sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Geliat akar rumput melawan Covid-19: Sediakan makanan, jadi nakes dadakan

Warga di tingkat komunitas terkecil menggelar beragam inisaitif mandiri untuk menangani pandemi di kawasan mereka.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Sabtu, 17 Jul 2021 12:15 WIB
Geliat akar rumput melawan Covid-19:  Sediakan makanan, jadi nakes dadakan

Hari-hari di awal bulan Juni menjadi masa paling melelahkan bagi Punjul Budiono selaku Ketua Rukun Warga (RW) 11, Cilandak Barat, Cilandak, Jakarta Selatan. Seperti kebanyakan zona merah di ibu kota, jumlah pengidap Covid-19 di RW yang ia kelola meroket tajam dipicu klaster liburan Idulfitri. 

Pada puncaknya, menurut Punjul, total ada 28 orang yang terpapar SARS-Cov-2 di RW 11. Mulanya, hanya warga di kompleks-kompleks perumahan yang terkonfirmasi positif. Belakangan, virus mematikan itu juga menulari warga di permukiman.

Punjul mengaku sempat bingung. Pasalnya, isolasi mandiri sulit dilakukan warga di permukiman padat. Kebanyakan warga di klaster permukiman itu tergolong miskin. Bahkan, ada pengontrak yang tinggal berdua di kamar kosan berukuran 3x3 meter. 

"Kalau salah satunya positif, yang satunya bagaimana? Kami harus cari solusi untuk itu. Kalau mobilitas warga tidak dibatasi, virus bisa  menyebar di lingkungan padat," kata Punjul kepada Alinea.id, Rabu (14/7).

Saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Jawa-Bali diluncurkan pada 3 Juli 2021, Punjul berembuk dengan para pengurus RW 11 untuk mencari solusi persoalan isolasi mandiri bagi warga di permukiman padat. 

Dalam pertemuan itu, disepakati agar sebuah rumah milik warga dialihfungsikan sebagai tempat isolasi mandiri. "Alhamdulillah, di sini ada satu rumah kosong. Kami mencoba meminjam tempat ini untuk kita melakukan isolasi mandiri," kata Punjul. 

Supaya virus tidak menular, Punjul menginstruksikan agar warga yang sedang isolasi mandiri dilarang ke luar rumah. Semua kebutuhan makanan, kata dia, disediakan pihak RW dan RT setempat. "Warga kemudian bergotong-royong untuk membantu saya memenuhi kebutuhan mereka," imbuh Punjul. 

Selain dari kas RW dan RT, duit untuk penanganan Covid-19 juga datang dari sumbangan warga kampung. Sebagian dana, menurut Punjul, dialokasikan untuk membantu bagi warga sehat yang roda perekonomiannya ikut terhenti selama PPKM darurat.

Sponsored

"Bila mereka butuh bantuan, kami support. Yang penting mobilitas mereka bisa dibatasi. Jangan sampai ada orang kelaparan kita enggak tahu atau dia sakit, tapi saya enggak tahu," kata pria berusia 54 tahun itu. 

Punjul mengklaim inisiatif warga itu kini membuahkan hasil. Saat ini, hanya tinggal delapan warga yang masih menjalani isolasi mandiri. Yang lain telah diumumkan negatif. "Mudah-mudahan tidak ada lagi yang masuk dan terpapar," kata Punjul.

Kondisi serupa juga dialami warga di Komplek Griya Caraka, Jalan Cingised, Cisaranten Endah, Kecamatan Arcamanik, Bandung, Jawa Barat. Menurut Ketua RW 05 di Komplek Griya Caraka, Budi Laksono, jumlah kasus Covid-19 di lingkungannya naik signifikan tak lama setelah liburan Lebaran. 

"Dari awal pandemi sampai sekarang itu sudah 110 orang yang kena di tempat kami. Pernah di akhir Juni itu sampai 65 orang. Tapi, sekarang sudah mendekati tinggal 20 orang," kata Sonny, sapaan akrab Budi Laksono, kepada Alinea.id, Rabu (14/7). 

Sonny mengungkapkan sejumlah strategi dijalankan untuk menekan angka penularan, semisal membentuk satgas, memberlakukan akses masuk satu pintu, dan mewajibkan warga yang positif Covid-19 melapor ke RT setempat saat menjalani isolasi mandiri. 

