sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ironi krisis Covid-19 RI: Tak melihat, maka tak takut

Di tengah kian masifnya penularan virus Covid-19, sebagian besar warga kian mengabaikan protokol kesehatan.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Sabtu, 02 Jan 2021 16:48 WIB
Ironi krisis Covid-19 RI: Tak melihat, maka tak takut
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Puncak perayaan malam Tahun Baru 2021 masih sekitar dua jam lagi. Namun, euforia menyambut pergantian tahun sudah terasa di sebuah warung kopi di sebuah perkampungan warga di daerah Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.

Seakan lupa dengan pandemi, sejumlah pemuda dan pemudi memadati warung yang berukuran lebih kurang setengah lapangan bulu tangkis itu. Mayoritas pengunjung tak bermasker. Karena kondisi warung yang sempit, hampir tak ada batas antara pengunjung.

Kepada Alinea.id, seorang pengunjung mengaku terpaksa merayakan pergantian tahun di warkop itu lantaran tak ada kafe yang buka. "Mau ke mana? Kafe tutup semua takut dirazia. Jadi, nongkrong di sini aja deh," ujar pemuda yang tak mau disebutkan namanya itu. 

Jelang malam, warkop itu kian sumpek. Sebagian pengunjung terlihat asyik bermain gim online. Para pengunjung lainnya menanti pergantian tahun dengan bernyanyi bersama. Hingga tahun berganti, tak ada petugas yang membubarkan kerumunan tersebut. 

Malam itu, kerumunan serupa juga terlihat di sebuah taman di tengah sebuah apartemen di bilangan Jakarta Barat jelang pergantian tahun. Belasan orang berkumpul untuk merayakan Tahun Baru mengelilingi sebuah meja besar di pinggir taman. 

Di atas meja, botol-botol minuman bersoda dan kudapan ringan tertata rapi. Sembari menanti pergantian tahun, senar gitar digenjreng. Lagu-lagu populer dinyanyikan dalam kor. 

"Ya, ini kan sekali-kali aja. Yang gabung cuma keluarga dan temen deket aja. Kita juga khawatir kalau kenapa-napa. Amit-amit kalau sampe kena Covid," kata Aceng, bukan nama sebenarnya. 

Aceng menuturkan, pesta kecil itu dibikin dadakan. Awalnya, ia juga berencana merayakan tahun baru di unit apartemen saja sebagaimana instruksi Pemprov DKI. 

Sponsored

"Ada temen yang ngajakin, ya udah kita bikin rame-ramean. Udah lama banget enggak pernah ngumpul gara-gara pandemi ini. Tapi, ya diingetin juga yang ngerasa enggak fit, enggak usah maksain," kilah dia. 

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan Tahun Baru 2021 tergolong sepi di Ibu Kota. Titik-titik berkumpulnya warga semisal Bundaran Hotel Indonesia, MH Thamrin, dan Monumen Nasional ditutup oleh Pemprov DKI. Tidak ada konser, tidak ada kembang api. 

Itu dilakukan karena hingga penghujung 2020 DKI tetap digolongkan sebagai zona merah penularan Covid-19. Pada 31 Desember, jumlah kasus positif Covid-19 di DKI bertambah hingga 2.053 kasus atau tertinggi jika dibandingkan daerah lainnya. 

Sepanjang pandemi, total sudah lebih dari 185 ribu orang terpapar Covid-19 di Ibu Kota. Sekitar 166 ribu dinyatakan sembuh dan sekitar 5.700 lainnya masih dirawat. Sebanyak 3.308 orang meninggal karena Covid-19. 

Ilustrasi petugas pemakaman jenazah Covid-19. /Foto Antara/Reuters

Kematian masih mengintai 

Ibunda Zefry Panjaitan masuk dalam statistik angka kematian itu. Kepada Alinea.id, Zefry mengungkapkan, ibunya meninggal pada September lalu. Ia memperkirakan ibunya terpapar sepulang berjualan sayur di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta Timur, pada 5 September 2020. 

"Padahal, mamah itu sudah taat protokol sejak awal-awal pandemi, pakai masker dan rajin cuci tangan. Setelah kena, kesehatan mamah saya langsung turun cepet banget. Dia nge-drop," kata Zefry saat dihubungi, Kamis (31/12).

Selama tiga hari, ibunda Zefry dirawat. Namun, kondisi kesehatan sang ibunda tak kunjung membaik. Pada hari ketiga, ibu Zefry meninggal. "Mungkin badannya enggak kuat buat nahan serangan virus sebab sudah sakit badannya," ujar pria berusia 35 tahun itu. 

Zefry tinggal di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Sehari-hari, ia bekerja sebagai kepala pemasaran di salah satu perusahaan jual beli mobil bekas di Jakarta. 

Setelah ibunya meninggal, Zefry kian membatasi bertemu orang. Di tempat kerja, ia selalu mengingatkan agar rekan-rekannya patuh protokol kesehatan. Ia tak ingin ada koleganya yang bernasib seperti dia. 

"Saya melihat betul bahaya Covid-19. Makanya saya kasih contoh ke teman saya. Hari terakhir ibu saya, saya tidak bisa melihat ibu saya. Saya hanya bisa melihat ibu saya dari kejauhan saat dimasukkan ke liang kubur," ucap Zefry.

Karena punya pengalaman kehilangan orang terdekat, Zefry mengaku kian cerewet. Ia selalu menegur anak-anak buahnya patuh protokol kesehatan dan tak berkerumun. "Memang berkerumun itu hak manusia. Tapi, kita penting untuk mengingatkan," imbuhnya. 

