sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gelanggang perburuan vaksin Covid-19: Indonesia siap?

Sejauh ini, Indonesia tengah mengembangkan vaksin lokal yang dinamakan Merah Putih dan kerja sama dengan Sinovac.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Senin, 05 Okt 2020 17:25 WIB
Gelanggang perburuan vaksin Covid-19: Indonesia siap?
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Dunia tengah berlomba menemukan vaksin Coronavirus disease 2019 (Covid-19). China, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman merupakan negara-negara yang gencar mencari obat penawar penyakit pernapasan akibat infeksi virus SARS-CoV-2 tersebut.

Rusia menjadi salah satu negara yang berusaha cepat melakukan pengembangan calon vaksin Covid-19. Melalui The Gamaleya Research Institute of Epidemiology and Microbiology, Rusia mengembangkan vaksin Sputnik V. Rusia bahkan sudah mengklaim Sputnik V sebagai vaksin virus corona pertama di dunia pada Agustus 2020, sebelum mereka memulai uji klinis fase tiga.

Washingtonpost.com edisi 4 Oktober 2020 melaporkan, saat ini Sputnik V sedang menjalankan uji klinis fase tiga terhadap 40.000 sukarelawan. Namun, hak produksi untuk jutaan dosis sudah dijual ke beberapa negara, di antaranya ke India, Brasil, dan Meksiko.

Washingtonpost.com juga menyebut, Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko mengatakan bahwa Sputnik V akan tersedia bagi publik paling cepat pada November atau Desember 2020. Vaksinasi pertama akan dilakukan untuk tenaga medis dan guru.

Masalahnya, di negaranya sendiri, vaksin ini belum mendapat dukungan yang kuat. Washingtonpost.com mengungkap, sebuah jajak pendapat yang diadakan Levada Center Independen pada Agustus 2020 menemukan 54% dari lebih 1.600 responden mengatakan mereka tak siap menjadi sukarelawan untuk vaksinasi.

Di Amerika Serikat, vaksin menjadi salah satu makanan debat calon Presiden Amerika Serikat antara Donald Trump dan Joe Biden. Biden menuduh Trump terburu-buru membuat vaksin.

“Dia memberi tekanan, dan tak percaya dengan ilmuwannya sendiri,” kata Biden menanggapi Trump yang mengatakan vaksin akan siap secepatnya, seperti dikutip dari TheGuardian.com, 30 September 2020.

Salah satu perusahaan pengembangan vaksin Covid-19 di Negeri Paman Sam adalah Moderna Inc, sebuah institusi bioteknologi yang berbasis di Cambridge. Calon vaksin itu dinamakan mRNA-1273.

Sponsored

Dinukil dari Reuters.com edisi 17 September 2020, mRNA-1273 sudah mendekati garis akhir uji coba tahap tiga. Hingga 16 September 2020, Moderna sudah mendaftarkan 25.296 sukarelawan untuk divaksinasi.

China juga termasuk negara yang paling ambisius menemukan vaksin Covid-19. Setidaknya, ada sembilan lembaga yang mencoba membuat vaksin, yakni CanSino Biologics, Sinovac Biotech, Wuhan Institute of Biological Products, Sinopharm Group, Anhui Zhifei Longcom, Institute of Medical Biology at the Chinese Academy of Medical Sciences, Academy of Military Medical Sciences bersama Suzhou Abogen Biosciences and Walvax Biotechnology, dan West China Hospital of Sichuan University.

Dari sembilan lembaga tersebut, Sinovac kini sedang mencuri perhatian. Mengutip artikel “CoronaVac SASRS-CoV-2 Vaccine” yang ditulis Robert Calson di situs web Precisionvaccinations.com, Sinovac membuat kandidat vaksin Covid-19 berdasarkan patogen yang tak aktif, dibuat dengan menumbuhkan seluruh virus di laboratorium dan kemudian membunuhnya.

Strategi itu berbeda dengan banyak cara pengembangan vaksin Covid-19 lainnya, yang melibatkan penggunaan Deoxyribonucleic acid (DNA/asam deoksiribonukleat) atau Ribonucleic acid (RNA/asam ribonukleat) dari calon vaksin mereka.

Kandidat vaksin Sinovac dinamakan CoronaVac. Sejauh ini, tengah dilakukan uji klinis tahap tiga di Brasil dan Indonesia.

Kolaborasi dan buat sendiri

Ilustrasi vaksin corona. Pixabay.com.

Indonesia tak mau ketinggalan memburu dan menemukan vaksin Covid-19, dengan membentuk konsorsium vaksin Covid-19 atas inisiatif Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Indonesia (Kemenristek/BRIN). Calon vaksin itu dinamakan Merah Putih.

Pengembangannya dilakukan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, melibatkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Bio Farma, dan sejumlah perguruan tinggi.

Berdasarkan informasi dari situs web sehatnegeriku.kemenkes.go.id, Indonesia pun melakukan kolaborasi internasional, seperti kerja sama Bio Farma dengan Sinovac, PT BCHT Bioteknologi Indonesia dengan China National Biotec Group Company Limited (CNBG), PT Kalbe Farma dengan Genexine (Korea Selatan), serta PT Bio Farma dengan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

Ketika dihubungi, Kepala Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio berharap pengembangan vaksin Merah Putih terus menunjukkan kemajuan. Ia mengungkapkan, saat ini timnya masih terus memantau perkembangan bibit vaksin di laboratorium Lembaga Eijkman.

“Februari atau Maret 2021 akan bisa diproses di Bio Farma. Lalu uji klinis fase satu, dua, dan tiga bisa dilakukan,” katanya saat dihubungi reporter Alinea.id, Sabtu (3/10).

