sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ini alasan gandeng Lion Air dalam evakuasi WNI dari Wuhan

Hanya Lion Air yang memiliki pesawat dengan kapasitas penumpang besar yaitu, Airbus A330-300.

Nanda Aria Putra Adi Suprayitno
Nanda Aria Putra | Adi Suprayitno Minggu, 02 Feb 2020 07:41 WIB
Ini alasan gandeng Lion Air dalam evakuasi WNI dari Wuhan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto menjelaskan alasan dipilihnya Maskapai Lion Air sebagai mitra untuk mengevakuasi 245 warga negara Indonesia (WNI) dari Kota Wuhan, China.

Dari dua maskapai penerbangan yang memiliki izin terbang ke Wuhan hanya Lion Air yang memiliki pesawat dengan kapasitas penumpang besar yaitu, Airbus A330-300.

"Jadi, kita tahu operator yang berangkat ke sana cuma dua, yang pertama Lion Group dan Sriwijaya Air. Yang kebetulan mempunyai pesawat besar Lion Air, jadi kami kerja sama dengan Lion Air," katanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (1/2).

Selain itu, pesawat yang dimiliki oleh Lion Air dinilai telah memenuhi standar minimum yang dibutuhkan untuk melakukan evakuasi, mulai dari kru, lisensi, dan prosedur operasional yang dibutuhkan.

"Ini adalah misi kemanusiaan untuk memulangkan saudara kita yang di Wuhan, untuk kembali ke Indonesia. Pesawat ini tentunya sudah memenuhi persyaratan dan saya sudah cek langsung," ujarnya.

Penilaian standar pesawat tak hanya dilakukan oleh Kementerian Perhubungan, namun juga oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Luar Negeri.

"Semua harus sesuai dengan kaidah dan persyaratan yang berlaku di Indonesia. Dan ini bukan hanya dari Kemenhub saja, ada dari kementerian lain yang ikut melakukan kontrol atas hal ini," jelasnya.

Pesawat Lion Air Airbus 330-300 terdiri dari 392 seat dan memberangkatkan 42 orang tim evakuasi ditambah sembilan kru pesawat dan dua set pilot menuju Kota Wuhan, China pada Sabtu (1/2) siang.

Sponsored

Pesawat tersebut diberangkatkan sesuai misi evakuasi yang dijalankan pemerintah, usai ditetapkannya coronavirus sebagai penyakit berbahaya global.

Sementara Dosen Bahasa Jepang Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Subandi merasa lega ada upaya evakuasi oleh Pemerintah terhadap 245 Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Cina. Subandi berharap putranya, Brandi Juan Ferero yang sempat tertahan di Central China Normal University (CCNU) karena maraknya coronavirus bisa pulang ke tanah air dengan selamat.

Dia tak mempermasalahkan jika anaknya harus dikarantina terlebih dahulu saat tiba di Indonesia. Baginya proses karantina yang dilakukan pemerintah karena bertujuan baik yakni mencegah adanya penularan coronavirus.

"Kami tidak masalah meskipun dikarantina. Jangan sampai anak-anak tertahan di sana, karena ketakutan masih menghantui setiap saat. Paling tidak kalau anak sudah dekat, kami merasa tenang, "tuturnya, dikonfirmasi, Sabtu (1/2).

Subandi mengaku telah komunikasi dengan anaknya lewat ponsel. Ia berusaha menenangkan putranya, dan memberi motivasi agar senantiasa menjaga kesehatan dengan makan yang teratur.

Putra Subandi menceritakan kondisi di Cina seperti diberitakan media. Banyak toko makanan tutup sehingga terisolasi di asrama. Namun bukan berarti mahasiswa di CCNU tidak bisa keluar. 

Mahasiswa memilih tidak ke luar asrama karena beresiko tertular coronavirus. Mengingat orang yang belanja di supermarket atau tempat pembelanjaan belum tentu steril dari virus yang mematikan itu. Semakin banyak berinteraksi dengan orang, maka semakin tinggi resikonya terkena.

"Kalau ke luar asrama berpotensi bertemu dengan orang banyak di supermarket, tempat pembelanjaan. Sementara orang-orang itu apakah steril atau membawa virus. Ini sangat berpotensi," terangnya.

Berita Lainnya