Berbahayanya Covid-19 juga dirasakan langsung oleh Rany Afrilia, perawat di Rumah Sakit Harapan Bunda, Ciracas, Jakarta Timur. Ia mengatakan, jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit tempat ia bekerja terus bertambah saban hari. 

Pihak rumah sakit, kata Rany, bahkan terpaksa mengakali agar ruangan untuk dua pasien Covid-19 bisa ditempati tiga pasien sekaligus. Pasien bergejala berat juga kian lazim ditangani. 

"Supaya bisa masuk karena memang terjadi peningkatan tiap hari. Banyak yang positif semenjak ada ketentuan rapid antigen," ujar Rany saat dihubungi Alinea.id, Kamis (31/12).

Kerja Rany sebagai perawat kian berat lantaran banyak rekannya yang turut terpapar Covid-19. Hingga Desember, kata Rany, setidaknya sudah ada dua puluh tenaga kesehatan di RS Harapan Bunda yang tertular Covid-19. 

Banyak ruangan di RS tersebut yang ditutup lantaran terindikasi jadi sumber penularan. Petugas kesehatan pun wajib memperketat penggunaan alat pelindung diri (APD). 

"Dulu hanya masker lapis dua aja, masker bedah satu dan N95 satu. Tapi, sekarang tiga lapis masker medis dan masker N95. Karena ini trennya terus meningkat dan ada varian baru virus (Covid-19) juga," tutur Rany. 

Menurut Rany, meluasnya penularan Covid-19 semestinya tidak terjadi jika publik sejak awal taat protokol. Sebagai tenaga kesehatan yang bertugas di garda depan, ia kecewa masih banyak muncul laporan mengenai kerumunan yang tak diantisipasi petugas di lapangan. 

"Dari sudut pandang nakes, polisi seharusnya membantu mencegah kerumunan warga. Seharusnya aparat itu serius membubarkan kerumunan dan melakukan pemeriksaan serta terus mengingatkan orang yang tidak pakai masker," ucapnya.

Warga menjalani tes usap di GSI Lab, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (3/10/2020). Foto Antara/Rivan Awal Lingga.

Tak melihat, maka tak takut 

Sosiolog dari Universitas Indonesia Daisy Indira Yasmine menilai wajar jika masih banyak warga DKI yang abai menjalankan protokol kesehatan saat beraktivitas di ruang publik. Menurut dia, kebanyakan dari mereka belum pernah "bersentuhan" langsung dengan Covid-19. 

"Sebagian cenderung cuek dan berani ambil risiko jika tertular karena mungkin di sekelilingnya, dalam lingkungan terdekat, belum ada yang mengalami gejala dan terdeteksi Covid-19," kata dia kepada Alinea.id, Jumat (1/1).

Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan warga seakan tak takut terhadap Covid-19. Selain lemahnya pemahaman dan edukasi bahaya Covid-19 terhadap warga, menurut Daisy, aturan dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah juga cenderung belum memaksa publik mengubah perilakunya. 

Ia mencontohkan kebijakan pemerintah membuka kembali sejumlah destinasi wisata. Menurut dia, saat diizinkan beroperasi, kebanyakan pengelola tempat wisata belum dilengkapi dengan protokol kesehatan yang mumpuni untuk mencegah potensi penularan Covid-19. 

"Tetap buka, tapi tidak bisa mengurangi jumlah pengunjung untuk mengatur jarak. Aturan yang dibuat masih pada level menuntut warga untuk sekadar patuh, belum sekaligus untuk mengedukasi warga tentang apa yang harus dijaga dalam perilaku sehari-hari dan aturan yang menjurus pada pembentukan perilaku baru," tutur dia. 

Infografis Alinea.id/Oky Diaz

Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo mengatakan lemahnya kepatuhan warga menaati protokol kesehatan saat ini merupakan imbas dari buruknya penanganan Covid-19 pada "periode emas". Apalagi, angka penularan Covid-19 di Indonesia juga tak kunjung turun.

"Di awal-awal, penanganan pandemi tidak kita kerjakan serius. Jadi, masyarakat sudah terlalu lama menunggu. Orang kalau sudah bosan, jadi tidak patuh lagi. Itu karena sudah kelelahan secara psikologis," kata dia kepada Alinea.id, Selasa (2/1).
 
Menurut Windhu, pemerintah juga kerap mengeluarkan kebijakan yang potensial memperluas penularan Covid-19. Ia mencontohkan kebijakan membolehkan warga bepergian asal mengantongi surat keterangan rapid test antigen atau tes polymerase chain reaction (PCR). Menurut dia, mobilitas warga seharusnya dibatasi seketat mungkin saat pandemi.

"Antigen dan PCR itu kan untuk memastikan orang tidak membawa virus supaya tidak menulari orang di daerah tujuan. Tapi, kan orang itu bisa tertular di daerah tujuan. Misalnya, dia pergi ke Jogja. Apa iya orang Jogja negatif semua? Apa pedagang di Malioboro dites antigen? Kan enggak. Jadi, datengnya negatif, pulangnya bisa positif," jelas Windhu. 

Menurut Windhu, Indonesia saat ini masih dalam kondisi kritis. Usai liburan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, ia memprediksi bakal ada lonjakan jumlah kasus positif Covid-19. Ia menyarankan agar pemerintah segera menggenjot tes dan lacak kontak. 

"Kita sebenarnya sedang menunggu efek liburan karena penularan itu terjadi di bawah permukaan yang tidak bisa kita deteksi karena testing rendah. Jadi, lakukan testing dan tracing yang masif dan awasi 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Jika itu tidak dilakukan sekarang, maka akan jadi bom waktu nanti," kata dia. 

Berita Lainnya