sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jurus tangkal pandemik coronavirus yang misterius

Wabah coronavirus sudah menyebar ke belasan negara di dunia. Jadi ancaman nyata bagi Indonesia.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Rabu, 29 Jan 2020 06:02 WIB
 Jurus tangkal pandemik coronavirus yang misterius
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 392.934
Dirawat 61.851
Meninggal 13.411
Sembuh 317.672

Novel coronavirus atau 2019-nCoV yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China tengah menjadi wabah. Per 28 Januari 2020, The New York Times melaporkan, di China lebih dari 4.515 orang terinfeksi, dan 106 orang meninggal dunia akibat virus yang punya kedekatan dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) ini.

Pandemik virus misterius ini pun menyebar ke seluruh dunia. Dilansir dari The New York Times, terdapat 14 kasus di Thailand, delapan kasus Hong Kong, tiga kasus di Prancis.

Sedangkan Amerika Serikat, Taiwan, Australia, dan Makau masing-masing lima kasus; Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia masing-masing empat kasus; Kanada dan Vietnam dua kasus; serta Nepal, Kamboja, dan Jerman masing-masing satu kasus.

Hingga kini, belum ada laporan kasus coronavirus di Indonesia. Meski beberapa waktu lalu, sempat ada pasien yang diduga terpapar setelah perjalanan dari China, yang dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta.

Setelah itu, ada satu WNI dan WNA China yang dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung, serta seorang turis asal China yang dirawat di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Kota Mataram. Akan tetapi, mereka belum dipastikan positif terinfeksi coronavirus karena masih menunggu hasil laboratorium.

Langkah KemenkesPetugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Pangkalpinang mengoperasikan alat deteksi suhu tubuh atau thermoscan di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Jumat, (24/1/2020). Foto Antara/Anindira Kintara.

Atas kondisi ini, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono berharap masyarakat tidak cemas.

Menurut Anung, World Health Organization (WHO) belum menyatakan 2019-nCoV sebagai bagian dari darurat kesehatan dunia (public health emergency of international concern/PHEIC).

Sponsored

“Hanya disarankan, khususnya bagi China, perlu pengetatan pengawasan,” kata Anung dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (27/1).

Anung mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang dikategorikan bisa berisiko terkena dampak coronavirus. Terutama para penumpang dan awak yang berasal dari China. Mereka disebut sebagai “orang dalam pemantauan” (people under observation).

Ia menjelaskan, pemeriksaan terhadap “orang dalam pemantauan” dilakukan dengan mekanisme memeriksa mereka di laboratorium, mulai dari pemeriksaan fisik hingga anamnese. Per 27 Januari 2020, Anung menyebut, sebanyak 13 orang sudah diperiksa dan masih belum ada yang positif terinfeksi coronavirus.

“Sebelas orang sudah dinyatakan negatif, tiga dua orang lagi masih dalam pemeriksaan,” kata dia.

Merujuk Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCoV) yang dipublikasikan Ditjen P2P Kemenkes, disebutkan bahwa ada empat tahap perkembangan kasus dalam hasil pemeriksaan, yakni pasien dalam pengawasan, orang dalam pemantauan, pasien berkemungkinan terjangkit, dan pasien yang sudah pasti terjangkit.

Selain pengecekan kesehatan, Anas mengatakan, ada kartu berwarna kuning (health alert card) yang diberikan untuk setiap penumpang dan awak penerbangan yang berasal dari China. Kartu tersebut bertujuan untuk memudahkan pemantauan kesehatan, jika seseorang diketahui berpotensi terinfeksi coronavirus.

“Meskipun tidak sakit, kita berikan kartu itu. Berlaku selama dua minggu atau 14 hari,” katanya.

Durasi tersebut berdasarkan masa inkubasi coronavirus, yang berlangsung selama dua minggu. Jika dalam jangka waktu itu kondisi fisik seseorang melemah, bisa dilakukan penanganan taktis dengan merujuk ke rumah sakit.

“Petugas kesehatan bisa mengasosiasikan untuk memberikan perawatan bagi pasien, sesuai dengan riwayat perjalanan dan dugaan terkena coronavirus,” ucap Anas.

Anung menyarankan, masyarakat memperhatikan kebugaran tubuh. Menurutnya, infeksi yang ditimbulkan coronavirus bisa sembuh dengan sendirinya, asal daya tahan tubuh baik.

“Makan cukup, istirahat cukup, olahraga cukup dan teratur,” tuturnya.

