sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Keluarga korban yang meninggal menolak autopsi

Humas RSUD Tarakan dr Reggy S Sobari mengaku belum mengetahui penyebab luka secara. Aapalagi keluarga korban menolak autopsi

Eka Setiyaningsih Khaerul Anwar
Eka Setiyaningsih | Khaerul Anwar Rabu, 22 Mei 2019 12:50 WIB
Keluarga korban yang meninggal menolak autopsi

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat, memastikan ada dua korban meninggal di rumah sakit tersebut. Keduanya merupakan bagian dari korban bentrok antara aparat dan peserta yang memprotes hasil Pemilu 2019 di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta. 

Korban meninggal pertama berinisial AN (17), asal Jembatan 5, Tambora, Jakarta Barat. AN meninggal dengan luka tembak di dada. Satu korban lainnya belum diketahui identitasnya. Korban Mr AA  itu meninggal dengan luka tembak di leher dengan luka bulat.

Humas RSUD Tarakan dr Reggy S Sobari mengaku belum mengetahui penyebab luka kedua korban. Apalagi keluarga korban menolak melakukan autopsi. "Ada luka bentuk bulat. Keluarga kedua korban keberatan autopsi. Belum tahu penyebabnya apa, tapi tidak ada proyektil," kata Reggy pada wartawan di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5).

Jenazah AN sudah dibawa pulang oleh keluarga. Sementara jenazah Mr AA masih berada di rumah sakit.

Selain korban meninggal, di rumah sakit ini ada 8 korban luka berat dan sebagian lagi luka ringan. Sebanyak 79 orang dari 120 korban sudah diizinkan pulang.

"Luka berat patah, saya tidak lihat persis karena dibawa ke ruang operasi. Terakhir banyak korban yang jam 04.30 WIB," ujar Reggy.

Sementara itu, Abdul Aziz (17) asal Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, dikabarkan meninggal saat mengikuti aksi demonstrasi menolak Pemilu 2019 di depan kantor Bawaslu RI, Selasa (21/5) malam.

Johani, orang tua korban, menjelaskan anaknya itu pamit ke Jakarta pada Senin (20/5) lalu untuk berkunjung ke rumah saudara dan mengikuti reuni bersama kerabat. Aziz merupakan salah satu santri pondok pesantren di daerah Kuningan, Jawa Barat. “Dapat kabar tadi pagi dari Pak Lurah,” kata Johani kepada wartawan, Rabu (22/5).

Sponsored

Pada saat meminta izin ke Jakarta, Aziz tidak mengatakan ikut aksi people power menolak Pemilu 2019 di Jakarta. Sebelum berangkat, korban hanya meminta doa kepada kedua orang tuanya.

Keluarga berharap jasad korban bisa segera dibawa pulang untuk dimakamkan. "Sekarang masih ada di Rumah Polri Sakit Kramatjati, Jakarta. Belum bisa dipulangkan. Padahal sudah ada penjamin di sana dari pihak keluarga. Tapi belum bisa dipulangkan," kata Johani.