sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jakarta berpotensi dilanda gelombang kedua Covid-19

Terdapat tiga indikator untuk kesiapan menuju kenormalan baru.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 26 Mei 2020 14:22 WIB
Jakarta berpotensi dilanda gelombang kedua Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 59394
Dirawat 29740
Meninggal 2987
Sembuh 26667

Tren kasus penularan coronavirus anyar (Covid-19) di DKI Jakarta mulai menurun. Namun, berpotensi terjadi gelombang kedua (second wave) saat arus balik Lebaran 2020 karena tingkat penyebarannya di Jawa Timur (Jatim), salah satu daerah pemudik, mengalami peningkatan.

"Jakarta sudah mulai menurun. Namun, pemudik yang balik nanti bila tidak dicegah, bisa menimbulkan second wave," ucap Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmiko, di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (26/5).

Di sisi lain, dia menerangkan, terdapat tiga indikator kesehatan masyarakat berbasis data dalam menentukan kesiapan menuju aktivitas sosial ekonomi atau kenormalan baru (new normal). Ini sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ketiga indikator adalah gambaran epidemiologi, surveilans, dan pelayanan kesehatan masyarakat. Tren seluruhnya bisa beragam di setiap daerah.

Gambaran epidemiologi meliputi penurunan jumlah kasus positif selama dua minggu sejak puncak terakhir (target lebih dari 50%); penurunan jumlah kasus probable (orang dalam pemantauan atau ODP dan pasien dalam pengawasan atau PDP) selama dua pekan sejak puncak terakhir (target lebih dari 50%); penurunan jumlah meninggal dari kasus positif dan probable penurunan jumlah kasus positif dan probable yang dirawat di rumah sakit (RS); serta kenaikan jumlah pasien positif dan probable sembuh.

"Kalau tidak menurunnya 50% selama dua minggu, belum bisa dianggap baik. Maka dari itu, harus seluruh masyarakat dan pemerintah betul-betul menurunkan kasusnya dengan cara protokol kesehatan tentunya. Kalau diterapkan secara kolektif, akan turun kasusnya. Enggak bisa cuma sebagian orang," tutur Wiku.

Sementara itu, indikator surveilans mencakup dua hal. Jumlah pemeriksaan spesimen meningkat selama dua minggu dan tingkat kasus positif (positivy rate) di bawah 5% serta penurunan mobilitas penduduk dan pelaksanaan penelurusan riwayat (contract tracing) dari setiap kasus positif.

Kemudian, indikator pelayanan kesehatan masyarakat meliputi ketersediaan ruang isolasi/tempat tidur untuk setiap kasus baru di RS dan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis terpenuhi. "(Dan) ketersediaan/kecukupan ventilator di RS untuk menangani kasus Covid-19 berat (asumsi 1% kasus positif)," tutupnya.

Sponsored

Hingga 26 Maret, pukul 09.00, terdapat 6.628 kasus positif Covid-19 di Jakarta. Terdiri dari 1.648 pasien sembuh, 506 meninggal, 2.044 dirawat di RS, dan 2.430 menjalani swakarantina.

Sedangkan di Jatim, ada 3.875 kasus positif Covid-19 hingga 25 Maret, pukul 17.21. Mencakup 506 pasien sembuh, 303 meninggal, 3.047 dirawat, dan 19 dalam konfirmasi.

Berita Lainnya