Sejumlah penumpang berjalan di area pemindaian suhu tubuh di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Minggu (26/1/2020). Foto Antara/Fikri Yusuf.

Pengawasan pintu masuk

Anung menerangkan, Kemenkes pun sudah berkoordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk melakukan pencegahan di pintu masuk kedatangan penumpang, yakni di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priok.

“Yang paling pertama adalah pengecekan oleh petugas kesehatan bandara, termasuk indikasi bila ada hewan laut, hewan liar, serta riwayat interaksi dengan orang yang terjangkit coronavirus,” ujarnya.

Meski begitu, Anung mengatakan, belum ada imbauan pembatasan atau larangan perjalanan dari Indonesia ke China, dan sebaliknya. Ia menyebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) hanya mengimbau, masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

Di sisi lain, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi juga belum menginstruksikan larangan penerbangan ke China, kecuali dari dan ke Wuhan. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) pun sudah mengeluarkan travel warning ke Provinsi Hubei, China.

Sementara itu, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Bandara Soekarno-Hatta Anas Ma’ruf mengatakan, pihaknya memperketat pengawasan dengan cara memasang mesin thermal scanner, yang bisa mengukur suhu tubuh seseorang. Upaya ini sudah diterapkan sejak pekan pertama Januari 2020.

Cara lainnya, mengawasi tanda para penumpang yang tergolong “orang dalam pemantauan”. Salah satu tanda kemungkinan terpapar coronavirus, bila suhu tubuh penumpang sama atau melebihi 38 derajat Celsius.

“Bila diketahui demikian, kita akan segera merujuk penumpang tersebut langsung ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan pengambilan sampel darah dan perawatan,” kata Anas saat dihubungi reporter Alinea.id, Senin (27/1).

Selain suhu tubuh, seseorang perlu mendapat pengecekan lanjutan jika batuk, pilek, gangguan pernapasan, serta pneumonia ringan hingga berat.

“Bisa saja orang itu tidak demam, tetapi bila ditemui gejala sesak napas, perlu kita berikan penanganan sebagai people under observation,” kata Anas.

Rumah sakit rujukan untuk penumpang yang diduga terdampak coronavirus, antara lain RSPI Sulianti Saroso, RSPAD Gatot Subroto, dan RSUP Persahabatan. Tiga rumah sakit tersebut, kata Anas, memiliki ruang isolasi dan fasilitas berstandar internasional.

Risiko kematian

Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat mengontrol ruangan khusus untuk wabah Virus Corona di Ruangan Isolasi Infeksi Khusus Kemuning Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), di Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/1/2020). Foto Antara/Novrian Arbi.

Menanggapi usaha pemerintah, dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan Jakarta Diah Handayani menilai, upaya pemindaian suhu tubuh seseorang di pintu masuk kedatangan penumpang di bandara dan pelabuhan adalah langkah awal yang cukup efektif.

Diah mengatakan, penumpang yang tergolong ”orang dengan pemantauan” perlu diperiksa lebih detail dan menyeluruh.

Merujuk pada standar perawatan pasien terinfeksi virus berbahaya, Diah menyebut, dibutuhkan rontgen rangkap untuk membaca risiko adanya diagnosis pneumonia.

“Pantauan dan pemeriksaan perlu disediakan lebih ketat dan teliti,” ujar Diah saat dihubungi, Selasa (28/1).

Dihubungi terpisah, Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Erlang Samoedro menyebut, penyebaran coronavirus punya kecepatan yang nyaris setinggi virus MERS dan SARS. Namun, efektivitas coronavirus yang menimbulkan kematian, relatif lebih rendah.

“Hanya 4%-5% peluang coronavirus bisa menimbulkan kematian. Itu masih di bawah risiko akibat SARS yang menyebabkan kematian hingga 10% dari keseluruhan kasus. Sedangkan MERS risikonya sekitar 8%” katanya saat dihubungi, Senin (27/1).

Meski demikian, Erlang mengingatkan, kerja coronavirus berpotensi memperlemah kondisi fisik seseorang, yang sudah punya riwayat penyakit tertentu. Coronavirus, ungkap Erlang, juga memperbesar risiko kematian orang usia lanjut.

“Risiko kematian akan lebih besar pada orang tua, dibandingkan orang berusia muda yang relatif lebih sehat,” ujarnya.

Menurut Diah, 2019-nCoV adalah virus yang mengganggu sistem pernapasan manusia. Selain batuk dan pilek, gejala lain dari coronavirus yang membahayakan keselamatan seseorang ialah pneumonia.

