sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BNPB: Takmungkin selter korban bencana andalkan pemerintah

Doni pun berharap, publik meningkatkan pengetahuannya.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Senin, 24 Feb 2020 16:07 WIB
BNPB: Takmungkin selter korban bencana andalkan pemerintah

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, menyatakan, penyediaan selter bagi pengungsi tak sepenuhnya mengandalkan dukungan pemerintah. Diharapkan publik turut berpartisipasi.

"Penyediaan selter ini juga bisa kita harapkan menjadi salah satu upaya dari masyarakat. Yang mungkin saja lahannya merupakan lahan publik," katanya di Jakarta, Senin (24/2).

Dia mecontohkan dengan pemanfaatan berbagai fasilitas pemerintah dan umum. Macam balai desa, masjid, gereja, dan pura di tepi pantai. "Apalagi, jika melihat kebutuhan selter di sepanjang ratusan kilometer pantai barat Sumatra," ucapnya.

Menurutnya, beberapa kawasan lain juga rawan gempa dan tsunami. Seperti pantai selatan Jawa, Sulawesi, Maluku, Palu, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kalau sebanyak itu, tentu tidak mungkin (mengandalkan pemerintah saja)," ujarnya.

Karenanya, BNPB siap memfasilitasi lembaga/instansi maupun pendonor yang ingin membantu menyediakan selter. Khususnya di daerah rawan gempa dan tsunami.

Tingkatkan Pengetahuan
Di sisi lain, Doni mengimbau masyarakat meningkatkan pengetahuan terkait mitigasi tsunami. Mengingat gelombangnya mematikan.

Alasan lainnya, bencana tersebut kerap berulang. Ini sesuai hasil riset Pemerintah Aceh bersama sejumlah perguruan tinggi berdasarkan temuan sedimen usai tsunami.

Sponsored

Penelitian dilakukan dengan memeriksa susunan sedimen ke sejumlah negara. Hasilnya, usia setiap lapisan beragam. Ada yang 7.500 tahun lebih. "Ini menunjukkan, bahwa gempa dan tsunami pernah pula terjadi di Aceh sebelum tahun 2004," tuturnya.

Jika masyarakat Aceh tahu cara menyelematkan diri kala terjadi gempa dan tsumai pada Desember 2004, yakin Doni, korban jiwa dapat diminimalisasi. Tak mencapai 200 ribu jiwa.

"Kini, kita memikirkan ke depan. Dengan mempelajari berbagai pengetahuan tentang mitigasi bencana dan menyebarluaskan pada masyarakat," tutupnya. (Ant)

Berita Lainnya