sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dana pencarian lanjutan Lion Air JT 610 berasal dari asuransi

KNKT hanya memberi tenggat waktu selama 10 hari sejak kapal tiba di Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 20 Des 2018 13:46 WIB
Dana pencarian lanjutan Lion Air JT 610 berasal dari asuransi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Pencarian kotak hitam pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat pada 29 September 2018 akan dilanjutkan. Untuk mencari keberadaan kotak hitam dan sejumlah korban lainnya, pihak Lion Air harus merogoh kocek sebanyak Rp38 miliar yang berasal dari asuransi operator. 

Wakil Ketua Komite Nasional Transportasi (KNKT), Haryo Satmiko, mengungkapkan untuk mencari pesawat Lion Air JT610 pihak KNKT sebelumnya memberikan tiga skenario pembiayaan untuk menyewa kapal MPV Everset. Pertama dari asuransi. Kedua, dana kebencanaan khusus dari Kementerian Keuangan. Ketiga, dana khusus dari Kementerian Perhubungan.

"Kapal ini (MPV Everest) sengaja dipinjam dari luar. Untuk meminjam kapal ini tentu biayanya tak murah. Kebetulan, yang cair duluan itu asuransi operator. Jadi, itu yang dipakai untuk membayar sewa kapal," kata Haryo di Jakarta pada Kamis, (20/12).

Dana tersebut berasal dari asuransi operator Lion Air Group yang wajib dikeluarkan sebagaimana Pasal 62 Undang-Undang Penerbangan terkait asuransi. Sesuai jadwal, kapal asal Belanda, MPV Everest ini akan melakukan pencarian selama 10 hari. 

“Mulai hari ini sampai 10 hari ke depan tanggal 20 sampai 30 Desember 2018, Kapal MPV Everest akan beroperasi di Tanjung Karawang untuk pencarian CVR (cockpit voice recorder) dan korban yang belum ditemukan. Proses pencarian ini akan berjalan selama 24 jam non-stop,” katanya.

Haryo menjelaskan, Kapal MPV Everest tiba di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Rabu (19/12) malam. Kedatangan kapal ini diketahui terlambat selama dua hari lantaran tertahan di Johor Bahru, Malaysia karena cuaca buruk.

“Alhamdulillah tadi malam Kapal MPV Everest sampai di Tanjung Priok, dan langsung bergerak ke lokasi yaitu Tanjung Karawang," ujarnya. 

Selama proses pencarian lanjutan ini, kata Haryo, KNKT hanya memberi tenggat waktu selama 10 hari sejak kapal tiba di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Tenggat waktu pencarian diberikan KNKT tidak bisa ditawar lagi. Jika CVR tidak ditemukan selama 10 hari pencarian, KNKT tidak menyetujui adanya penambahan waktu pencarian.

Sponsored

"Kami akan melakukan evaluasi terlebih dahulu, apakah operasi ini diteruskan atau tidak bila 10 hari ke depan belum juga ditemukan," ujarnya.

Demikian pula dengan area pencarian, KNKT menyatakan titik kordinat yang selama ini telah ditetapkan sudah paling optimal. Dengan demikian, area pencarian badan pesawat tidak akan diperluas lagi.

"Area pencarian sudah sangat spesifik, tim telah menentukan lokasi berdasarkan data-data sebelumnya melalui tahap evaluasi. Jadi, meski ada kekhawatiran dari tim akan kemungkinan terjadinya pergeseran lokasi CVR akibat arus ombak dan kemungkinan lainnya, tapi titik koordinatnya sudah fix, tidak akan ada perluasan area pencarian," tuturnya.

Alasan Sewa MPV Everest 

Kapal MPV Everest merupakan kapal tipe Ice Class Multipurpose Construction Vessel. Kapal ini jenis kapal multifungsi canggih yang diproduksi oleh perusahaan swasta asal Singapura, Keppel Singmarine Pte Ltd. 

Menurut catatan Kementerian Perhubungan, kelebihan kapal ini terletak dari alat pencariannya yang mampu menyelam cukup jauh ke dalam permukaan laut. Bahkan sampai mampu menyedot lumpur yang menutupi benda yang hendak dicari oleh kapal.

"Selain itu kapal ini menggunakan mesin Dynamic Position (DP), yang membuatnya tetap stabil saat berhenti di tengah laut meski ada ombak besar yang menghadang," ujarnya.

Kelengkapan alat dan mesin inilah yang menurut Haryo menjadi dasar utama pemilihan Kapal MPV Everest sebagai kapal pencari tahap kedua atas insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Menurut Haryo, lokasi jatuhnya Lion Air JT 610 yang jatuh di laut ini tidak begitu dalam, hanya sekitar 30 meter saja, tapi di dasar sana terdapat pipa Pertamina dan kabel optik bawah laut milit PT Telkom.

“Jadi tidak bisa sembarangan pakai jangkar untuk menstabilkan kapal di atas laut, harus menggunakan DP seperti yang dimiliki Kapal MPV Everest itu," ucapnya.

Kapal MPV Everesyt juga telah dilengkapi dua derek yang canggih dan sangat kuat seberat 50 ton dan 250 ton. Di mana ke dua derek itu nantinya dibutuhkan bila saat tim pencari menemukan badan pesawat yang cukup berat. Maka dari aspek kesiapan peralatan kapal, MPV Everest sudah sangat mumpuni.

"Kapal pencari itu harus punya yang namanya crane di atas 20 ton, karena kalau nanti para tim pencari menemukan podium pesawat yang beratnya kurang lebih antara kira-kira 40 ton, bisa diangkat untuk keperluan investigasi," kata Haryo.

Berita Lainnya