Pihak RW dan RT setempat, kata Sonny, memobilisasi warga untuk urunan dana guna memenuhi kebutuhan warga yang menjalani isolasi mandiri. Selain untuk makanan, dana yang terkumpul juga digunakan untuk membeli tabung oksigen, alat pelindung diri, obat-obatan, dan vitamin. "Ini merupakan komitmen kami untuk merawat mereka," imbuh Sonny.

Dalam proyek mandiri itu, menurut Sonny, sebanyak 12 dokter yang tinggal RW 05 juga dilibatkan. Selain sebagai tempat berkonsultasi, para dokter juga bertugas memantau kondisi kesehatan 450 kepala keluarga (KK) di delapan RT. 

"Ada dokter dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Itu menjadi pegangan saya. Sekarang enggak ada yang ke RS karena bisa ditangani dokter di lingkungan saya. Jadi, dirawat di rumah. Kami tiap hari nyiapin oksigen dan alat lainnya," kata dia. 

Petugas dawis program Jateng Jaga mengunjungi warga di Desa Karangnangka, Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah. /Foto dok relawan Covid-19 Karangnangka

Jaga keluarga, jaga tetangga 

Di Desa Karangnangka, Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah, penanganan Covid-19 berbasis komunitas sudah lahir sejak awal pandemi. Diluncurkan pada April 2020, program itu diberi nama Jateng Jaga alias Jateng Jaga Keluarga dan Jaga Tetangga. 

Kepada Alinea.id, koordinator relawan Covid-19 Desa Karangnangka, Wasis Wardhana mengatakan program itu lahir dipicu kabar adanya warga Karangnangka di perantauan yang meninggal akibat Covid-19. "Pada waktu itu, kami menyadari ini barang bakalan lama," kata Wasis.

Total ada sekitar 4.000 warga yang tinggal di Desa Karangnangka. Di desa yang terdiri dari 16 RT itu, tak ada warga yang berprofesi dokter dan perawat. Tenaga kesehatan (nakes) hanya seorang bidan desa. "Sehingga kami sepakat melibatkan semua unsur warga," kata Wasis. 

Pada praktiknya, penanganan pandemi dilakukan dengan membagi wilayah desa menjadi beberapa klaster komunitas tetangga yang diberi nama dasa wisma atau dawis. Setiap dawis terdiri dari 10 sampai 15 rumah yang saling bertetangga.

Dari setiap dawis, dipilih seorang warga yang ditugasi sebagai pengawas dan dilatih petugas kesehatan di puskemas setempat. Setiap hari, si petugas memantau kesehatan warga di dawisnya via grup WhatsApp dan melapor ke aparat desa secara berkala. 

"Tiga hari sekali, petugas dawis kunjungan untuk memberi edukasi. Data yang didapat dari dawis, membuat kami memetakan status kesehatan di tiap-tiap dawis. Kalau ada yang bergejala, bisa langsung ditangani," jelas Wasis.

Menurut Wasis, memonitor warga lewat dawis lebih mudah ketimbang harus menurunkan petugas dari tingkat RW. Warga juga lebih terbuka bercerita mengenai kondisi kesehatannya karena dekat secara emosional dengan petugas pengawas dawis. 

"Semisal hari ini ada yang batuk dan pilek, ada datanya masuk ke desa. Cara ini juga membantu tenaga kesehatan yang terbatas. Jadi, tenaga kesehatan tinggal liat mana saja dawis yang merah. Ketika ada yang seseorang bergejala mengarah ke Covid-19, kami cepet-cepet koordinasi dengan puskemas," kata dia. 

Warga yang terkonfirmasi positif wajib menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing dengan dipantau Ketua RT dan petugas dawis. Untuk warga yang tergolong tidak mampu, menurut Wasis, kebutuhan makanan dan nutrisi selama isolasi di rumah bakal ditanggung oleh pihak desa. 

Dana untuk penanganan Covid-19, lanjut Wasis, umumnya diperoleh dari kas RT. Setiap RT bisa mengumpulkan hingga Rp 8-10 juta dari iuran rutin. "Dari dulu udah dibiasakan tiap hari ada iuran Rp500. Biasanya uang ini digunakan untuk pembangunan fisik di wilayah RT, entah itu bangun jalan, entah itu perayaan 17 Agustus," kata dia. 

