sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bahasa daerah dijadikan kampanye pencegahan Covid-19

Bahasa daerah dianggap yang paling dekat dengan masyarakat sebagai penuturnya.

Zahra Azria
Zahra Azria Selasa, 01 Des 2020 23:07 WIB
Bahasa daerah dijadikan kampanye pencegahan Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Pedoman Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan 3M dalam 77 Bahasa Daerah. Progran ini diinisiasi Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama Satgas Penanganan Covid-19.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mengungkapkan, penggunaan bahasa daerah untuk mengkampanyekan pencegahan penyebaran Covid-19 sangat tepat. Sebab, dianggap yang paling dekat dengan masyarakat sebagai penuturnya.

"Mengingat pentingnya konten kampanye pencegahan Covid-19 bagi keselamatan masyarakat, sehingga strategi mengubah pesan itu ke dalam bahasa yang paling dekat dengan masyarakat dirasa sangat tepat," kata Nadiem secara virtual, Selasa (1/12).

Dia menyatakan, saat ini pesan-pesan pemerintah tentang pencegahan penyebaran Covid-19 ditenggarai masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, penggunaan bahasanya dinilai masih terlalu tinggi atau rumit, sehingga kurang tersampaikan.

Bahasa daerah sebagai bahasa ibu, menurut Nadiem, dapat mendekatkan pesan yang disampaikan secara lebih emosional kepada para penuturnya.

Hal senada dikatakan, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Aminuddin Aziz. Dia mengungkapkan, hasil pengamatan Satgas Covid-19 nasional menunjukkan masih tingginya angka korban coronavirus. 

Salah satu faktornya, ketidakmengertian masyarakat tentang bahaya pandemi. "Bahasa dan istilah yang digunakan terlalu asing bagi masyarakat daerah sehingga mereka menjadi acuh tak acuh," kata Aminudin.

Untuk itu, pihaknya meluncurkan Pedoman Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan 3M dalam 77 Bahasa Daerah. Dalam waktu tiga minggu naskah pedoman perilaku berhasil diselesaikan oleh tim balai dan kantor bahasa ke dalam 34 bahasa, satu bahasa untuk masing-masing provinsi. 

Sponsored

"Angka 30 bahasa kemudian berkembang menjadi 40 bahasa, lalu 75 bahasa, dan kini sudah berhasil diterjemahkan ke dalam 77 bahasa daerah," imbuh Aminudin.

Adapun 77 bahasa daerah itu, antara lain Provinsi Aceh yaitu bahasa Aceh dan Gayo, Provinsi Gorontalo dengan bahasa Gorontalo dan bahasa Suwawa, Provinsi Jambi dengan bahasa Melayu Jambi dan Kerinci, Provinsi Jawa Barat yaitu bahasa Sunda dan dialek Jawa Cerbon Dermayu, Provinsi Kalimantan Barat dengan bahasa Dayak Ahe, Melayu Pontianak, dan Dayak tamambalo, dan lainnya.

Berita Lainnya