sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jakarta perpanjang PSBB jilid II selama 2 pekan

Opsi karantina kesehatan dilanjutkan karena kasus di Bodetabek masih meningkat.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Kamis, 24 Sep 2020 17:35 WIB
Jakarta perpanjang PSBB jilid II selama 2 pekan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 396.454
Dirawat 60.694
Meninggal 13.512
Sembuh 322.248

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena masih berpeluang terjadi kenaikan kasus positif coronavirus baru (Covid-19) saat pelonggaran diterapkan. Opsi karantina kesehatan ini diberlakukan selama dua pekan.

"Dalam rapat koordinasi terkait antisipasi perkembangan kasus Covid-19 di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), Menko Kemaritiman dan Investasi (Marives) menunjukkan data, bahwa DKI Jakarta telah melandai dan terkendali, tetapi kawasan Bodetabek masih meningkat. Sehingga, perlu penyelarasan langkah-langkah kebijakan. Menko Marives juga menyetujui perpanjangan otomatis PSBB DKI Jakarta selama dua minggu," ujar Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, dalam keterangannya, Kamis (24/9).

Setelah melonggarkan aktivitas selama 100 hari, Pemprov Jakarta kembali memutuskan PSBB selama dua minggu per 14 September. Langkah ini kali pertama diberlakukan 10 April-4 Juni.

Anies mengklaim, kasus positif dan aktif di Ibu Kota mulai melandai seiring berkurangnya mobilitas warga saat PSBB. Pada 12 hari pertama September, bertambah 3.864 kasus aktif (49%). Dua belas hari berikutnya, bertambah 1.453 kasus aktif (12%).

Dengan begitu, reproduksi virus (Rt) pada awal September di Jakarta sebesar 1,14. Adapun sekarang menjadi 1,10. Artinya, 100 orang berpotensi menularkan virus kepada 110 orang lainnya. Pemprov mengupayakan nilanya di bawah 1,00.

"Pelandaian grafik kasus aktif bukanlah tujuan akhir. Kita masih harus terus bekerja bersama untuk memutus mata rantai penularan," kata bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Sekalipun melandai, jumlah kasus aktif masih bertambah dan perlu menjadi perhatian, terutama menyangkut kapasitas fasilitas kesehatan (faskes).

"Yang juga perlu menjadi perhatian khusus, adalah angka kematian yang masih terus meningkat meski menunjukkan tanda awal pelandaian, yang mana tingkat kematian saat ini sebesar 2,5%," sambungnya.

Sponsored

Guna meminimalisasi risiko penularan, warga diminta tetap beraktivitas di rumah. Hanya bepergian bila perlu sekali dan terapkan 3M (mengenakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan sesering mungkin)," sarannya.

Dia mendorong demikian lantaran kajian tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menyimpulkan, diperlukan minimal 60% penduduk diam di rumah agar wabah melandai. "Saat ini masih sekitar 50% penduduk diam di rumah saja," ungkapnya.

Sedangkan pemprov, lanjut Anies, meningkatkan upaya pelacakan, pengetesan, dan perawatan (tracing, testing, andĀ treatment). Diprediksinya, penambahan kasus harian di Jakarta mencapai 2.000 per hari pada medio Oktober jika aktivitas publik dilongkarkan dan pengetesan seadanya. Sedangkan kasus aktif bakal menembus 20.000 pada awal November.

Hingga 23 September, berdasarkan data pemprov, tes usap (swab test) secara polymerase chain reaction (PCR) di Jakarta telah menjangkau 857.863 orang atau 80.588 jiwa per sejuta penduduk. Dengan demikian, kapasitas tes di Jakarta per minggu lebih dari enam kali lipat standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di mana setiap wilayah idealnya mengetes satu orang per 1.000 populasi setiap pekan.

Di sisi lain, Anies sesumbar, rasio okupansi ruang isolasi dan ICU khusus pasien Covid-19 dapat dijaga meskipun kasus aktif meningkat. Pemprov mengupayakan tingkat keterisian di bawah 60%, sesuai rekomendasi WHO.

Dari 4.812 tempat tidur (TT) isolasi yang tersedia di Jakarta, persentase keterpakaiannya sebesar 81% hingga 23 September. Sedangkan okupansi TT ICU mencapai 74% dari 695 unit.

Berita Lainnya