logo alinea.id logo alinea.id

Anggota DPRD DKI: Cegah DBD dengan edukasi

Belum banyak warga Ibukota yang memahami dampak buruk dari kelembaban tempat tinggal seperti yang disebutkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta

Akbar Persada
Akbar Persada Jumat, 01 Feb 2019 16:47 WIB
 Anggota DPRD DKI: Cegah DBD dengan edukasi

Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta mempertanyakan efektivitas dari aplikasi berbasis Andorid yang bernama DBDKlim. Aplikasi yang baru-baru ini diluncurkan pemprov disebut akan memberikan peringatan dini penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD) dengan basis iklim yang dikerjasamakan dengan BMKG.

"Apa semua warga Jakarta melek teknologi? Saya kira cara efektif mencegah DBD adalah mendatangi dan mengedukasi langsung ke rumah-rumah," ujar Anggota Komisi E DPRD DKI Judistira Hermawan, Jumat (1/2).

Keraguan efektivitas aplikasi tersebut, tampak pada masa reses yang dilakukannya. Judistira mengaku sempat menanyakan langsung warga mengenai DBDKlim yang digagas Dinas Kesehatan.

"Warga tidak tahu. Mereka hanya tahu DBD dapat dicegah dengan fogging dan pemberantasan jentik oleh Jumantik," ungkapnya.

DBDKlim sendiri memiliki kepanjangan yang berarti Peringatan Dini DBD berbasis iklim. Sistem informasi itu dapat diakses langsung melalui http://dbd.bmkg.go.id

Aplikasi DBDKlim menyandingkan data kasus DBD dengan prediksi curah hujan dan kelembaban di wilayah Jakarta. 

Semakin lembab suatu wilayah, nyamuk akan semakin banyak, maka risiko warga digigit nyamuk penyebab DBD juga semakin tinggi. Aplikasi DBDKlim dibutuhkan untuk mengantisipasi kasus DBD sedini mungkin.

Belum banyak warga Ibukota yang memahami dampak buruk dari kelembaban tempat tinggal seperti yang disebutkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Komisi E yang membidangi kesehatan mendorong agar sosialisasi dan edukasi pencegahan DBD dapat lebih gencar dilakukan.

Sponsored

"Di atas kertas saya kira bagus soal upaya pencegahan dengan aplikasi tersebut. Tetapi harus dipahami juga, semua tidak bisa terjangkau melalui aplikasi," ungkap politikus Golkar itu.

Ajak warga jadi kader jumantik mandiri

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, sebagai upaya mitigasi pencegahan DBD, pihaknya tidak hanya mengandalkan DBDKlim. Sejauh ini, Dinas Kesehatan telah menyebarkan edaran untuk mewajibkan warga agar menjadi kader juru pemantau jentik (jumantik) secara mandiri. 

Melalui edaran itu, warga diminta bersama-sama melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta 3M, yakni, menutup tempat penampungan air bersih, menguras tempat penampungan air bersih, dan mendaur ulang atau memusnahkan barang-barang bekas. 

"Semua warga harus sadar untuk menjaga rumah dan lingkungannya, satu rumah satu jumantik. Kita berharap semua keluarga menunjuk keluarganya di rumah untuk menjaga lingkungan bebas dari jentik," ujar Widyastuti.

Imbauan tersebut, merupakan tindak lanjut dari pesatnya peningkatan jumlah penderita DBD di Januari. Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 111 kasus DBD per 20 Januari. Kasus tersebut kemudian naik mencapai 662 kasus per 28 Januari.

Ada lima kecamatan dengan tingkat kejadian (incidence rate/IR) DBD tertinggi, yang tersebar di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. IR adalah perhitungan kejadian per 100.000 penduduk, digunakan untuk mengukur proporsi kejadian DBD. Semakin tinggi angka IR, maka semakin tinggi kejadiannya. 

Jagakarsa tercatat sebagai wilayah dengan kejadian tertinggi, dengan 19,27 IR, disusul Kalideres (16,94 IR), Kebayoran Baru (16,54 IR), Pasar Rebo (13,93 IR), dan Cipayung (13,57 IR). 

Atas kasus tersebut Lurah Lenteng Agung, Setia, yang bergerak cepat dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat menjadi kader jumatik mandiri. Selain melaksanakan PSN rutin, Setia juga berpesan agar warga melipat baju yang selesai dijemur untuk meminimalisir sarang nyamuk. 

Rutin menaburkan bubuk pembasmi jentik nyamuk di penampungan air, dan membuat opitrap.

"Opitrap merupakan jebakan nyamuk yang terbuat dari barang bekas pakai seperti toples, botol minuman plastik, dan lainnya yang ditutup menggunakan kain kasa kemudian dimasukkan ke dalam air tampungan yang diletakan di tempat lembab. Nantinya, nyamuk-nyamuk yang bertelur dan menjadi jentik dapat langsung dibuang ke tanah kering," ungkap Setia.