sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Firli disarankan mundur karena terbukti langgar kode etik

ICW menyatakan, pimpinan KPK harus memenuhi syarat-syarat tertentu.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Kamis, 24 Sep 2020 16:11 WIB
Firli disarankan mundur karena terbukti langgar kode etik
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri, disarankan mengundurkan diri karena pelanggaran etik yang dilakukannya cukup menjadi alasan "angkat kaki". Ini sesuai peraturan perundang-undangan berlaku.

Dalam Pasal 29 ayat (1) huruf f dan g Undang-Undang (UU) KPK, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana, menjelaskan, pimpinan lembaga antisuap harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Tidak melakukan perbuatan tercela, cakap, jujur, integritas moral tinggi, dan bereputasi baik, misalnya.

"Tentu Firli Bahuri tidak lagi memenuhi poin tersebut sebab telah dua kali terbukti melanggar kode etik KPK," katanya dalam keterangannya, Kamis (24/9).

Dasar kedua, jelas Kurnia, Ketetapan (TAP) MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa, di mana penyelenggara negara harus mengundurkan diri apabila merasa dirinya telah melanggar kaidah dan sistem nilai. "Ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat, bangsa, dan negara."

Majelis Etik Dewan Pengawas (Dewas) KPK memutuskan Firli bersalah melanggar Pasal 4 ayat (1) huruf n dan Pasal 8 ayat (1) huruf f Peraturan Dewas Nomor 02 Tahun 2020. Keputusan diambil dalam rapat permusyawaratan Majelis, 9 September.

"Menghukum terperiksa (Firli) dengan sanksi ringan berupa teguran tertulis dua, yaitu agar terperiksa tidak mengulangi lagi perbuatannya," kata Ketua Majelis, Tumpak Hatorangan Panggabean, saat membacakan putusan.

"Dan agar terperiksa sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi senantiasa menjaga sikap dan perilaku dengan mentaati larangan dan kewajiban yang diatur dalam kode etik dan pedoman perilaku Komisi Pemberantasan Korupsi," imbuhnya.

Gayung bersambut, kata berjawab. Firli menyampaikan maaf kepada publik atas putusan itu. Juga menyatakan menerima hukuman tersebut.

Sponsored

"Pada kesempatan hari ini, saya memohon maaf kepada seluruh masyarkat Indonesia yang mungkin tidak nyaman dan saya nyatakan putusan saya terima. Saya pastikan saya tak akan mengulangi," janjinya.

Sidang itu diselenggarakan setelah Masyarakat AntiKorupsi Indonesia (MAKI) melaporkan Firli kepada Dewas KPK karena menggunakan helikopter saat perjalanan dari Kota Palembang ke Baturaja, Sumatera Selatan, untuk kepentingan pribadi. Perilaku tersebut dianggap melanggar kode etik, khususnya bergaya hidup mewah.

Berita Lainnya