sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BMKG pastikan cuaca prima saat pesawat JT 610 take off

Cuaca yang biasanya menyebabkan turbulensi pesawat di udara adalah awan cumulonimbus

Dimeitri Marilyn
Dimeitri Marilyn Senin, 29 Okt 2018 16:18 WIB
BMKG pastikan cuaca prima saat pesawat JT 610 take off
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 377.541
Dirawat 63.576
Meninggal 12.959
Sembuh 301.006

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan insiden kecelakaan yang terjadi pada pesawat JT 610 bukan karena cuaca buruk. Hal tersebut diucapkan sendiri oleh Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG Agus Wahyu kepada Alinea.id via pesan singkat.

"Tidak ada cuaca signifikan pada saat pesawat JT 610 mengudara. Cuaca prima saat pesawat JT 610 take off," kata Agus Wahyu, Senin, (29/10).

Menurut Agus cuaca yang biasanya menyebabkan turbulensi pesawat di udara adalah awan cumulonimbus. Namun dalam kasus jatuhnya pesawat JT 610 tipe PK-LQP jenis Boieng 737 MAX 8 tidak ada rekaman aktivitas awan cumulonimbus yang terditeksi oleh BMKG.

"Tidak ada awan cumulonimbus. Berawan saja sekitar pukul 06.00 WIB. Sedangkan pukul 07.00 WIB kondisi awan tinggi relatif cerah," ucap Agus Wahyu.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Agus perihal dugaan sementara penyebab jatuhnya pesawat karena keberadaan windsor angin tidaklah benar. 

Selain awan cumulonimbus, windsor angin juga dianggap menjadi salah satu musuh besar pilot saat di udara karena kibasannya mampu menghempas pesawat bahkan membelahnya menjadi dua.

"Angin dari arah timur laut ketinggian 2000 feet- 4900feet. Kecepatan 4 - 9 km/jam. Tidak ada pantaauan windsor. Cuaca relatif baik untuk penerbangan. Bagus untuk pesawat besar," tutur dia.

Pernyataan ini juga berbanding terbalik dengan hipotesa pengamat penerbangan Alvin Lie yang sudah lebih dulu berbincang dengan Alinea.id. Alvin Lie menyebut salah satu faktor utama penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 adalah karena angin windsor.

Sponsored

"Bisa jadi jatuhnya pesawat JT 610 karena windsor angin. Itu angin memiliki daya kuat untuk memotong dan membanting pesawat di udara," kata pengamat Alvin Lie.

Meskipun, Alvin memastikan windsor angin bukan menjadi satu-satunya penyebab turbulensi pesawat terjadi. Ada sejumlah faktor mengapa pesawat 610 JT itu bisa jatuh ke dalam titik koordinat 05º 49.727 S – 107º 07.460 E (heading 40º timur laut) atau di perairan Laya Tanjung Bumi Karawang. 

"Faktor kelistrikan pesawat misalnya. Atau regulator mesin. Semua keluhan bisa ditanyakan oleh Airnav perihal permasalahan di dalam pesawat dari keluhan terakhir yang dirasakan pilot yang memakai pesawat tersebut," ucap Avin Lie.

Pesawat berangkat dari terminal IB Lion Air, Cengkareng-Soetta sekitar Pukul 06.20 WIB. Tetapi sepuluh menit kemudian tepatnya pukul 06.30 WIB, sinyal pesawat penumpang tujuan Jakarta-Pangkal Pinang tersebut hilang kontak. Namun, keberadaan pesawat sempat muncul. Barulah sekitar Pukul 07.10 WIB secara resmi pesawat JT-610 dinyatakan hilang kontak.
 

Berita Lainnya