“Pada pneumonia tingkat tinggi bisa membuat infeksi dan peradangan hingga di seluruh tubuh,” ucap Diah.

Bila pneumonia ringan tidak segera diatasi, kata Diah, bisa bertambah parah menjadi pneumonia berat dan pneumonia seksis. Pada penderita pneumonia tingkat seksis inilah inflamasi atau peradangan terjadi.

“Cara hidup coronavirus dengan membelah diri yang sangat cepat, sehingga mudah menyebar dengan cepat pula,” tuturnya.

Belajar dari flu burung

Sebelum wabah coronavirus, dunia pernah beberapa kali mengalami pandemik virus. Pada 2003, ada flu burung atau H5N1. Infeksi flu burung pada manusia pertama kali terjadi di Hong Kong pada 1997, dengan jumlah kasus 18 orang, enam di antaranya meninggal dunia.

Virus ini pun jadi ancaman di Indonesia. Pada 2012, WHO melaporkan, dari 349 kematian karena flu burung di seluruh dunia sejak 2003, sebanyak 155 di antaranya terjadi di Indonesia. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah korban H5N1 tertinggi di dunia.

Menurut Ketua Pelaksana Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) 2006-2010, Bayu Krisnamurthi, sewaktu menangani kasus flu burung, ia membentuk jejaring yang didukung beberapa peneliti dari Lembaga Eijkman dan sejumlah kampus, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Udayana (Unud), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia mengklaim, berhasil menurunkan jumlah pasien yang diduga dan terinfeksi flu burung.

Maka, menghadapi kasus coronavirus, Bayu menyarankan pemerintah dan masyarakat untuk bekerja sama mengaktifkan jaringan informasi antara Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kemenkes dan peneliti di sejumlah universitas.

Bayu menuturkan, jaringan Litbang Kemenkes memiliki ahli laboratorium yang sangat baik. Selain itu, lembaga-lembaga riset yang tergabung di dalam jaringan itu sangat mampu menyikapi pandemik.

Komnas FBPI sudah dibubarkan pada 2010. Namun, kata Bayu, peran anggota jejaring komisi nasional itu bisa diaktifkan kembali. Hal ini diperlukan, mengingat peluang coronavirus menyebar luas di wilayah Indonesia cukup besar.

“Wilayah Indonesia itu besar dan luas, pintu masuknya banyak. Maka kesiapan perlu dilakukan tidak hanya di Jakarta, tapi juga di daerah-daerah, seperti Denpasar, Surabaya, Medan, Manado, dan Pontianak,” ucap mantan Wakil Menteri Perdagangan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II itu saat dihubungi, Senin (27/1).

Lebih lanjut, Bayu mengatakan, jaringan itu juga bisa difungsikan untuk mendukung penyaluran informasi yang tepat dan teruji secara ilmiah. Sebab, belum ada obat untuk coronavirus. Maka, menurutnya, perlu dilakukan penelitian mendalam terkait virus itu.

Infografik coronavirus. Alinea.id/Dwi Setiawan.

 

“Indonesia memiliki pakar-pakar yang sangat mumpuni di bidang ini. Laboratorium di beberapa rumah sakit juga telah cukup kuat untuk melakukan berbagai analisa,” ucapnya.

Di sisi lain, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH Kementan) Fajar Sumping Tjatur Rasa mengungkapkan, ketika wabah flu burung terjadi, pihaknya menggelar upaya investigasi dan identifikasi virus untuk mengetahui penyebab kematian unggas.

Melalui cara itu, kata Fajar, Direktorat Kesehatan Hewan Kementan mendapat data adanya virus influenza H5N1, yang termasuk dalam tipe highly patogenic.

Dibandingkan kasus penularan flu burung lewat unggas, penanganan penyebaran coronavirus kemungkinan sangat berbeda. Ia menerangkan, coronavirus tidak terkait langsung dengan hewan ternak.

Akan tetapi, Fajar mengaku, saat ini masih mengkaji lebih jauh dugaan penyebaran coronavirus dari daging hewan ternak.

“Kami sementara ini melakukan kewaspadaan dini, berkoordinasi dengan petugas di Kantor Kesehatan Pelabuhan dan bandara, dengan memperketat pengawasan terkait ekspor-impor bahan hewan ternak,” kata Fajar saat dihubungi, Senin (27/1).

“Jika benar penyebaran coronavirus dari hewan ternak, maka kami nanti melakukan pembatasan arus hewan ternak dari luar negeri.”

Berita Lainnya