Jimmly: Tak perlu 'baper' tanggapi masjid radikal

Riset soal 41 masjid radikal tak perlu direspons berlebihan, sebab itu hanya sebagian kecil dari satu juta masjid di Indonesia.

Jimmly: Tak perlu 'baper' tanggapi masjid radikal Ilustrasi masjid./ Pixabay

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimmly Asshiddiqie angkat bicara terkait riset yang menyebut paparan radikalisme di masjid-masjid negara.

Menurut Jimmly, penemuan tersebut tak perlu ditanggapi berlebihan. Pasalnya, data riset masih terbilang sedikit jika dibandingkan jumlah masjid secara keseluruhan.

"Masjid kan hampir 1 juta. Jadi kalau cuma 41 dikit banget. Kita pun mendengar data seperti itu, tidak usah baper, biasa saja," paparnya di Kantor ICMI Menteng Jakarta Pusat, Rabu (11/7).

Semua pihak, imbuhnya, tak seharusnya bersikap pesimis dengan temuan tersebut. Ada baiknya mengambil sikap optimis dengan mengedepankan kepedulian untuk menjaga masjid agar tak mudah disusupi ideologi radikal.

"Tak usah berlebihan, lebih baik kita benahi saja," imbuhnya.

Tak hanya itu, mantan Ketua MK ini menyarankan pihak terkait untuk tidak mengumumkan data ke masyarakat, karena hanya akan memicun kegaduhan. 

Oleh karenanya, apabila data itu benar, lebih baik itu digunakan untuk pedoman perbaikan dan penyuluhan masjid.

"Itu kan data seharusnya untuk internal, jadi tak usah diumumkan, ngapain diumumkan, bisa menimbulkan masalah. Kalau pun ada itu perlu diketahui, (dijadikan saja) sebagai bahan perbaikan," tuturnya.

Sebelumya, Perhimpunan Pembangunan Persatuan dan Masyarakat (P3M) dengan Rumah Kebangsaan menemukan fakta, banyak masjid di lingkungan intitusi pemerintah terpapar paham radikalisme. Hal itu ditemukan setelah mereka melakukan riset di 100 masjid milik institusi pemerintah, yang terdiri dari masjid BUMN, Lembaga, dan Kementerian.

Hasilnya, dari 100 masjid, sejumlah 41 di antaranya diketahui telah terindikasi dan terpapar berpaham radikalisme.

"Hasil survei menunjukkan bahwa dari 37 masjid BUMN, 21 diantaranya terindikasi radikal dengan persentase (56%). Sementara dari 28 masjid Lembaga, delapan di antaranya terindikasi radikal dengan persentase (30%), dan 35 dari masjid yang ada di Kementeria, dua belas masjid terindikasi paham radikal dengan persentase (34%)," papar Agus Muhammad, Ketua Tim Peneliti P3M di Gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Minggu, (8/7) lalu.

Hasil riset didapat usai mendatangi setiap masjid di Lembaga dan Kementerian, saat salatJumat berlangsung. Lalu mengkaji materi dakwah yang diberikan takmir masjid kala khotbah Jumat dipaparkan.

"Surveyor kami datang dan merekam setiap dakwah yang diberikan ke jamaah tersebut," pungkasnya. 


Berita Terkait