sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Evaluasi SEA Games 2019: Birokrasi olahraga yang rumit dan anggaran minim

Budiarto Shambazy menilai, ada yang salah dalam pembinaan atlet dan sistem keolahragaan di Indonesia.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Minggu, 15 Des 2019 10:00 WIB
Evaluasi SEA Games 2019: Birokrasi olahraga yang rumit dan anggaran minim
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Pemerintah mengklaim prestasi Indonesia di SEA Games 2019 tidak terlalu buruk. Dengan separuh atlet junior yang dikirimkan, Indonesia mampu melampaui target perolehan medali emas yang diharapkan.

Jika dibandingkan dengan SEA Games edisi sebelumnya di Malaysia, prestasi Indonesia memang lebih baik. Kala itu, Indonesia berada di peringkat kelima. Sementara tahun ini, tim Merah Putih naik satu peringkat ke urutan keempat, dengan perolehan 72 emas, 83 perak, dan 111 perunggu.

Bukan hanya naik peringkat, kontingen Indonesia juga berhasil melampaui target medali dari Presiden Joko Widodo, yang meminta 60 emas. Sayangnya, atlet Indonesia masih belum mampu memenuhi satu permintaan lain, yakni finis di dua besar klasemen.

Meski begitu, prestasi tersebut masih menyisakan kehampaan karena medali yang diraih Indonesia lebih banyak disumbangkan cabang tak terukur. Sementara cabang terukur, seperti akuatik dan atletik, justru belum mampu menunjukkan kejayaan.

Indonesia harus kecolongan banyak medali di dua cabang olahraga olimpiade itu. Pada cabang akuatik, Indonesia hanya mampu menyumbangkan dua medali emas, dari 38 yang diperebutkan.

Hasil tersebut mengantarkan Indonesia tak berkutik di cabang ini karena hanya finis di urutan keenam, sangat tertinggal jauh dengan Singapura yang terlalu digdaya di peringkat pertama dengan perolehan 23 emas.

Begitu juga dengan cabang atletik, yang hanya meraih lima keping emas dari 49 nomor yang dipertandingkan. Hasil tersebut menempatkan Indonesia berada di posisi kelima, tertinggal jauh dengan Vietnam dan Thailand.

Berbicara soal perolehan medali emas pun masih didominasi atlet senior, meski sebanyak 60% kontingen diisi atlet junior.

Sponsored

Di cabang renang, satu-satunya medali emas diraih perenang senior I Gede Siman Sudartawa pada nomor 50 meter gaya punggung. Sementara beberapa perenang junior, seperti Azzahra Permatahani dan Farrel Armandio Tangkas, bisa dibilang sudah tampil gemilang karena mampu menyumbangkan medali perak.

Begitu juga dengan cabang atletik. Lima medali emas itu digondol para atlet senior yang sudah berpengalaman di berbagai kejuaraan internasional, seperti Agus Prayogo (maraton), Hendro Yap (jalan cepat 20 km), Sapwaturrahman (lompat jauh), Maria Natalia Londa (lompat jauh), dan Emilia Nova (lari gawang).

Sementara cabang angkat besi, beberapa atlet junior tampaknya mulai memberikan harapan baru. Sebut saja Windy Cantika Aisyah yang sukses meraih emas di kelas 49 kilogram putri, serta Rahmat Erwin Abdullah yang menyumbangkan satu keping lainnya di kelas 73 kilogram putra.

Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali (kedua kiri) didampingi Menteri PUPR yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI) Basuki Hadimuljono (kedua kanan) dan Ketua NOC Raja Sapta Oktohari (kanan) memberikan bonus prestasi kepada Atlet Atletik Emilia Nova (kiri) pada acara Penyerahan Bonus Atlet Peraih Medali Sea Games 2019 Filipina di Jakarta, Kamis (12/12/2019). Foto Antara/Muhammad Adimaja.

Perlu dibenahi

Menanggapi kondisi ini, jurnalis dan pengamat olahraga nasional Budiarto Shambazy menilai, ada yang salah dalam pembinaan atlet dan sistem keolahragaan di Indonesia.

Alasan tersebut semakin masuk akal karena jika menengok ke belakang, Indonesia yang baru mengikuti ajang SEA Games 1977, mampu langsung menyabet gelar juara umum. Bahkan, prestasi tersebut terulang pada SEA Games 1979, 1981, 1983, 1987, 1989, 1991, 1993, 1997, dan 2001.

Namun, dominasi Indonesia terhenti pada SEA Games 1999, 2001, dan 2003. Saat itu, tim Merah Putih harus puas finish di urutan ketiga. Prestasi tersebut seketika merosot hingga ke posisi kelima pada SEA Games 2005, yang merupakan catatan terburuk di sepanjang pesta olahraga Asia Tenggara itu.

Catatan buruk itu terulang kembali pada SEA Games 2017 Malaysia. Indonesia seakan rapuh tak berdaya dikalahkan oleh tuan rumah, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Budiarto menilai, masalah itu masih mengakar kuat hingga sekarang karena birokrasi olahraga yang terlalu rumit dan anggaran yang banyak tersedot untuk hal yang tidak perlu.

"Terlalu banyak organisasi yang mengurus pembinaan kita, seperti Kemenpora, KOI, KONI. KONI saja itu sampai daerah. Belum pengurus besar setiap cabang olahraga. Harus segera dilakukan penyederhanaan beban organisasi," ujar Budiarto, Minggu (15/12).

"Harus dilakukan reformasi birokrasi olahraga. Jadi, yang mengurus enggak perlu banyak-banyak, disatukan saja. Pemisahan itu konsekuensinya menambah anggaran. Jadi, uang tersedot bukan untuk atlet, tapi pengurus."

Masalah lain yang perlu dibenahi, lanjut Budiarto, adalah dana pembinaan atlet. Ia menilai, anggaran Rp1,95 triliun pada 2019 perlu ditambah agar prestasi olahraga Indonesia juga terus meningkat.

"Satu tahun cuma Rp2 triliun itu sangat kurang. Idealnya tiga kali lipat dari jumlah sekarang," katanya. (Ant).

Berita Lainnya