sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kebahagiaan yang dipetik Joni dari memanjat tiang bendera

Joni Gala mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena keberaniannya memanjat tiang bendera.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Senin, 20 Agst 2018 21:12 WIB
Kebahagiaan yang dipetik Joni dari memanjat tiang bendera
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 70736
Dirawat 34668
Meninggal 3417
Sembuh 32651

Yohanes Andekala Marcal Lau alias Joni Gala, siswa kelas VII SMP Negeri Silawan, Atambua, Nusa Tenggara Timur, tak menyangka aksi spontannya memanjat tiang bendera, membuka begitu banyak kebahagiaan. 

Pendidikannya terjamin hingga jenjang Strata 1 (S1), setelah PT PLN memberinya beasiswa. Sejumlah instansi lain juga memberinya beasiswa untuk menjamin pendidikannya nanti. Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto juga memberinya prioritas untuk menjadi tentara, sebuah cita-cita yang diidamkan Joni.

Joni tengah berbaring karena sakit perut di tenda kesehatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), saat tali bendera putus dalam upacara kemerdekaan HUT RI ke-73 tahun 2018, di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. 

Saat itu petugas pengibar bendera sudah siap melakukan pengibaran bendera. Bendera Merah Putih sudah dibentangkan. Namun tali yang seharusnya mengait bendera, justru melesat  ke ujung tiang.

Para peserta upacara terperangah. Tanpa dikomando mereka sama-sama berseru "Aaah". Joni yang mengetahui hal itu, langsung melepas sepatu dan masuk ke lapangan. Ia kemudian memanjat tiang setinggi 20 meter tersebut. 

Separuh perjalanan memanjat, Joni sempat berhenti. Wakil Bupati Kabupaten Belu JT Ose Luan, yang menjadi pembina upacara, sempat memintanya turun. Namun kemudian ia lanjutkan hingga puncak dan meraih tali. 

Orang-orang bersorak dan bertepuk tangan. Joni hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya saat kembali menjejak tanah. Seorang pria membawanya kembali ke luar lapangan.

Di akhir upacara, Joni mendapat apresiasi. Selain dielu-elukan dan maju ke panggung, ia diburu sejumlah peserta upacara. Mereka ingin bertemu dan berfoto bersama bocah pemberani itu.

Sponsored

Namun yang menginginkan pertemuan dengan Joni tak cuma orang-orang yang berada di lapangan upacara di Motaain hari itu. Pada Sabtu (18/7) keesokan harinya, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengundangnya ke Jakarta. Joni yang datang bersama kedua orangtuanya, kemudian diajak menyaksikan opening ceremony Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno.

Hari ini, Senin (20/8), Jokowi bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Menurutnya, apa yang dilakukan Joni mengingatkan pada peristiwa insiden Hotel Yamato pada 10 November 1945 silam.

"Ini mengingatkan kepada peristiwa pertempuran di Surabaya, saat pemuda-pemuda menyobek bagian Biru bendera Belanda di atas Hotel Yamato, sehingga tersisa warna Merah dan Putih. Kalau sekarang, semangatnya bagaimana agar bisa mengibarkan kembali Merah Putih agar Indonesia semakin maju," kata Mendikbud.

Selain itu, Joni juga diundang ke Istana Negara menjadi tamu Presiden Joko Widodo. Ia mengaku senang dapat bertemu dan bersalaman dengan Jokowi.

Joni meminta sepeda saat ditanya Jokowi apa yang diinginkan darinya. "Kamu ini jauh-jauh dari Belu kok hanya minta sepeda? Apa hanya itu?" tanya Presiden.

"Minta bikinin rumah saja," jawab Joni.

"Sudah itu saja, sepeda sama rumah? Dah, jangan nanti saya tanya nambah lagi nanti," kata Jokowi. 

Mungkin ada peserta upacara lain, yang hadir dalam upacara di lapangan Motaain, iri dengan ganjaran yang diterima Joni atas aksinya memanjat tiang bendera. Mungkin ada pula yang menyesal mengapa tidak mengambil inisiatif tersebut.

Namun itulah salah satu kelebihan yang diapresiasi dari tindakan Joni. "Ini apa yang dilakukan Joni, sesuatu yang membahayakan dan harus diingatkan, tapi itulah keberanian dan pengorbanan tanpa pamrih," kata Jokowi.

Berita Lainnya