sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gubernur Jawa Timur minta perketat pengamanan zona hijau

Khofifah meminta warga Jawa Timur mengganti silaturahmi dan halalbihalal secara fisik ke via daring.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Sabtu, 23 Mei 2020 18:40 WIB
Gubernur Jawa Timur minta perketat pengamanan zona hijau
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 29521
Dirawat 18308
Meninggal 1770
Sembuh 9443

Kawasan yang masih terbebas dari paparan coronavirus baru (Covid-19) di Jawa Timur, diminta untuk semakin memperketat barikade. Zona hijau tersebut perlu diamankan dari potensi penularan Covid-19 dengan menghentikan mobilitas manusia dari luar wilayah.

Untuk itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, wilayah zona hijau memerlukan beberapa aturan khusus, agar tetap bisa terjaga dari penularan Covid-19.

“Ada beberapa role model. Misalnya, di Kota Malang dan Kabupaten Malang, mereka punya kampung tangguh. Ada SOP bagaimana mereka menjelaskan kepada tamu-tamu yang akan masuk ke gang dan RW,” ucapnya, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (23/5).

Perangkat tersebut bisa digunakan untuk menolak kunjungan tamu tanpa perlu perdebatan. Apalagi suasana lebaran akan meningkatkan gairah silaturahmi dan berpotensi menyebarkan Covid-19.

“Jangan sampai kemudian, daerah ini tertular dari tamu-tamu yang tidak tahu status mereka OTG (orang tanpa gejala), ODP (orang dalam pengawasan), dan PDP (orang dalam pemantauan). Cara-cara ini harus dijelaskan dengan baik supaya tidak ada ketersinggungan. Terutama karena kita berada dalam situasi tradisi silaturahmi begitu kuat,” ujar Khofifah.

Untuk itu, Khofifah meminta warga Jawa Timur mengganti silaturahmi dan halalbihalal secara fisik ke via daring. Mengingat, penyebaran Covid-19 di Jawa Timur terbilang masih masif. Bahkan, menuntut para perantau mengendalikan kerinduan dan kesabaran dengan menunda mudik lebaran. Khususnya, para perantau dari zona merah penyebaran Covid-19.

“Lebaran tahun ini kita harus sabar dan bisa menahan diri untuk tidak ke kampung dulu. Untuk tidak mudik dulu karena kita berada di daerah episentrum Covid-19. Penyebarannya masif, maka posisi kita adalah orang dalam risiko ini,” tutur Khofifah.

Ia pun mengungkapkan, terjadi peningkatan OTG setiap harinya. Misalnya di Jawa Timur, sebelumnya 21%, kemudian naik menjadi 26%, dan dua hari belakangan sudah mencapai 34% OTG.

Sponsored

Bagi yang telah terlanjur di kampung halaman, ia meminta untuk tidak silaturahmi ke rekan-rekan sejawat, tetapi tetap konsisten disiplin diri. 

Menurut Khofifah, dari 16 Maret hingga 22 Mei, sudah sekitar 460.000 orang yang terlanjur mudik. Bagi mereka telah disiapkan ruang observasi di kampung-kampung. Bahkan 87% kelurahan diklaim telah memiliki ruang observasi selama 14 hari untuk para perantau.

“Mungkin setelah diobservasi, semua akan baik-baik saja, tetapi mereka kangen teman SD, belanja ke pasar, keliling lagi. Mereka yang sudah diobservasi 14 hari pun tidak ada jaminan aman seterusnya. Yang sekarang masih diperantauan. Saya mohon dengan sangat untuk silaturahmi dan halalbihalal secara online. Hari ini, itu pilihan paling bijak,” ucapnya.

Berita Lainnya