sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kasum TNI: Penyelesaian persoalan Papua libatkan banyak pihak

Hubungan diplomasi juga dijalankan agar dapat mengurangi tensi antara angkatan bersenjata dari negara lainnya untuk menghindari perang. 

Soraya Novika Khaerul Anwar
Soraya Novika | Khaerul Anwar Senin, 07 Okt 2019 17:22 WIB
Kasum TNI: Penyelesaian persoalan Papua libatkan banyak pihak

Kepala Staf Umum TNI Letjen TNI Joni Supriyanto memastikan, kondisi di wilayah Wamena, Papua, mulai kondusif. 

"Permasalahan Papua kami selesaikan dengan melibatkan stakeholder, bahkan kementerian luar negeri ikut andil mendekati negara di Asia Pasifik, agar tidak mendukung separatisme di Papua," ujar Joni dalam diskusi di Gedung Pakarti Center, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (7/10).

Joni merinci, pihaknya berupaya mempertahankan Papua melalui bantuan Kementerian Luar Negeri.

"Kami berkoordinasi dengan negara tetangga untuk tidak mendukung perjuangan Papua Merdeka. Contoh, kami melobi Papua New Guinea (PNG) agar tidak mendukung kegiatan separatis. PNG kan dari segi persenjataan sangat minim. PNG meminta dibantu amunisi untuk meriam penghormatan,dan kita punya. Makanya kita bantu mereka di situ. Hal-hal seperti ini jadi lobi dan diplomasi kita, untuk kepentingan bangsa dan negara," tuturnya.

Hubungan diplomasi juga dijalankan agar dapat mengurangi tensi antara angkatan bersenjata dari negara lainnya untuk menghindari perang. 

"Kami membangun kekuatan militer, pada saat yang sama juga mengadakan pertemuan dengan negara di ASEAN. Mulai dari tingkat staf, satuan operasi, patroli di kawasan Malaka, dan dengan negara di ASEAN +3. Itu selalu dilakukan untuk mengurangi tensi antara angkatan bersenjata di wilayah Papua," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, belakangan ramai diberitakan terkait kerusuhan di Wamena. Kerusuhan tersebut terjadi bermula dari aksi unjuk rasa yang dilakukan siswa berbagai sekolah pada 23 September 2019.

Nahasnya, aksi demonstrasi berujung rusuh hingga terjadi pembakaran rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan sejumlah kios milik masyarakat.

Sponsored

Hal itu diakui perantau asal Banten yang telah kembali ke kampung halaman, Muntal (42). Muntal mengaku melihat langsung awal kerusuhan di daerah tersebut.

Pria yang telah merantau di Wamena selama 13 tahun itu, mengaku, kerusuhan bermula dari tawuran pelajar, sekitar pukul 09:00 WIT di jalan raya dekat kantor Bupati. Waktu itu, dia baru akan pergi bekerja. Namun, tak lama berselang massa membakar kios dan ratusan mobil.

"Saya mau berangkat kerja. Saya melihat tawuran pelajar. Saya kira efeknya tidak lama atau tawuran pelajar biasa, tapi ternyata banyak aksi pembakaran di wilayah tersebut," kata Muntal kepada wartawan di Pendopo Gubernur Banten, Senin (7/10).

Setelah kondisi kerusuhan di daerah tersebut semakin brutal, perantau asal Ciruas, Kabupaten Serang itu, menambahkan, ribuan penduduk baik perantau dan warga setempat langsung mengungsi ke Kodim dan Polres Jayawijaya hingga Masjid dan Gereja. Kerusuhan mulai kondusif pada pukul 15:00 WIT.

Muntal mengaku tinggal selama enam hari di pengungsian untuk mengantre proses evakuasi dari Wamena ke Jayapura. Proses evakuasi yang diprioritaskan adalah perempuan dan anak-anak.

"Kesulitan karena evakuasi diperkirakan dua hari evakuasi ke Jayapura dengan Hercules, kebetulan saya laki-laki makanya mengantre lama. Prioritas Hercules perempuan dan anak-anak. Saya kebagian enam hari," katanya.

Namun belakangan aparat kepolisian, menyampaikan informasi adanya ujaran rasial seorang guru kepada siswanya tersebut, merupakan kabar bohong alias hoaks.