sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bongkar anggaran tangkal banjir DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak mengalokasikan anggaran pengadaan tanah untuk waduk, situ, embung, kali, dan saluran air pada APBD

Syah Deva Ammurabi Fajar Yusuf Rasdianto
Syah Deva Ammurabi | Fajar Yusuf Rasdianto Jumat, 10 Jan 2020 08:02 WIB
Bongkar anggaran tangkal banjir DKI Jakarta

Antara petaka dan anugerah

Warga Kompleks Bumi Pesanggrahan Mas, Jakarta Selatan, Heru Suadi (62), mengungkapkan banjir yang melanda tempat tinggalnya kali ini paling parah sejak 24 tahun terakhir.

"Kali ini banjir terparah. Dulu paling tinggi 30 centimeter tahun 1996," ujar pensiunan perusahaan swasta itu ketika berbincang dengan Alinea.id pada Selasa (7/1). Dia mengaku rumah dan pekarangannya terendam air hingga 90 centimeter.

Air menggenang rumah Heru sejak Rabu (1/1) pukul 08.00 WIB hingga surut pukul 15.00 WIB. Beruntung, keluarganya sempat menyelamatkan barang-barang berharga ke lantai atas rumah.

Tidak hanya rumah yang terendam, sebuah mobil Chevrolet Trooper, satu motor Honda CBR, dan satu motor Yamaha NMax milik Heru turut menjadi korban. “Bawa (motor NMax) ke bengkel buka olinya, ngucur air. Udah ngucur air, ganti oli. Starter enggak bisa juga, ternyata filter udaranya rapet sama air. Ganti filter juga. Setelah ganti semua, di-starter isinya air semua,” ungkapnya. 

Untuk motor Honda CBR, bahkan dirinya telah mengganti oli sebanyak tiga kali karena masih terdapat busa air. 

Heru menceritakan air masuk ke mobil Chevrolet Trooper hingga setinggi gagang pintu mobil. Jok belakang mobil hingga ruang mesin terendam oleh air, untungnya valve (katup) mesin hanya terendam sebagian. Meskipun mobil sudah dapat digunakan, lampu mobil masih terlihat berembun. “Yang penting (mobil) sudah lancar lagi. Ini-nya (tungkai pintu mobil kanan depan bagian dalam) rusak, macet, patah,” ujarnya.

Ia mengaku sudah menghabiskan dana Rp900.000 untuk mengganti oli mobil (gardan, mesin, dan transmisi), Rp360.000 untuk oli motor CBR, dan Rp300.000 untuk oli motor NMax. Biaya tersebut termasuk jasa ganti oli. Untuk suku cadang dan interior mobil yang rusak, Heru mengaku sudah menyiapkan dana jutaan rupiah.

“Namanya banjir juga musibah. Saya sih pasrah. Kalau orang kurang tidur, produksi kortisol tinggi sekali, menghasilkan stress,” keluhnya. Biaya yang ditanggung Heru cukup berat mengingat kendaraan dan rumahnya belum diasuransikan. 

Montir memperbaiki mobil bekas terendam banjir, di salah satu bengkel mobil di Cawang, Jakarta, Senin (6/1). Sejumlah pengusaha bengkel mobil mengalami lonjakan permintaan layanan 30%-50% dibandingkan hari biasa, dari layanan derek, pengeringan kabin dan mesin, hingga penggantian suku cadang mobil yang terendam banjir awal tahun. / Antara Foto

Berkah

Bengkel “Bakara Jaya Motor” di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, meraup untung dari kejadian banjir Tahun Baru tersebut. “Alhamdulillah dapat Rp4 juta. Itu kita buka jam 10 (pagi). Rencana tahun baru tutup, eh hujan. Tutup sayang. Mending buka saja. Biasa kita buka jam 8 (pagi),” ujar montir bengkel, Eddy (20). 

Padahal, bengkel tempatnya bekerja rata-rata hanya mendapat omzet Rp1 juta-Rp2 juta dalam kondisi normal. Bahkan pada saat itu, tiga montir dikerahkan sekaligus dari yang biasanya hanya satu sampai dua montir saja. 

Kasir bengkel, Jimmy (22) mengklaim jumlah motor yang dilayani saat banjir meningkat dibandingkan hari biasanya. “Kurang lebih 20 motor. Lain lagi yang kita tolak,” ungkapnya. Rata-rata bengkel tersebut melayani 15 motor per harinya. 

