sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Calon tersangka penambang emas ilegal di Lebak menghilang

Polisi sudah berupaya untuk mencari empat calon tersangka tersebut.

Khaerul Anwar
Khaerul Anwar Senin, 10 Feb 2020 12:32 WIB
Calon tersangka penambang emas ilegal di Lebak menghilang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Tak terasa sudah sebulan lebih Kepolisian Daerah Banten melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus penambang emas tanpa izin di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).  Namun kepolisian belum menetapkan tersangka terkait aktivitas PETI yang diduga menjadi biang kerok bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak, beberapa waktu lalu.

Kasubdit IV Tipiter Ditreskrimsus Polda Banten AKBP Joko Winarto, mengatakan, telah mengantongi empat nama calon tersangka penambang emas ilegal di Kabupaten Lebak, yakni, JL, pemilik tempat pengolahan emas di Desa Luhurjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak. ES pemilik lokasi pengolahan emas di Kampung Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak. Sedangkan SY dan TA di daerah Cipanas, Kabupaten Lebak. 

"Dari empat TKP, masing-masing ada lima saksi yang kami periksa. Belum penetapan tersangka tetapi empat nama telah kami kantongi. Mereka itu pengelola," kata Joko saat dikonfirmasi, Senin (10/2).

Joko mengaku tempat pengelolaan emas dan rumah milik keempat calon tersangka tersebut telah didatangi tim dari Bareskrim Polri dan Subdit IV Tipiter Ditreskrimsus Polda Banten. Namun keempatnya sudah tidak ada di rumah masing-masing. Meski demikian, Polda Banten belum menetapkan status Daftar Pencarian Orang (DPO) bagi keempat nama tersebut.

Sponsored

"Kami sudah berupaya untuk mencari empat calon tersangka tersebut, bahkan anggota sampai dua hari dua malam enggak pulang," tuturnya.

Disampaikan Joko, ada sebanyak 310 lubang pertambangan emas ilegal di Kabupaten Lebak. Namun tim Satuan Tugas (Satgas) PETI baru menutup 36 lubang tambang emas. Penutupan lubang terkendala keterbatasan anggaran dan medan yang sulit.

"Terbatas anggaran dan banyak kendala seperti, hujan tinggi, jalan licin pegunungan, dan kondisi tanah yang labil. Belum kami jangkau, karena menjaga keselamatan anggota juga," katanya.

Memetik laba di tengah pandemi corona

Memetik laba di tengah pandemi corona

Selasa, 31 Mar 2020 17:51 WIB
Nasib pekerja informal yang di ujung tanduk

Nasib pekerja informal yang di ujung tanduk

Senin, 30 Mar 2020 06:10 WIB
Berita Lainnya