sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kata Kemenkes soal kematian 33 lansia di Norwegia usai divaksin

Calon penerima vaksin Covid-19 perlu jujur pada tahap pemeriksaan atau screening.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Senin, 18 Jan 2021 16:34 WIB
Kata Kemenkes soal kematian 33 lansia di Norwegia usai divaksin
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Sebanyak 33 penghuni panti jompo di Norwegia meninggal dunia setelah disuntik vaksin Covid-19 buatan Pfizer. Badan Kesehatan Norwegia menyatakan, kematian puluhan lanjut usia (lansia) tersebut tidak terkait langsung dengan vaksinasi. Melainkan karena sebagian dari mereka memang dalam kondisi kesehatan yang telah menurun dan diperkirakan tidak lama lagi meninggal dunia.

Menanggapi fenomena itu, Juru bicara vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) memang perlu diteliti lebih lanjut. Jika diduga akibat efek samping dari vaksin Covid-19, jelas dia, maka harus ditelusuri apakah yang bersangkutan memiliki komorbid (penyakit penyerta).

Jadi, sambung dia, calon penerima vaksin Covid-19 perlu jujur saat proses pemeriksaan atau screening. Pasalnya, pada tahap ini kelayakan calon penerima vaksin Covid-19 akan dicek.

“Saat screening, tekanan darahnya tinggi, lebih dari 140/90 mmHg, ini bukan berarti orang tersebut tidak akan mendapatkan vaksin. Dia akan mendapatkan vaksin nanti setelah tekanan darahnya terkendali. Dibawah 140/90 mmHg,” tutur dr. Nadia dalam diskusi bertajuk ‘Jaminan Keamanan Vaksin Covid-19’ bersama Alinea.id, Senin (18/1).

Berbeda dengan Norwegia, Indonesia menggunakan vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang selama uji klinis memiliki beberapa efek samping dengan kategori ringan hingga sedang. Efek samping ringan berupa nyeri, iritasi, hingga pembengkakan.

Sementara itu, efek samping sistemik berupa nyeri otot, fatigue (kelelahan), hingga demam. Untuk efek samping kategori berat, dapat sebabkan sakit kepala, gangguan kulit, hingga diare. 

Namun, jelas dia, frekuensi efek samping berat disebut hanya terjadi sebesar 0,1-1%. Efek samping vaksin Covid-19 tidak berbahaya dan bisa segera pulih kembali.

“Jadi, vaksin yang kita gunakan ini jelas-jelas jenis vaksin yang berbeda dengan yang digunakan di Norwegia. Jadi, setiap vaksin akan memberikan efek samping yang berbeda. Jadi, tidak bisa disamakan. Tidak apple to apple,” tutur dr. Nadia.

Sponsored

Untuk vaksinasi tahap awal, jelas dr. Nadia, sekitar 150.000 tenaga kesehatan (nakes), dikecualikan komorbid, setelah melewati tahapan screening berdasarkan data rekam medis. Jadi, sekitar 1.650.000 nakes yang akan divaksin jumlahnya telah berkurang karena ada yang tidak lolos screening.

Nakes memang termasuk dalam kelompok prioritas pertama disuntik vaksin. Mereka dinilai memiliki risiko tinggi terpapar Covid-19 dan berperan penting dalam penanganan pandemi. Untuk lansia, vaksin Covid-19 akan disuntikkan menunggu tahapan selanjutnya.

“Kalau di luar negeri, lansia itu ada yang nomor satu, karena lansia itu sangat-sangat rentan untuk meninggal. Yang paling rentan menjadi berat (gejalanya) dan meninggal adalah lansia. Makanya, banyak yang lansia dulu. Kita belum. Karena vaksinnya yang belum boleh untuk lansia (menunggu data-data penelitian/uji klinis lengkap),” ucap Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Cissy Kartasasmita dalam diskusi bertajuk ‘Jaminan Keamanan Vaksin Covid-19’ bersama Alinea.id, Kamis (14/1).

Berita Lainnya