarah Utara-Selatan dengan panjang mencapai sekitar 1.200 km, dari Pulau Luzon, Filipina, di Utara hingga Pulau Halmahera di Selatan. Zona subduksi aktif ini memiliki laju penunjaman lempeng antara 10 hingga 46 milimeter per tahun.

Zona megathrust Lempeng Laut Filipina merupakan ancaman terjadinya bencana gempa dan tsunami yang potensial bagi wilayah Maluku Utara. Terlebih, daerah Halmahera, Morotai, dan Kepulauan Talaud. Pada segmen zona megathrust di Pulau Halmahera memiliki magnitudo tertarget M 8,2. Jika aktivitas gempa Kamis lalu berkekuatan M 6,8 maka masih jauh lebih kecil dari magnitudo tertargetnya.

Merujuk pada catatan gempa, beberapa wilayah ini telah sering terjadi gempa kuat dan merusak yang dipicu tunjaman Lempeng Laut Filipina. Pertama, gempa merusak Kepulauan Talaud 23 Oktober 1914 (M 7,4). Kedua, gempa merusak Halmahera 27 Maret 1949 (M 7,0). Ketiga, gempa merusak Kepulauan Talaud 24 September 1957 (M 7,2). Keempat, gempa merusak Halmahera Utara dan Morotai 8 September 1966 (M 7,7). Kelima, gempa merusak Kepulauan Talaud 30 Januari 1969 (M 7,6). Keenam, gempa merusak Maluku Utara dan Morotai Morotai pada 26 Mei 2003 (M 7,0).

Sponsored

Catatan sejarah enam gempa kuat dan merusak tersebut di atas merupakan bukti bahwa zona Megathrust pada tunjaman Lempeng Laut Filipina. “Khususnya segmen Halmahera-Talaud menjadi salah satu sumber gempa yang patut diwaspadai dan tidak boleh diabaikan. Tunjaman Lempeng Laut Filipina ini selamanya akan menjadi sumber gempa potensial di wilayah Halmahera, Morotai dan Kepulauan Talaud,” tutur Daryono.

Berita Lainnya