sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ahli tata kota dari Harvard: Jakarta bisa tiru Seoul

Pemangku kepentingan juga harus mempertimbangkan sejumlah populasi penting apabila membangun kota baru

Mona Tobing
Mona Tobing Jumat, 16 Mar 2018 07:25 WIB
Ahli tata kota dari Harvard: Jakarta bisa tiru Seoul

Peneliti tata kota dari Universitas Harvard Prof Richard B Peiser mengatakan banyak negara, termasuk Indonesia, bisa belajar dari Korea Selatan dalam membangun kota dan ibu kota baru. Masukan dari Peiser dikaitkan dengan rencana pemerintah Indonesia yang berniat memindahkan ibu kota dari Jakarta ke kota lain. 

"Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan jika ingin membangun kota baru yaitu biaya pembebasan lahan dan pembiayaan infrastruktur," kata Peiser di sela acara diskusi The Economics of New Towns: Why They So Often Fail. 

Dia mengatakan pembebasan lahan cukup menghabiskan banyak biaya termasuk untuk infrastruktur. Banyak negara-negara di dunia gagal membangun kota baru karena tidak bisa konsisten dalam membangun setidaknya selama 10 tahun pertama. 

Peiser mengingatkan para pemangku kepentingan juga harus mempertimbangkan sejumlah populasi penting apabila membangun kota baru, yaitu kalangan orang kaya dan berkemampuan. Saat ada orang yang berkemampuan tinggal di kota baru tersebut, maka dapat memicu pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.

Orang kaya, kata dia menjadi penunjang pertumbuhan positif kota baru. Apabila kota baru tanpa orang kaya justru tidak berkembang dengan baik, seperti di kawasan relokasi perang dunia dengan populasi orang tidak kuat secara ekonomi.

"Ada jumlah dana besar dari orang-orang kaya sehingga bisa membangun fasilitas. Mereka menunjang proses pembangunan setidaknya untuk tujuh tahun pertama. Mereka dapat menjadi penentu naik turunnya perekonomian. Kalau bisa bertahan, maka kota baru bisa tumbuh," tukas Fail seperti dikutip Antara.

Rektor Universitas Tarumanegara Prof Agustinus Purna Irawan menanggapi kalau orang kaya atau orang hebat memang bisa menjadi magnet pertumbuhan ekonomi kota baru. Ketika dalam komplek ada orang hebat kalangan menengah itu bisa memancing daya tarik. 

Di Indonesia, kata Purna bisa diterapkan suatu komplek terdapat kluster milik orang kaya. Kemudian di sisi lain berisi kalangan menengah ke bawah, sehingga semua kalangan memiliki kesempatan yang sama tinggal di kota baru.

Sponsored

Meski begitu Purna mengingatkan agar tetap mengusung nilai lokal. Sebab apabila mengadopsi budaya modern justru akan menghilangkan budaya sendiri. 

Berita Lainnya