sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ketika anak merespons bencana yang dihadapinya

Sejumlah anak-anak menyuarakan harapan agar pemerintah dapat berperan lebih besar ketika terjadi bencana.

Ghalda Anisah
Ghalda Anisah Rabu, 19 Agst 2020 17:53 WIB
Ketika anak merespons bencana yang dihadapinya

Selama pandemi Covid-19 yang terhitung dari April hingga Juni, terdapat 734 bencana alam di tanah air. Yang berarti ada delapan kejadian bencana setiap harinya. 33% dari populasi yang terpapar oleh bencana di Indonesia adalah anak-anak. 

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap bencana sehingga angka kematian pada anak selalu meningkat. Berdasarkan survei dari Save the Children pada 2019, ada tiga kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang satu hingga dua anak yang tidak mengetahui bagaimana cara menyelamatkan diri dari bencana, termasuk penyebaran Covid-19.

Lantas seperti apa respons anak-anak atas bencana yang dihadapinya?

Sejumlah anak-anak menyuarakan harapan agar pemerintah dapat berperan lebih besar ketika terjadi bencana.

“Disediakan pusat informasi yang terpercaya dan mudah di akses, khususnya yang ramah anak,” ujar anak korban bencana asal Sulawesi Selatan Aul, pada webinar “Dialog Dengar Suara Anak Untuk Penyempurnaan RUU Penaggulangan Bencana”, Rabu (19/8).

Aul merekomendasikan hal itu agar anak terhindar dari berita hoaks mengenai bencana yang menimpa mereka.

Rekomendasi selanjutnya yaitu, melakukan pemulihan psikologi anak pascabencana agar mencegah munculnya gangguan psikologis pada anak. Pasca bencana, banyak anak merasa cemas, dan terjadinya sedikit gangguan pada pola pikir dan prilaku. 

“Pasca bencana, banyak anak-anak yang trauma akan kejadian bencana, oleh sebab itu ketika anak mendengar suara gemuruh dan sejenisnya mereka akan merasa cemas, takut, bahkan membuat detak jantung berdebar lebih dari biasanya. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pemulihan psikologi pasca bencana.” Ujar Dea perwakilan suara anak dari Sulawesi Selatan. 

Sponsored

Harapan anak-anak dalam penanggulangan bencana juga diwakilkan oleh Shafira dari Jawa Barat. Sharifa berharap anak dapat dilibatkan secara aktif dalam pendidikan, kesiapsiagaan/penanggulangan bencana, terutama di desa masing-masing. 

Kemudian terdapat payung hukum dan penanggung jawab yang jelas untuk pendidikan kesiapsiagaan bencana dikalangan anak/remaja. Terakhir adanya tindakan tegas bagi mereka yang melanggar UU Penanggulangan Bencana dan memperbesar resiko ancaman berencana. 

Berita Lainnya