sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Haedar Nashir: Jangan tolak jenazah dan pasien positif Covid-19

Pasien Covid-19, tetap harus diperlakukan dengan penghormataan yang baik.

Achmad Rizki
Achmad Rizki Kamis, 02 Apr 2020 15:22 WIB
Haedar Nashir: Jangan tolak jenazah dan pasien positif Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta, masyarakat tidak menolak penguburan jenazah pasien positif Covid-19. Pasien tersebut, adalah tetap saudara yang harus diperlakukan dengan penghormataan yang baik. 

"Jika, pemerintah dan para pihak telah menetapkan kuburan bagi jenazah Covid-19 sesuai protokol. Maka, tidak sebaiknya warga menolak penguburan. Apalagi, sampai meminta jenazah yang sudah dimakamkan dibongkar kembali dan dipindahkan," kata Haedar melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Kamis (2/4).

Haedar menyayangkan, adanya penolakan jenazah pasien coronavirus yang belakangan ini terjadi di beberapa daerah. Bahkan, menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah, pasien Covid-19 meninggal dunia yang telah berikhtiar dengan penuh keimanan untuk mencegah dan mengobatinya. Maka, mendapatkan seperti pahala orang mati syahid.

Selain itu, Haedar meminta, pasien yang dinyatakan positif Covid-19 dapat disikapi dengan baik, sehingga apabila dikarantina pada satu lokasi atau karantina sendiri di rumahnya, jangan sampai warga menolak. "Aparat setempat agar dengan bijak berikan pemahaman kepada warga dan jangan ada yang ikutan menolak," tegas Haedar.

Sponsored

Dia meminta, semua pihak berkorban dan menunjukkan keluhuran sikap kemanusiaan dan kebersamaan. Warga yang menolak, menurutnya, kurang diberikan pemahaman sehingga terlalu panik serta belum mengerti.

Dalam hal ini, Haedar menyampaikan, peran tokoh dan pemuka agama setempat sangat penting. Dia berharap, semua pihak bisa menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia benar-benar berjiwa sosial, gotong royong, dan religius terhadap sesama. 

"Sikap berlebihan, justru tidak menunjukkan keluhuran budi dan solidaritas sosial yang selama ini jadi kebanggaan bangsa Indonesia," kata dia. (Ant)

Berita Lainnya