sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pengamat: Anies yang politisasi banjir, padahal 2024 masih jauh

Anies dinilai lebih sibuk melakukan pencitraan ketimbang melakukan kebijakan konkret menangani banjir.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Kamis, 16 Jan 2020 08:30 WIB
Pengamat: Anies yang politisasi banjir, padahal 2024 masih jauh
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 502.110
Dirawat 63.722
Meninggal 16.002
Sembuh 422.386

Pengamat politik Jefrie Ardiansyah menilai tudingan politisasi banjir Jakarta oleh warga atau lawan politik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak tepat. Dia justru menyebut Anies lah yang mempolitisasi banjir awal tahun yang terjadi di sejumlah wilayah Ibu Kota.

Kesimpulan Jefrie lantaran Anies dinilai lebih sibuk menjawab keluhan warganet, terutama untuk menangkal pernyataan-pernyataan yang merugikan karier politiknya ke depan. 

Adapun upaya pengendalian banjir yang dilakukan Anies tidak diikuti langkah rasional seperti membangun situ atau menuntaskan naturalisasi sungai yang digaungkannya.

"Justru Anies sendiri yang mempolitisasi banjir itu sendiri," kata Jefrie di Jakarta, Rabu (15/1).

Banjir besar melanda Ibu Kota dan sejumlah daerah di Jawa Barat dan Banten pada awal tahun ini, persisnya pada 1 Januari 2020. Ribuan orang mengungsi, dan puluhan orang meninggal. 

Jefrie mengurai tudingan politisasi banjir yang dilakukan Anies dengan mencontohkan sejumlah pernyataan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu. Di antaranya ihwal anak kecil yang senang saat ada banjir, dan memerintahkan pihak kelurahan berkeliling memberikan peringatan dini terjadinya banjir menggunakan pengeras suara.

Bagi Jefrie, pernyataan serupa itu tak memberi dampak terhadap banjir yang terjadi. Pernyataan Anies dinilai akan lebih berarti jika berisi hal konkret, seperti rencana akan membuat waduk atau memperbarui mesin pompa yang ada di Jakarta.

Jefrie pun mengkritik sikap Anies yang enggan meneruskan kebijakan-kebijakan positif warisan gubernur sebelumnya. Hal ini dianggap merupakan upaya Anies untuk menunjukkan citra berbeda dari pemimpin lainnya di mata publik.

Sponsored

"Anies justru terjebak dalam eksklusivitas populisme. Dia selalu mengeluarkan statement yang berseberangan dengan pihak yang berseberangan dengannya. Padahal (Pilpres) 2024 masih jauh," ujarnya. (Ant)

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Senin, 23 Nov 2020 16:42 WIB
Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Minggu, 22 Nov 2020 14:48 WIB
Berita Lainnya