sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ditanya soal Harun Masiku, Mahfud: Enggak tahu!

Mahfud enggan mengomentari dugaan upaya menghalang-halangi proses hukum Harun Masiku.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Kamis, 23 Jan 2020 20:44 WIB
Ditanya soal Harun Masiku, Mahfud: Enggak tahu!
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26940
Dirawat 17662
Meninggal 1641
Sembuh 7637

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, enggan mengomentari dugaan upaya menghalang-halangi proses hukum Harun Masiku.

Mahfud tak banyak berkomentar soal indikasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang diduga menghalangi KPK dalam penyidikan kasus tersebut. 

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menilai masalah tersebut tidak terkait dengan kementerian yang dipimpinnya.

"Enggak tahu. Itu bukan urusan Kemenko Polhukam," singkat Mahfud di Kemenko Polhukam, Kamis (23/1).

Terpisah, Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi melaporkan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H. Laoly, ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Dia diduga merintangi penyidikan (obstruction of justice) kasus dugaan suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR.

Anggota koalisi, Kurnia Ramadhana, menyatakan pelaporan didasarkan pernyataan Yasonna ihwal keberadaan tersangka Harun Masiku yang dianggap tidak sesuai dengan fakta. Sehingga, dianggap menghambat proses penyidikan komisi antirasuah.

"Enggak masuk akal alasan Menkumham. Sebenarnya, sederhana (untuk mengetahui Harun). Mereka tinggal cek CCTV bandara saja, apakah (sesuai) temuan dan pentunjuk Tempo, tetapi itu enggak ditindaklanjuti," ucapnya usai melapor di Gedung Merah, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Imigrasi Kemenkumham, Ronny F Sompie, mengatakan dirinya telah menerima informasi terkait kepulangan Harun dari Singapura. Harun tercatat kembali ke tanah air pada 7 Januari 2020 melalui Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Sponsored

“Saya sudah menerima informasi berdasarkan pendalaman di sistem termasuk data melalui IT yang dimiliki stakeholder terkait di Bandara Soetta, bahwa HM (Harun Masiku) telah melintas masuk kembali ke Jakarta menggunakan pesawat Batik Air pada 7 Januari 2020," kata Ronny saat dikonfirmasi di Jakarta pada Rabu (22/1).

Harun Masiku dikabarkan bertolak ke Singapura pada 6 Januari 2020 tepat dua hari sebelum operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Rabu (8/1) siang. Dia terdeteksi pergi ke Negeri Singa itu melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Harun merupakan penyuap Wahyu Setiawan. Dia diduga telah memberikan sejumlah uang kepada Wahyu untuk memuluskan pergantian anggota DPR RI dari PDIP melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW). Suap kepada Wahyu oleh Harun dibantu mantan anggota Bawaslu, Agustiani Tio Fridelina dan seorang kader PDIP, yakni Saeful Bahri.

Wahyu diduga telah meminta uang sebesar Rp900 juta kepada Harun untuk memuluskan tujuannya. Permintaan itu kemudian dipenuhi oleh Harun. Namun, uang yang diminta Wahyu baru disetorkan sebesar Rp600 juta yang diberikan secara bertahap dalam dua kali transaksi, yakni pada pertengahan dan akhir Desember 2019.

Pada pemberian pertama, Wahyu diduga menerima Rp200 juta dari pemberian Rp400 juta oleh sumber yang belum diketahui KPK. Uang tersebut diterimanya melalui Agustiani di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Tahap kedua, Harun diduga memberikan Rp850 juta pada Saeful melalui seorang stafnya di DPP PDIP. Saeful kemudian memberikan Rp150 juta kepada Doni selaku advokat. Adapun sisanya senilai Rp700 juta diberikan kepada Agustiani dengan rincian Rp250 juta untuk operasional dan Rp400 juta untuk Wahyu Setiawan. 

Namun upaya Wahyu menjadikan Harun sebagai anggota DPR RI pengganti Nazarudin Kiemas yang sudah meninggal takberjalan mulus. Hal ini lantaran rapat pleno KPU pada 7 Januari 2020 menolak permohonan PDIP untuk menetapkan Harun Masiku sebagai anggota DPR lewat mekanisme PAW. KPU bertahan menjadikan Riezky Aprilia sebagai pengganti Nazarudin Kiemas.

Meski demikian, Wahyu tak berkecil hati. Dia menghubungi Doni dan menyampaikan tetap berupaya menjadikan Harun Masiku sebagai anggota dewan PAW. Untuk itu, pada 8 Januari 2020 Wahyu meminta uang yang diberikan Harun kepada Agustina. Namun saat hendak menyerahkan uang tersebut kepada Wahyu, penyidik KPK menangkap Agustiani dengan barang bukti Rp400 juta dalam bentuk dolar Singapura.

Sebagai pihak penerima, Wahyu dan Agustiani disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Lalu, Harun dan Saeful selaku pemberi disangkakan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Berita Lainnya