sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ketua KPK: Ibadah kurban momentum menyembelih tabiat tamak

Ibadah kurban seyogianya menjadi momentum untuk menyembelih tabiat tamak.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Jumat, 31 Jul 2020 11:15 WIB
Ketua KPK: Ibadah kurban momentum menyembelih tabiat tamak
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 135123
Dirawat 39290
Meninggal 6021
Sembuh 89618

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK) Firli Bahuri mengatakan, Iduladha sebaiknya diperingati sebagai momentum menyembelih tabiat tamak. Seperti binatang, tabiat tamak manusia pada hakikatnya merupakan wujud nyata ketidakmampuan mengontrol keinginan. Sehingga, menjadi rakus dan kehilangan moral.

“Ibadah kurban seyogianya menjadi momentum untuk menyembelih tabiat tamak. Sifat binatang yang sejatinya ada, namun terpendam dalam diri setiap manusia,” ujar Firli dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7).

Jika dikaitkan dengan perilaku koruptif yang berurat akar di negeri ini, maka mengamalkan esensi tauladan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail bisa membantu pemberantasan korupsi. Ia pun menjelaskan, pemberantasan korupsi bisa terlaksana secara holistik, integral sistemik, dan sustainable jika mengamalkan tauladan Nabi Ibrahim dan Ismail, ditambah tiga strategi pemberantasan korupsi KPK. Yaitu, pendekatan pendidikan masyarakat untuk membangun mindset antikorupsi, pencegahan bertujuan menghilangkan kesempatan dan peluang korupsi, serta pendekatan penindakan.

“Insya Allah menjadi solusi terbaik agar Indonesia cepat terlepas dari laten korupsi yang menggurita di negeri ini. Indonesia yang bersih dari korupsi bukanlah hanya menjadi mimpi tetapi terwujud nyata Indonesia bersih dari segala bentuk korupsi,” tutur Firli.

Firli mengingatkan, korupsi bukan hanya kejahatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara, tetapi juga tergolong kejahatan kemanusiaan. Sebab, telah masuk sampai fase berjejaring yang mana berdampak sangat destruktif pada setiap tatanan kehidupan umat manusia.

“Hebatnya kejahatan ini dapat dilakukan secara sistimatik, terstruktur dengan dampak sistemik,” ucapnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan, korupsi terbukti dapat menciptakan fantasi, mendorong kreativitas calon-calon koruptor untuk beradaptasi, dan berinovasi. Bahkan, memodifikasi modus-modus baru kejahatan korupsi, agar tidak terungkap apalagi tertangkap saat mereka beraksi.

Menurut Firli, sudah sepatutnya menjadikan perayaan Iduladha tahun ini sebagai momentum kebangkitan melawan hasrat dan nafsu jahat korupsi. Dan semuanya harus dimulai dari diri sendiri.

Sponsored

“Bukan penyembelihan hewan kurban kambing ataupun sapi yang menjadi esensi dari perayaan Iduladha Keikhlasan, pengorbanan, dan konsistensi untuk tidak korupsi adalah esensi dari makna kurban yang seharusnya terpatri dalam setiap hati sanubari seluruh anak bangsa di negeri ini,” ujar Firli.

Berita Lainnya