sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Calon Bintara meninggal tak wajar, keluarga duga korban disiksa

Pihak SPN dan Polda Maluku Utara hingga kini tidak memberikan keterangan apa pun tentang kematian korban.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 26 Jan 2021 21:15 WIB
Calon Bintara meninggal tak wajar, keluarga duga korban disiksa

Seorang siswa Bintara Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Maluku Utara (Malut), Muhammad Rian Assidiq (19), meninggal dunia di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Chasan Boesoirie dalam kondisi tubuh dengan luka lebam dan melepuh, Minggu (29/11). 

Ibunda korban, Achmet Kusnawati Muksin, menerangkan, informasi ihwal meninggalnya Rian berasal dari dua lembar laporan atas nama Karo SDM Polda Malut yang dimasukkan dalam kotak uang duka di rumahnya. Rian disebut merasakan sakit parah sejak Kamis (26/11).

Saat jenazah dimandikan, Senin (30/11), Etta, sapaan Kusnawati, menemukan bagian tubuh di bawah pusar dan punggung belakang almarhum melepuh. 

“Kami sekeluarga sangat kaget. Kok, bisa ada seperti ini. Kami mendapatkan ada dua lebam biru. Jadi, kami berkesimpulan almarhum meninggal karena adanya penyiksaan,” ujarnya dalam telekonferensi, Selasa (26/1). Namun, laporan Polda Malut ke Mabes Polri menyebutkan, Rian meninggal dunia akibat epilepsi dan positif Covid-19.

Berdasarkan hasil resume pemeriksaan umum, Rian disebut mengalami infeksi luas yang menyebabkan kegagalan organ dan tekanan darah sangat rendah. Jiwanya terancam akibat infeksi lokal. Seluruh sistem tubuh dalam kondisi parah dan perlu segera memerlukan bantuan medis.

Rian pun didiagnosis mengalami radang otak dan sekitarnya karena pendarahan pada ruangan antara otak dan jaringan yang menutupinya. Namun, dokter belum sempat memeriksa korban secara mendalam karena lebih dulu meninggal dunia.

Ironisnya, keluarga korban tidak pernah memperoleh informasi valid tentang penyebab kematian Rian. “Mereka (dokter) memberikan resep obat yang sulit ditemukan. Ternyata obat itu digunakan untuk mengurangi masalah pendarahan tertentu di otak," tutur Etta.

"(Pihak SPN dan Polda Malut) belum ada (memberikan keterangan) sama sekali sampai sekarang,” sambungnya.

Sponsored

Menurutnya, pihak SPN dan Polda Malut menutup-nutupi insiden tersebut. Dicontohkannya dengan tidak diberikannya akses kepada kuasa hukum korban. "Kasus ini mereka sudah tutup. Itu yang membuat saya kecewa,” tegasnya,

Sebelum bertemu Rian di IGD RSUD, Etta sempat dikabarkan kondisi anaknya sehat. Setelah tiba, ternyata tubuh korban panas dan kejang-kejang. Rian sudah disuntik lima kali dengan dosis semakin tinggi.

Pengasuh Rian dari SPN Polda Mulut berkata kepada Etta, luka-luka di pelipis, lutut, hingga jempol kaki bagian kiri tubuhnya disebabkan terjatuh.

Berita Lainnya