Jasa layanan cuci kendaraan juga kejatuhan “durian runtuh”. Salah satu di antaranya adalah Car Wash Cuci Mobil 24 Jam di Kemang Utara, Jakarta Selatan. “Alhamdulillah makin ramai. Soalnya banyak motor yang kerendem banjir. Ramai terus,” ujar sang kasir, Cahyo (21).

Dia mengungkapkan, sebanyak 140 motor dan mobil berkunjung ke tempat cuci tersebut ketika tanggal 1 Januari. Bahkan pasca banjir, jumlahnya sempat mencapai 180 motor dan mobil per hari. “Ramai biasanya weekend Sabtu dan Minggu, biasanya 120. Selain itu, 80-90 motor,” tambahnya. 

Cahyo mengatakan biaya cuci motor sebesar Rp18.000, sedangkan mobil sebesar Rp30.000 dalam kondisi apapun. Adapun mobil travel dikenai biaya cuci sebesar Rp70.000 dan mobil L300 sebesar Rp40.000. “Paling (omzet) meningkat Rp1,5 juta (selama banjir),” ungkapnya.

Presiden Direktur Mobil88, Halomoan Fischer Lumbantoruan melihat momen banjir menjadi kesempatan bagi para pengusaha mobil bekas untuk meraup keuntungan. Hal ini dikarenakan pemilik banyak yang menjual mobilnya setelah terendam banjir. 

Mobil bekas banjir biasanya diperbaiki terlebih dahulu, kemudian mobil dijual dengan harga yang tinggi. “Kita enggak pernah beli mobil bekas banjir,” tegasnya melalui sambungan telepon pada Rabu (8/1). 

Berdasarkan pengalaman, dia beralasan kondisi mobil bekas banjir tak pernah normal lagi meskipun sudah diperbaiki. 

Fischer memprediksi akan ada peningkatan penawaran mobil bekas hingga 20% dibandingkan dengan kondisi normal pascaterjadinya banjir. Peningkatan mulai terjadi sekitar tiga pekan pascabanjir setelah pemilik melakukan reparasi mobilnya. 

Ia mengaku perusahaannya memilik Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam membeli mobil bekas yang ditawarkan. Di sisi lain, penjualan mobil bekas selama banjir di Jakarta masih normal.

Fischer menuturkan komponen elektrik dan interior mobil merupakan hal yang paling dikhawatirkan terdampak jika mobil terendam banjir. Menurutnya, kerusakan pada komponen elektrikal mobil menyebabkan performa mobil tidak akan kembali normal. 

Di sisi lain, interior mobil bekas banjir yang diganti estetikanya akan berkurang. “Kebanyakan pedagang mobil yang jam terbangnya cukup, bisa lihat kok yang pernah terendam banjir. Masalahnya, punya moral enggak untuk tidak menipu customer?” terangnya. Ia mengimbau konsumen agar lebih jeli untuk melihat bekas karat dan air sebelum membeli mobil bekas.

Sejalan dengan temuan tersebut, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikurahman mengamini bahwa jasa reparasi kendaraan meraup keuntungan selama banjir di Jakarta. 

“Perbaikan mobil dan kendaraan yang justru sekarang terdampak sangat signifikan. Orderannya makin banyak karena mobil dan motor tenggelam,” bebernya.

Petugas keamanan mengevakuasi tamu hotel saat banjir menggenangi Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Rabu (1/1). Hujan deras yang mengguyur DKI Jakarta membuat sejumlah wilayah di Ibu Kota terendam banjir. / Antara Foto

Mengungsi ke hotel

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta, Krishandi mengakui memang ada pemesanan kamar dari para korban banjir, namun jumlahnya masih lebih kecil dibandingkan dengan pembatalan pemesanan dari luar Jakarta. 

“Iya, secara overall (okupansi) tidak nambah, tapi berkurang. Orang yang kebanjiran itu saya pastikan jarang ke hotel bintang lima. Mereka cari hotel-hotel bintang tiga ke bawah,” ungkapnya melalui sambungan telepon. 

Krishandi mengatakan tingkat okupansi hotel di Jakarta rata-rata di bawah 50% selama peristiwa banjir yang lalu. “(Okupansi) Antara 10%-30% karena awal tahun Jakarta bukan tujuan wisata,” ungkapnya. 

