logo alinea.id logo alinea.id

Cekcok panas RI dengan Malaysia soal kabut asap Karhutla

Menteri Lingkungan Hidup Indonesia dan Malaysia cekcok terkait kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Sabtu, 14 Sep 2019 00:50 WIB
Cekcok panas RI dengan Malaysia soal kabut asap Karhutla

Menteri Lingkungan Hidup Indonesia dan Malaysia cekcok terkait kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengatakan dirinya sudah obyektif terkait fenomena kabut asap yang menyebar hingga ke wilayah Serawak dan semenanjung Malaysia. Fenomena asap ini menyebabkan Siti dan Menteri Lingkungan Hidup Malaysia Yeo Bee Yin cekcok.

"Saya merespons, waktu wartawan tanya, saya bilang harus obyektif dan harus dilihat siklus datanya," kata Menteri Siti saat konferensi pers rapat koordinasi penanggulangan kebakaran di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Jakarta, Jumat (13/9).

Cekcok dengan Yeo berawal dari komentar Siti yang mengatakan bahwa kabut asap yang menyelimuti Malaysia tidak sepenuhnya berasal dari Indonesia.

Kemudian, dalam sebuah unggahan di media sosial Facebook, Menteri Yeo memasukkan data dari ASEAN Specialized Meteorological Center (ASMC), yang menunjukkan jumlah total titik panas di Kalimantan adalah 474, dengan 387 di Sumatera. Sebagai perbandingannya, Yeo menyebut hanya tujuh yang tercatat di Malaysia.

"Biarkan data berbicara," ujarnya dan meminta agar Menteri Siti tidak boleh menyangkal data tersebut, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Kamis (12/9).

Dalam konfernsi pers, Siti menyebut komentarnya terkait kabut asap yang menyelimuti Malaysia merupakan respons atas berita yang ditulis media Malaysia. Dia pun menilai pemerintah Malaysia tidak menangkap persoalan secara obyektif.

"Yang harus dicatat, yang bawa ini ke ruang publik (berita) mereka dulu ya, saya merespons saja," ujar dia.

Sponsored

Setelah diteliti, kata Siti, letak persoalan ialah terkait perbedaan hasil pemantauan satelit antara Singapura, yang kemudian dikutip Malaysia dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMGK). Pemantauan satelit itu terkait kabut asap dari wilayah Sumatera ke Malaysia dari tanggal 3 hingga 7 September 2019.

"Nah ternyata, mereka pakai sistem satelit dan cara menilanya 2.500 feet (kaki) atau sekitar 750 meter ketinggian dari daratan ke udara. Yang kita analisis adalah jarak 350 feet yang mempengaruhi kehidupan, atmosfer namanya," ujar politisi Nasdem ini.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan persoalan muncul karena perbedaan cara pemantauan satelit antara Singapura dan Indonesia. Dia menyebut, Singapura memperbaharui pemantauannya sekali dalam 24 jam, sementara Indonesia setiap jam.

Meski metode pemantauan anatara Singapura dan BMKG dari segi ketinggian tidak sama, namun jika disandingkan, kata dia, hasilnya sama. Yakni terjadi penyebaran asap dari Sumatera ke Malaysia pada tanggal 5 September.

"Dari pengamatan BMKG, pada tanggal 5 jam 3 sore dan jam 4 ada asap dari Kalbar (Kalimantan Barat) ke Serawak. Jam setelah itu tidak ada," tegasnya.