sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jasad Suryadi terus keluarkan darah usai ditangkap polisi saat demo

Jasad Mulyana Suryadi terus mengeluarkan darah di bagian telinga, bahkan ketika hendak dikubur ke liang lahat.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Jumat, 04 Okt 2019 10:57 WIB
Jasad Suryadi terus keluarkan darah usai ditangkap polisi saat demo

Maulana Suryadi alias Yadi menghembuskan nafas terakhir. Nyawanya melayang usai ditangkap polisi saat berdemo menolak revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan RUU KUHP yang berujung rusuh pada Rabu, 25 September 2019.

Ibunda Yadi, Maspupah, masih ingat betul ketika anaknya yang berusia 23 tahun itu pamit untuk ikut demo mahasiswa dan pelajar. Maspupah bercerita, sebelum berangkat unjuk rasa, Yadi sempat meminta maaf kepadanya.

“Dia (Yadi) terus mencium tangan saya. Katanya, ‘Maafin Yadi ya Bu’. Terus, cium tangan saya lagi,” kata Maspupah di Jakarta, Jumat (4/10).

Selain itu, kata wanita berusia 50 tahun ini, Yadi juga sempat memijat badan ibunda. Dia tak henti-henti meminta maaf kepada Maspupah. Selesai memijat, Yadi kembali mencium tangan Maspupah. Kemudian Yadi berangkat unjuk rasa bersama temannya, Aldo.

“Temannya baru keluar penjara tuh si Aldo. Dia ditangkap berdua sama Yadi (saat berunjuk rasa). Saya tanya sama Aldo bagaimana kejadiannya,” ujar Maspupah.

Dari cerita Aldo, Maspupah melanjutkan, Yadi dan Aldo ketika itu berada di Flyover Slipi, Jakarta Barat. Keduanya ditangkap polisi yang tengah mengamankan unjuk rasa. Mereka lalu dimasukkan ke mobil. Di dalam mobil ternyata sudah ada beberapa orang. 

“Selanjutnya, Aldo dan Yadi tidak sadarkan diri. Setelah siuman, Aldo sudah berada di dalam penjara. Sedangkan keberadaan Yadi tidak diketahui,” ujar Maspupah.

Sehari kemudian atau pada Kamis (26/9), kata Maspupah, polisi menghubungi dirinya. Ketika itu Maspupah berada di rumah. Ia baru saja pulang kerja. Sekitar pukul 20.00 WIB, Maspupah didatangi delapan polisi yang menumpang dua mobil. Polisi mengajak Maspupah untuk diperlihatkan jasad Yadi.

Sponsored

“Sebelum sampai tempat tujuan, polisi sempat ngajak makan dulu. Tapi saya tak mau. Makasih, karena sudah kenyang. Polisi bilang, 'Maulana sudah tak ada. Sabar ya'. Saya kaget, nangis. Orang dia masih keadaan sehat (waktu berangkat unjuk rasa),” ujar Maspupah.

Maspupah menuturkan dirinya sempat ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, untuk mengurus jasad Yadi. Di sana polisi menyodorkan surat pernyataan mengenai penyebab kematian Yadi. Dalam surat pernyataan itu, kata Maspupah, penyebab kematian Yadi akibat terkena gas air mata dan penyakit asma.

“Abis itu saya dipanggil sama polisi, ke kamar. Polisi ngasih saya amplop buat mengurus biaya jenazah Yadi, Rp10 juta. Saya di situ tak banyak omong, takut,” ucap Maspupah.

Menurut Maspupah, ada yang aneh dari jasad Yadi. Sebab, telinga Yadi terus mengeluarkan darah. Ia sempat menanyakan hal itu kepada petugas kepolisian. Oleh petugas dijawab itu disebabkan karena penyakit asma.

Saat dimakamkan pun, darah masih terus mengucur dari telinga Yadi. Kata Maspupah, tak ada satu pun polisi yang hadir ke pemakaman anaknya. 

Keluarga tak terima

Maspupah mengatakan, dirinya bersama keluarga tak terima jika Yadi tewas karena dipukuli polisi lantaran dituduh ikut berdemo yang berujung rusuh. Apalagi, berdasarkan pengakuan Aldo, Yadi dan temannya itu hanya melihat, tak ikut serta dalam aksi demo.

“Aldo sempat mendekam di penjara selama tiga hari dan dia membantah ikut demo. Dia cerita bukan demo, cuma lihat," tutur Maspupah. “Dunia akhirat, saya tidak terima kalau (anak saya) dipukuli. Tapi, kalau anak saya meninggal karena dari Allah, saya ikhlas.”

Wanita yang bekerja menjaga lahan parkir itu membenarkan, putranya memang mengidap asma karena turunan dari sang ayah yang sudah meninggal. Selama ini, Yadi menjadi tulang punggung memenuhi kebutuhan keluarga. Maspupah pun mengakui terkadang Yadi merasakan sesak nafas saat kambuh.

Sementara Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, sebelumnya mengatakan seorang pedemo yang meninggal saat terjadi unjuk rasa yang berujung ricuh pada Rabu (25/9) merupakan kelompok perusuh.

Tito menegaskan, pedemo yang tewas itu bukan dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Selain itu, Kapolri juga membantah penyebab kematian korban karena tindakan represif aparat dalam menangani aksi massa. (Ant)