Duit yang terkumpul juga dialokasikan untuk melengkapi para petugas dawis dengan peralatan layaknya tenaga kesehatan profesional, semisal untuk membeli oksimeter, termometer, pengukur tensi, alat pelindung diri, dan obat-obatan.

"Sekarang petugas dawis bisa memeriksa saturasi oksigen, detak jantung, dan lain-lain. Mereka bisa mengisi peran tenaga kesehatan. Dengan adanya dawis, nakes jadi enak. Dia cuma dapat update, si A saturasinya sekian, si B sekian. Maka, nakes bisa memilih mana yang harus jadi prioritas asesmen," kata Wasis.

Berjalan selama lebih dari setahun, Jaga Jateng tergolong efektif memutus mata rantai penularan. Dari sekitar 4.000 warga, tercatat hanya 30 orang yang pernah mengidap Covid-19. Sebanyak 29 orang dinyatakan telah sembuh. "Satu meninggal karena punya komorbid. Dia punya penyakit gula dan sudah lansia," kata Wasis.

Masih mengenakan baju hazmat, sejumlah tenaga kesehatan beristirahat di koridor rumah sakit di sela-sela tugas. /Foto Twitter

Kurangi beban nakes

Epidemiolog dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputro mengatakan pelibatan komunitas efektif memutus mata rantai penularan Covid-19. Ia mengaku heran pemerintah Joko Widodo (Jokowi) tidak mendorong masyarakat terlibat dalam menangani pandemi secara mandiri.

"Yang dikampanyekan itu lebih kepada penyekatan. Saya belum pernah dengar pimpinan atau setingkat menteri, apalagi presiden, mengerahkan patriotisme warganya melalui RT/RW supaya sigap membatasi mobilitas warganya sekaligus menyediakan fasilitas isolasi mandiri untuk membantu negara," kata Hermawan kepada Alinea.id, Rabu (14/7).

Hermawan mengatakan PPKM darurat tidak akan efektif jika masyarakat di akar rumput tidak dilibatkan untuk mengawasi mobilitas warga. Apalagi, jumlah kasus positif Covid-19 harian sudah menyentuh di atas 50 ribu per hari. 

"Kasus hari ini dengan kenaikan 54.000 lebih itu menyebabkan kasus kumulatif 440.000. Kalau terus begini, dua sampai tiga minggu ke depan, walau ada PPKM darurat dan enggak peran masyarakat yang masif, tidak ada artinya," jelas Hermawan.

Dengan membangun ruang-ruang isolasi mandiri dan menyiapkan nakes "dadakan", menurut Hermawan, komunitas di tingkat RT dan RW juga bisa mengurangi beban rumah sakit. "Setingkat RW hidup, paling tidak ada satu ruang rawat isolasi mandiri untuk warganya. Itu akan menambah ratusan ribu tempat-tempat baru," ucap dia. 

Infografik Alinea.id/Bagus Priyo

Pendapat tak jauh berbeda juga diutarakan sosiolog Universitas Indonesia (UI) Ida Ruwaida. Dalam situasi darurat seperti sekarang ini, semua warga di tingkat RT dan RW harus terlibat dalam menangani pandemi. 

"Kondisi darurat ini terjadi karena kontribusi kita juga sebagai masyarakat yang mulai lengah dan anggap enteng Covid-19. Larangan mudik dianggap sebagai aturan yang membatasi dan mengekang, seolah kita lupa bahwa penebaran virus ini mobilitas penduduk," kata Ida kepada Alinea.id, Rabu (14/7). 

Pemerintah, lanjut Ida, tidak bisa menangani semua persoalan yang muncul karena pandemi Covid-19 sendirian. Kerja sama antarsektor perlu dibangun supaya kurva penularan Covid-19 bisa kembali landai dan para nakes bisa berkurang beban kerjanya. 

"Sebab, tanpa ada kepedulian dari berbagai elemen masyarakat, tentu akan ada pihak-pihak yang kelelahan karena seolah bekerja sendirian menangani pandemi," kata Ida. 


 

Berita Lainnya