sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

FPI: Semua kasus hukum Habib Rizieq Shihab sudah SP3

Front Pembela Islam (FPI) menegaskan seluruh kasus hukum yang menjerat Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab sudah dihentikan.

Sukirno  Alfiansyah Ramdhani
Sukirno | Alfiansyah Ramdhani Selasa, 16 Jul 2019 02:14 WIB
FPI: Semua kasus hukum Habib Rizieq Shihab sudah SP3

Front Pembela Islam (FPI) menegaskan seluruh kasus hukum yang menjerat Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab sudah dihentikan.

Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FPI Munarman menegaskan semua perkara yang menjerat Rizieq Shihab sebagai tersangka telah selesai atau sudah mendapatkan surat penghentian penyidikan perkara (SP3).

"Jangan ada pihak-pihak lain atau provokator yang menyatakan pulang saja, nanti ditangkap atau berurusan dengan hukum," tegas Munarman saat ditanyakan soal kapan kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia dalam jumpa pers persiapan kegiatan ijtima ulama jilid 4 di Jakarta, Senin (15/7).

Munarman menjelaskan sejak lama pihaknya berjuangan dan menginginkan kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia, bahkan sebelum pelaksanaan ijtima ulama pertama.

"Habib Rizieq bukan tidak mau pulang, tetapi Habib tidak bisa pulang karena terhalang akibat pencekalan keluar dari wilayah Saudi atas permintaan pihak kita di sini," ucap Munarman, menegaskan.

Munarman mengatakan dirinya sudah beberapa kali menemui Habib Rizieq dan diperlihatkan beberapa dokumen hingga cerita wawancara Habib Rizieq dengan otoritas Saudi, bahwa Rizieq tidak bisa pulang.

"Habib mau keluar tidak bisa, tidak tahu alasannya, pokoknya ada permintaan tidak bisa keluar. Itu salah satu bentuk yang kita sebut ketidakadilan atau kezaliman," kata Munarman.

GNPF tinggalkan Prabowo-Sandi

Sponsored

Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yusuf Muhammad Martak, menegaskan telah meninggalkan pasangan capres-cawapres 02 Prabowo-Sandi.

Dia mengaku tak ada kekecewaan terhadap pertemuan yang dilakukan antara Prabowo dan Jokowi akhir pekan lalu. Kedua calon presiden yang bersaing pada Pilpres 2019 tersebut bertemu dalam rangka rekonsiliasi di MRT Jakarta.

Martak menegaskan akan menggelar ijtima ulama jilid 4. Namun, dia menolak bahwa ijtima ulama itu merupakan respons pertemuan antara Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Presiden terpilih Jokowi. 

Menurut dia, ijtima ulama terlalu kecil jika menyikapi pertemuan Prabowo dengan Jokowi. Sebab, ijtima ulama tersebut akan mengarah kepada kemaslahatan umat, juga negara. Pertemuan antara Jokowi-Prabowo, dinilai sebagai hak dan ia anggap sebagai pertemuan yang biasa-biasa saja serta tak perlu dirisaukan.

“Itu adalah hak dari orang per orang atau kelompok atau siapa pun yang memang menghendaki pertemuan itu,” ujar Yusuf dalam konferensi pers persiapan ijtima ulama jilid 4 yang digelar oleh GNPF bersama Persatuan Alumni 212 di hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat.

GNPF MUI merupakan kelompok yang didirikan saat aksi protes terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kelompok ini kemudian menggelar ijtima ulama jilid 1-3 dan melabuhkan dukungan kepada pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Terkait dukungan terhadap Prabowo, Yusuf mengatakan bahwa GNPF tak lagi berkonsentrasi kepada agenda Pilpres 2019 setelah putusan yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi (MK). 

“Bahwa katanya MK adalah pintu terakhir, berarti kalau mau didukung, mau jadi apalagi? Kecuali kalau mau masuk Indonesian Idol,” ucapnya berkelakar.

Ke depannya, Yusuf tidak akan mengambil sikap atas dukungan terhadap Prabowo sebelum hasil dari ijtima ulama ditentukan. Ia menegaskan, bahwa pergerakan yang dilakukan harus dilandasi amanat para ulama dan habait sebagaimana tindakan yang dilandasi ijtima-ijtima sebelumnya.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum Persatuan Alumni 212, Slamet Maarif. Menurutnya, Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo tidak akan mempengaruhi spirit 212 karena PA Alumni 212 menurutnya sudah lebih dulu ada jauh sebelum pertemuan berlangsung.

Dia pun merasa tak perlu menjawab pernyataan Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyouno pada Minggu (14/07) saat menanggapi kekecewaan pendukung Prabowo atas pertemuannya dengan Jokowi karena ia merasa tidak kecewa.

“Dengan pertemuan kemarin itu sekali lagi, kami senang juga enggak, kecewa juga enggak, biasa-biasa saja. Jadi enggak perlu dijawab, enggak perlu ditanggapi,” kata Slamet. (Ant)