Setelah lolos semua tahapan uji klinis dan mendapatkan izin resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ujar Amin, Bio Farma akan memasarkan vaksin Merah Putih.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wien Kusharyoto mengatakan, pihaknya sedang mengembangkan kombinasi yang mengandung protein virus SARS-CoV-2.

Ia menyebut, kombinasi itu mirip dengan vaksin yang dikembangkan di Inggris oleh peneliti dari Oxford University dan perusahaan farmasi AstraZeneca.

“Apa pun jenis vaksin yang dikembangkan dan akan dihasilkan untuk kebutuhan di Indonesia harus melalui uji klinis untuk mengetahui efektivitas dan keamanannya,” ujar pemimpin pengembangan vaksin Covid-19 di LIPI itu saat dihubungi, Sabtu (3/10).

Lebih lanjut, Wien menjelaskan, bila efektivitas sebuah vaksin tak mencapai 50% dari standar, maka produk vaksin itu bisa dianggap gagal dan membahayakan.

“Kita juga tidak tahu apakah bisa efektif mencapai herd immunity atau tidak,” kata Wien.

Dihubungi terpisah, Kepala bagian Corporate Communication Bio Farma, Iwan Setiawan mengatakan, pihaknya sedang disibukkan kerja sama dengan Sinovac. Ia menjelaskan, rencananya kapasitas produksi vaksin untuk Indonesia yang dipersiapkan Bio Farma dan Sinovac sebanyak 50 juta dosis.

Sebanyak 10 juta dosis per bulan akan diproduksi mulai November 2020, dan dijadwalkan 10 juta dosis pada bulan berikutnya. Produksi ini berlangsung hingga Maret 2021.

“Bio Farma telah melakukan transfer teknologi dan kontrol kualitas dengan Sinovac,” kata Iwan ketika dihubungi, Sabtu (4/10).

Uji coba klinis fase tiga pun sedang dilakukan Bio Farma dan Sinovac di Bandung untuk melihat efektifitas vaksin CoronaVac. Menurut Dirjen Pencegahan dan Penendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto, atau akrab disapa Yuri, sudah ada 1.089 sukarelawan yang menerima suntikan pertama pada September 2020.

“650 orang sudah mendapat suntikan kedua,” kata dia saat dihubungi, Jumat (3/10).

Seberapa siap?

Ilsutrasi seorang dokter memegang jarum suntik. Pixabay.com

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) Tri Yunis Miko menilai, perlu kewaspadaan dalam pengembangan vaksin. Ia mengatakan, lazimnya proses pembuatan vaksin memakan waktu sekitar lima tahun.

Di Indonesia, Miko menjelaskan, ada sejumlah tahapan sebelum vaksin dipasarkan. Pertama, harus terbukti secara teori. Kemudian, BPOM melakukan uji coba klinis, seperti uji kimia, biologi, dan pada hewan.

“Setelah itu, barulah uji klinis satu sampai tiga. Beberapa fase ini tidak gampang. Harus dilalui semua fase-fasenya,” kata Miko saat dihubungi, Jumat (2/10).

Akan tetapi, ia percaya dengan kemampuan Bio Farma memandu tahapan pengembangan vaksin lokal Merah Putih maupun kerja sama dengan Sinovac. Ia berharap, meski tenggat pembuatan vaksin dipercepat menjadi hanya sekitar dua tahun, hal itu tak menghambat kualitas vaksin yang dihasilkan.

“Bio Farma sudah kapabel untuk memproduksi obat,” ujarnya.

Menanggapi kerja sama pemerintah Indonesia dengan perusahaan farmasi negara lain, Miko mengatakan, hal itu tak bisa dihindari. Sebab, setiap pengembangan vaksin membutuhkan dana yang cukup besar.

“Karena perlu dana besar untuk memproduksi, maka peluang usaha biasanya pasti ada. Sebab, ada biaya yang dikeluarkan,” kata Miko.

Oleh karenanya, ia mengatakan, sangat kecil kemungkinan bagi publik memperoleh vaksin secara gratis. “Masalahnya, kalau digratiskan untuk publik, pemerintah harus bisa membayarkan ke pabrik obat, yaitu Bio Farma. Jadi disubsidi,” kata Miko.

Sementara itu, epidemiolog dan dosen kesehatan masyarakat di University of Derby, Dono Widiatmoko menuturkan, skema distribusi vaksin—baik gratis atau berbayar—tergantung hasil uji klinis BPOM.

Bila hasil uji klinis vaksin memenuhi standar kualitas dan keamanan, pemerintah didorong untuk bisa bersepakat dengan Bio Farma selaku produsen dalam menentukan harga beli vaksin.

Infografik negara pembuat vaksin Covid-19. Alinea.id/Dwi Setiawan.

“Kalau evidence dari pengujian atas vaksin itu menunjukkan hasil enggak bagus, masyarakat dipersilakan beli sendiri. Harganya tergantung pasar,” ucapnya saat dihubungi, Jumat (2/10).

Dengan tawar-menawar pemerintah kepada Bio Farma, Dono berharap ada keberpihakan pemerintah kepada kepentingan keselamatan publik yang lebih luas. Ia mencontohkan, dengan harga satuan vaksin lebih murah, pemerintah dapat membeli lebih banyak untuk menutupi kebutuhan 270 juta penduduk Indonesia.

“Dengan begitu, produsen dapat kepastian untung, sedangkan pemerintah bisa memastikan dapat suplai vaksin dalam jumlah besar,” ujarnya.

Berita Lainnya