sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rincian lintasan jalur sepeda fase 2 di Jakarta

Anies menganjurkan, pengendara sepeda memanfaatkan layanan Google Maps. Agar, memudahkan pengendara sepeda.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Minggu, 13 Okt 2019 00:00 WIB
Rincian lintasan jalur sepeda fase 2 di Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI) terus berupaya menekan angka kemacetan dan polusi di ibu kota. Salah satu cara yang dilakukan adalah menggiatkan transportasi sepeda di Jakarta. 

Setelah melakukan uji coba jalur sepeda fase 1, Gubernur Anies Baswedan pada Sabtu (12/10) kembali melakukan uji coba sepeda rute 2. Usai melakukan rangkaian gowes tersebut, Gubernur Anies berbagi tips untuk para pengendara sepeda di Jakarta. 

Anies menganjurkan, pengendara sepeda memanfaatkan layanan Google Maps. Agar, memudahkan pengendara sepeda, mengetahui jalur khusus yang disediakan. 

Gubernur Anies baru saja menjajal rute jalur sepeda fase dua. Rute kedua mulai dari: Fatmawati, Panglima Polim, Sisingamangaraja dan berakhir di Sudirman dengan panjang jalur 23 km.

"Kita ingin mendorong bahwa bersepeda bukan hanya sebagai alat olahraga saja. Tetapi sepeda sebagai kegiatan transportasi. Jadi, kaki kita adalah alat transportasi yang semuanya kita miliki. Kita bisa berjalan kaki atau bersepeda dua-duanya sehat dan tidak menyisakan polusi udara," ujar Anies di Terowongan Kendal Sudirman, Jakarta, Sabtu (12/10).

Pantauan Alinea.id, sepanjang jalur sepeda belum banyak marka menandakan jalur sepeda. Hal ini terlihat di di Jalan Panglima Polim (depan Stasiun MRT Blok M), hingga lampu lalu lintas Universitas Al Azhar.

Kemudian, memasuki Jalan Sisingamangaraja hingga kawasan Stasiun MRT Asean. Sebagian jalur sepeda ditandai dengan marka putus-putus atau mix traffic

Kepala Dinas Perhubungan Syafrin Liputo pun berjanji, akan memberikan tanda untuk jalur sepeda. Namun, sebelumnya jalan tersebut diperbaiki terlebih dahulu, karena permukaan jalanan tidak merata.

Sponsored

"Akan ditempatkan marka hijau, setelah jalur sepedanya dirapikan dari Dinas Bina Marga," ujar Syafrin. 

Syafrin mengatakan, sepanjang jalan tersebut kendaraan bermotor boleh masuk ke jalur sepeda. Alasannya, jalan tak terlalu lebar, lalu akses masuk gedung dan persimpangan. 

Sebagai informasi, marka putih yang solid atau tidak putus-putus artinya jalur tersebut adalah jalur sepeda. Kemudian, marka hijau adalah jalur hanya dikhuskan bagi sepeda saja. 

Dalam pantauan Alinea.id, marka hijau justru mayoritas terdapat di persimpangan jalan. Selain itu, jalur sepeda juga menggunakan trotoar.  

Pejalan kaki dan pengendara sepeda akan berbagi tempat untuk melintas di trotoar. 

Saat memasuki simpang susun Semanggi, jalur sepeda dibuat di jalur lambat. Meski jalan ini tidak begitu lebar, dan kerap macet saat pagi dan sore hari, jalur sepeda tetap akan dibuat permanen. 

"Di bawah kolong Semanggi akan kita permanenkan. Jadi, paradigma bertransportasi sekarang tidak lagi memfasilitasi mobilitas kendaraan. Tapi, kita siapkan sarana mobilitas pendestrian dan sepeda," kata Syafrin. 

Uji coba masih akan dilakukan hingga 19 November 2019. Sehari setelahnya, Anies akan menerbitkan peraturan gubernur khusus jalur sepeda agar memiliki aspek legalitas. Sehingga, pelanggar kendaraan bermotor yang melintasi jalur sepeda permanen akan dikenakan tindak pidana ringan. 

"Yang dikenakan sanksi adalah jalur yang marka putihnya solid. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 2009 tentang LLAJ, pelanggaran jalur sepeda akan dikenakan sanksi tindak pidana ringan berupa pidana dua bulan atau denda maksimal Rp500 ribu," kata Syafrin.