Selain itu, pihaknya melihat para pengunjung hotel mempersingkat waktu bermalam lantaran prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi dalam beberapa pekan ke depan. 

Pihaknya mengaku belum mendata jumlah hotel yang tutup akibat banjir di Jakarta. “Kami tetap mengkhawatirkan cuaca seperti ini (hujan ekstrem) sampai seberapa jauh. Cuma bisa berdoa toh. Mudah-mudahan enggak berlanjut terus, supaya business as usual kembali lagi. Mestinya minggu kedua Januari sudah tampak,” jelasnya.

Sesuai pernyataan Krishandi, peningkatan okupansi nampaknya terjadi pada hotel berbintang tiga ke bawah. Country Marketing Director RedDoorz Indonesia, Sandy Maulana mengklaim adanya lonjakan pemesanan hotel selama peristiwa banjir yang melanda Jakarta. 

Sebagai Virtual Hotel Operator (VHO), pihaknya hanya melayani pemesanan pada segmen hotel bintang tiga ke bawah. “Jumlah penginapan RedDoorz di Jakarta dan sekitarnya berjumlah lebih dari 300 penginapan. Terjadi lonjakan pemesanan di hampir semua penginapan RedDoorz di Jabodetabek,” ungkapnya secara terpisah. 

Tahun Baru, kata dia, memang menjadi musim puncak pemesanan kamar. Namun, adanya banjir di Jakarta menyebabkan lonjakan pemesanan semakin tinggi.

Bahkan, pihaknya menawarkan diskon sebesar 25% hingga tanggal 5 Januari 2020 untuk mengakomodir kebutuhan warga Jakarta yang terjebak banjir. RedDoorz mencatat bahwa para pemesan didominasi oleh warga Jakarta selama periode promo tersebut. 

“Tidak banyak pembatalan, justru banyak penginapan RedDoorz yang full-booked di masa tersebut,” ujarnya. 

Sandy membantah penuhnya kamar hotel disebabkan oleh banyaknya penginapan mitra RedDoorz yang tutup. Namun, pihak RedDoorz belum dapat memberi angka lebih detail terkait lonjakan tersebut.

Pekerja membuang air yang masuk ke dalam toko saat banjir menggenangi kawasan Pasar Baru di Jakarta, Kamis (2/1). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 2 Januari 2020, terdapat 63 titik banjir di wilayah DKI Jakarta dan secara keseluruhan terdapat 169 titik banjir untuk Jabodetabek dan Banten. / Antara Foto

Terpukul

Peneliti Indef Muhammad Rizal berpendapat sektor jasa merupakan sektor yang paling terpukul akibat banjir di Jakarta. Hal ini lantaan kontribusinya yang besar bagi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan III-2019, kontribusi jasa memang cukup besar terhadap PDRB Jakarta yang terdiri dari perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (17,40%), jasa keuangan dan asuransi (10,49%), jasa perusahaan (8,92%), jasa pendidikan (4,98%), penyediaan akomodasi makan dan minum (4,74%), transportasi dan pergudangan (3,67%), jasa kesehatan dan kegiatan sosial (1,67%), dan jasa lainnya (3,94%). 

Menurut dia, banjir yang melanda Jakarta juga berimbas melemahkan daya beli konsumen, meskipun dalam jangka pendek. “Tentu dalam konteks struktur ekonomi DKI Jakarta, apakah secara signifikan menurunkan PDRB DKI Jakarta? Karena short term, dampaknya terhadap PDRB Jakarta tidak signifikan dan angkanya sangat kecil menurunkan pendapatan DKI Jakarta,” terang pengajar Univertas Trilogi tersebut.

Pengusaha ritel turut mengalami kerugian akibat banjir di Jakarta dan sekitarnya. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin mengungkapkan sebanyak 300 toko ritel se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) terpaksa tutup selama banjir yang dianggapnya lebih parah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. 

“Ada yang satu hari banjir, lalu bersih-bersih dan sebagainya. Enggak semua toko tutup besoknya buka, enggak semua,” ungkapnya.

