sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Potensi banjir besar Jabodetabek dan keampuhan modifikasi cuaca

Teknologi modifikasi cuaca diharapkan bica mencegah banjir besar di Jabodetabek. Potensi banjir besar terjadi sepekan ke depan.

Khudori
Khudori Kamis, 02 Jan 2020 16:30 WIB
Potensi banjir besar Jabodetabek dan keampuhan modifikasi cuaca
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 128776
Dirawat 39082
Meninggal 5824
Sembuh 83710

Sejumlah langkah untuk mencegah banjir dilakukan sejak dini. Salah satunya dengan menerapkan teknologi modifikasi cuaca. Cara ini dilakukan untuk mempercepat hujan turun sebelum mencapai wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Modifikasi cuaca dimaksudkan untuk mengurangi curah hujan yang turun di Jabodetabek guna mencegah banjir.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT mendapatkan tugas untuk melakukan modifikasi cuaca itu. "Kami sudah siapkan 22 ton bahan semai (garam), dan segera ditambah lagi stoknya," kata Kepala BPPT Hammam Riza di Jakarta, Kamis (2/1).

Hammam menjelaskan, rencananya ada empat penerbangan per hari untuk menyemai awan guna mempercepat hujan turun, sehingga hujan tidak sampai turun di wilayah Jabodetabek. Dari hasil rapat koordinasi penanganan banjir di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, hari ini, BPPT diminta melakukan operasi modifikasi cuaca itu.

Hammam menuturkan, BPPT sudah menganalisis pertumbuhan awan penyebab hujan di Jabodetabek. Awan-awan tersebut berasal dari sebelah barat dan barat laut Jabodetabek, yaitu Selat Sunda, Lampung, dan sekitarnya.

Persiapan baik pesawat maupun peralatan serta bahan semai berupa garam, kata Hammam, dilakukan mulai hari ini. BPPT bersama BNPB dan TNI akan mengerahkan dua jenis unit pesawat, yakni CN295 dan Casa, dan opsional satu unit Hercules.

Sebanyak 15 personel BPPT diterjunkan untuk melakukan operasi itu. Kerja sama lintas sektor juga akan turut menyukseskan pelaksanaan cara ini. "Kita perlu data-data cuaca yang akurat dari BMKG, terkait awan hujan, pergerakan angin, dan lain-lain, sehingga ahli teknologi modifikasi cuaca bisa simulasi dan antisipasi," ujarnya.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto mengatakan, langkah ini ditargetkan dapat mengurangi 30-50 persen hujan yang diperkirakan turun di wilayah Jabodetabek.

Modifikasi cuaca akan dilakukan mulai Jumat (3/1) besok. Sebelum bergerak, pagi hari dilakukan prediksi dan monitoring pertumbuhan dan pergerakan awan. "Semua awan yang bergerak ke Jabodetabek dan diperkirakan akan hujan di Jabodetabek akan disemai dengan pesawat menggunakan bahan semai NaCl. Diharapkan, awan akan jatuh sebelum memasuki Jabodetabek," ujarnya.

Sponsored

Rencananya, BPPT menurunkan hujan ke Selat Sunda atau Lampung. Jika arah angin ke timur, hujan akan diturunkan ke waduk-waduk seperti Jatiluhur dan Jatigede. Intinya, cara ini dilakukan agar hujan tidak turun di wilayah Jabodetabek.

Tertinggi 24 tahun terakhir

Teknologi modifikasi cuaca menjadi salah satu opsi untuk mengurangi potensi banjir di Jabodetabek, seperti yang terjadi pada 1 Januari 2020 atau tepat tahun baru. Dari data-data yang ada, dipastikan banjir di wilayah Jabodetabek kemarin karena curah hujan yang tinggi dari kondisi normal.

"Ini merupakan rekor curah hujan tinggi dalam beberapa jam terakhir," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo saat konferensi pers di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Rabu (1/1) kemarin.

Menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisikas atau BMKG, intensitas hujan yang mengguyur Jakarta pada 1 Januari 2020 memecahkan rekor dalam seperempat abad terakhir. Curah hujan tahun baru kemarin yang tertinggi sejak 1996.

"Mulai (Selasa, 31 Desember 2019) malam sampai dengan dini hari (Rabu, 1 Januari 2020), curah hujan yang sangat lebat, mencapai lebih dari 300 mm/hari. Di daerah Halim Perdana Kusuma, curah hujan mencapai rekor tertinggi, yaitu mencapai 377 mm/hari, kemudian di daerah sekitar Taman Mini Indonesia Indah sekitar 350 dan di sekitar Jatiasih 270 mm/hari," kata Doni.

Selain itu, berdasarkan data BMKG, permukaan air laut saat itu berada di ketinggian 184 sentimeter. Padahal, dalam keadaan normal berada di bawah 160 sentimeter. Akibatnya, sebagian air yang ada di darat tidak bisa mengalir lancar ke laut.

Berikut data BMKG ihwal banjir besar di Jakarta dan intensitas hujan harian:

1996: 216 mm/hari
2002: 168 mm/hari
2007: 340 mm/hari
2008: 250 mm/hari
2013: > 100m m/hari
2015: 277 mm/hari
2016: 100-150 mm/hari

Potensi banjir besar sepekan ke depan

Banjir besar di Jabodetabek pada tahun baru kemarin diperkirakan bukan yang terakhir. Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab mengatakan, potensi hujan rendah dan lebat di Jabodetabek masih ada sampai sepekan ke depan.

"Yang perlu kita cermati saat ini adalah bahwa Jabodetabek belum memasuki puncak musim hujan. Jadi kita masih awal. BMKG akan menginformasikan 'warning' (peringatan) itu tiga jam sebelum kejadian, seperti halnya kami infokan ke masyarakat," tuturnya.

Dia mengimbau masyarakat tetap berjaga-jaga karena intensitas hujan sedang dan lebat di Jabodetabek masih ada sampai dengan tujuh hari ke depan. Apalagi, pada 5-6 Januari 2019, diperkirakan ada air pasang. Potensi banjir besar bakal berulang.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, intensitas hujan tinggi, bahkan ekstrem ada kemungkinan terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah hingga 15 Januari 2020.

"Dari data terakhir analisis kami diperkirakan antara 5 Januari hingga 15 Januari akan ada aliran udara basah dari Samudera Hindia sebelah barat Sumatera," kata Dwikorita usai rapat koordinasi penanganan banjir Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, hari ini.

Dwikorita mengatakan, ini merupakan fenomena biasa. Bila terjadi pada musim kemarau, akan menjadi hujan di musim kemarau. Namun, karena terjadi pada musim penghujan, maka bisa menjadi intensitas curah hujan ekstrem.

Aliran udara basah dari Samudera Hindia diperkirakan bergerak di wilayah sebelah selatan garis ekuator. Pada 5 Januari hingga 10 Januari, diperkirakan mempengaruhi intensitas curah hujan di Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, dan Jawa.

Kemudian pada 10 Januari hingga 15 Januari, aliran udara basah akan bergerak ke Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan. "Karena itu, fenomena ini perlu diantisipasi lebih dini. Dipersiapkan lebih dini mitigasinya," ujar mantan Rektor UGM itu. (Ant)

Berita Lainnya