logo alinea.id logo alinea.id

Dilaporkan ke polisi, Febri imbau tetap kawal seleksi Capim KPK

Febri mengajak masyarakat agar tetap fokus pada isu utama, yakni mengawal seleksi pimpinan KPK.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Kamis, 29 Agst 2019 17:02 WIB
Dilaporkan ke polisi, Febri imbau tetap kawal seleksi Capim KPK

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah, angkat bicara terkait pelaporan atas dirinya ke polisi dengan tuduhan telah menyebarkan berita bohong. Menurutnya pelaporan terhadap dirinya berkaitan dengan proses seleksi calon pimpinan (Capim) KPK.

Diketahui, seorang warga bernama Agung Zulianto melaporkan Febri Diansyah, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati, dan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo ke Polda Metro Jaya.

Agung melapor lantaran ketiganya dinilai telah menyebarkan berita bohong. Laporan itu teregristrasi dengan nomor LP/5360/VIII/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus, tertanggal 28 Agustus 2019.

"Jadi memang benar ada pelaporan sebagaimana yang beredar kemarin, tetapi dari informasi yang beredar terkait dengan proses seleksi (Capim KPK)," kata Febri, di gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (29/8).

Kendati ada pelaporan, Febri mengaku belum mendapat surat pemberitahuan resmi dari Polda Metro Jaya. "Polri juga lembaga penegak hukum akan melihat laporan tersebut berdasar atau tidak. Jadi, silakan saja, tidak terlalu mengkhawatirkan kok laporan tersebut," ujar dia.

Meski begitu, dia mengimbau kepada masyarakat untuk turut terlibat aktif mengawal dan memantau proses seleksi Capim KPK jilid V ini. Menurutnya, keterlibatan publik sangat penting untuk mewujudkan keterpilihan pimpinan KPK yang berintegritas.

"Jadi kami mengajak kita semua tetap fokus pada isu utama yang kita awal saat ini yaitu menjaga KPK dan mengawal proses seleksi pimpinan KPK. Kalau ada upaya untuk memperlemah atau menghambat pengawalan publik terhadap proses seleksi ini maka hal tersebut tidak boleh," tandasnya.

Di tempat yang sama, Ketua YLBHI Asfinawati menilai, laporan tersebut bukan lah barang baru. Menurutnya, pelapor tersebut memiliki hubungan terhadap seseorang yang mempunyai kepentingan dalam proses seleksi tersebut.

Sponsored

"Kalau kita ingat kira-kira 10 tahun yang lalu ada cicak vs buaya. Yang menarik adalah kita bisa mendalami kemudian pelapor ini memiliki hubungan kepada siapa. Kita bisa tahu kepentingan siapa yang sebetulnya sedang terganggu dan coba dibawa oleh pelapor ini," ujar Asfi.

Untuk itu, Dia berpandangan keterlibatan publik sangat penting sebelum Pansel menyerahkan 10 nama Capim KPK kepada Presiden. "Untuk itu kita harus fokus pada pemilihan calon pimpinan KPK yang sedang diproses oleh pansel," kata Asfinawati.