Solihin menjelaskan pihaknya belum bisa memastikan kerugian yang dialami peritel lantaran masih dalam proses rekapitulasi data. Meskipun demikian, Ketua Aprindo Roy Nicholas Mandey dalam pernyataannya mengatakan bahwa potensi kerugian yang dialami anggotanya dapat mencapai Rp960 miliar. Nilai kerugian tesebut berasal dari asumsi belanja per orang Rp100.000 dikalikan dengan jumlah penduduk yang terdampak sebanyak 32.000 orang dan 300 toko ritel yang tutup.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Dody Dalimunthe mengatakan kejadian banjir yang terjadi saat Tahun Baru kemarin berdampak sangat besar bagi properti dan kendaraan bermotor di wilayah Jabodetabek. Sehingga, klaim asuransi risiko banjir kali ini meningkat dibandingkan dengan banjir-banjir sebelumnya. 

“Saat ini AAUI sedang mengkompilasi data-data klaim dari perusahaan-perusahaan asuransi umum,” ujarnya. Dody menjelaskan banyak perusahaan asuransi telah melakukan proses klaim proaktif dengan memberikan informasi pengajuan klaim sekaligus persyaratan-persyaratan yamg harus dilengkapi. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan identifikasi obyek pertanggungan yang mengalami kerusakan, serta mencegah kerugian yang lebih besar.

Senada dengan Dody, Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Asuransi dan Dana Pensiun, Herris Simanjuntak berpendapat jumlah klaim terbesar berasal dari asuransi properti dan kendaraan bermotor. 

Ia memprediksi akan terjadi kenaikan nasabah pemegang polis asuransi pascaterjadinya bencana alam seperti banjir dan gempa bumi. “Peningkatan nasabah saya rasa berkisar 10%,” ungkapnya. 

Herris berpendapat jumlah klaim nasabah individu lebih banyak dibandingkan dengan badan usaha. Namun, dari klaim badan usaha nilainya lebih tinggi dibandingkan klaim individu. 

“Saya rasa (banjir) tidak mengganggu karena kejadiannya sudah diantisipasi dan ada dukungan reasuransi. Selain itu, tidak semua kerugian yang terjadi merupakan insured losses,” jelasnya.

Pemenang Pertama Sayembara Gagasan Desain Kawasan Ibu Kota Negara, desain dengan judul ‘Nagara Rimba Nusa. / Facebook @KemenPUPR

Pemindahan pusat bisnis

Banjir kerap menjadi salah satu alasan pemindahan pusat administrasi pemerintahan dari Jakarta. Namun, Peneliti Indef Rizal berpendapat pemindahan pusat bisnis dari Jakarta bukanlah solusi tepat untuk meminimalkan dampak banjir yang terjadi di Jakarta. 

“Justru sekarang itu challenge-nya adalah antisipasi dulu karena DKI Jakarta jadi center of business level dunia. Di Indonesia ada empat yang besar, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan, sebagai kota yang jadi hub bisnis yang besar,” urainya. 

Alih-alih memindahkan pusat bisnis dari Jakarta, Rizal menyarankan pengembangan pusat-pusat ekonomi baru untuk mengurangi beban Jakarta, sehingga “kue ekonomi” akan semakin merata. Sebenarnya pemerintah sudah mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat ekonomi baru, namun keberadaannya masih perlu dioptimalkan. 

“Misalnya KEK Sei Mangkei (Sumatera Utara) basisnya industri kelapa sawit dan turunanannya seperti oleokimia, bioenergi, dan sebagainya. Mengapa itu tidak dikembangkan dan difokuskan investasinya,” tegasnya. 

Di sisi lain, Rizal mengaku pesimistis Ibu Kota baru di Kalimantan Timur akan mampu menggantikan posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian Indef, pemindahan ibu kota negara hanya memberi dampak peningkatan PDRB terhadap provinsi Kalimantan Timur sebagai lokasi ibu kota baru sebesar 0,24%, Kalimantan Utara sebesar 0,02%, dan Kalimantan Selatan sebesar 0,01%. 

Provinsi lain praktis tidak mengalami pertumbuhan PDRB yang berarti akibat pemindahan ibu kota, sehingga belum mampu “memindahkan kue ekonomi” dari Jakarta. Bahkan, beberapa provinsi akan mengalami penurunan PDRB melalui pemindahan ibu kota, meskipun angkanya sangat kecil.  

“Malaysia sampai sekarang meskipun urusan tata kelola administrasi negara dipidah ke Putrajaya, tapi tetap Kuala Lumpur sebagai pusat bisnisnya. Putrajaya tidak seperti yang diharapkan,” pungkas peraih gelar doktor dari Institut Pertanian Bogor tersebut.

Berita Lainnya