sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

IDI: Mayoritas korban meninggal coronavirus karena penyakit lain

"Meskipun tingkat keganasannya jauh lebih rendah dari virus-virus yang terdahulu, virus ini tingkat penyebarannya sangat cepat."

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Kamis, 20 Feb 2020 19:48 WIB
IDI: Mayoritas korban meninggal coronavirus karena penyakit lain
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dr Daeng M Faqih, mengatakan mayoritas pasien positif terjangkit coronavirus tidak meninggal karena virus dengan nama resmi COVID-19. Menurutnya, korban meninggal lebih banyak disebabkan penyakit lain yang telah diidap pasien.

"Kasus meninggal mayoritas bukan murni karena virusnya tapi karena komorbid. Penyakit pendamping. Dia sudah punya sakit, kemudian terinfeksi virus karena punya sakit. Daya tahan tubuh rendah, masuk (coronavirus). Sakit jadi tambah parah," kata Daeng dalam diskusi tentang corona yang diadakan di Jakarta, Kamis (20/2).

Menurutnya, profil pasien meninggal akibat coronavirus juga didominasi oleh orang lanjut usia. Hal ini lantaran virus ini menyerang daya tahan tubuh.

Daeng juga mengatakan, presentase korban kematian akibat coronavirus lebih rendah ketimbang MERS atau flu burung H5N1. Dengan demikian, virus jenis baru ini tidak terlalu ganas jika dibanding virus lain yang menyebabkan wabah ganas sebelumnya.

Hingga Kamis (20/2), coronavirus telah menginfeksi 75.727 orang di 26 negara. Dari jumlah tersebut, 74.578 orang di antaranya terjangkit COVID-19 di China.

Virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China, pada akhir 2019 tersebut telah menyebabkan kematian terhadap 2.129 orang. Adapun 16.526 orang lainnya dinyatakan sembuh setelah menjalani perawatan.

"Meskipun tingkat keganasannya jauh lebih rendah dari virus-virus yang terdahulu, virus ini tingkat penyebarannya sangat cepat. Ini kabar tidak enaknya. Makanya belum beberapa bulan sudah 75.000," kata dia.

Selain itu, kata dia, masalah lain dalam penyebaran virus baru ini adalah karena belum ada vaksin dan obat untuk mencegah dan mengobatinya. (Ant)

Sponsored
Berita Lainnya