sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

KLHK sebut luas area karhutla 2020 turun

Berdasarkan hasil pantau via satelit NOAA, turun 7.830 hotspot (87,54%).

Andi Adam Faturahman
Andi Adam Faturahman Selasa, 29 Des 2020 17:14 WIB
KLHK sebut luas area karhutla 2020 turun

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim, luas area kebakaran lahan dan hutan (karhutla) selama 2020 turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pun demikian dengan tingkat titik panas (hotspot).

“Tahun ini, kita diberikan kemudahan meskipun dalam suasana sulit karena kita diberikan cuaca yang mendukung sehingga pengendalian karhutla jauh lebih ringan dibanding tahun 2019,” kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan LKHK, Basar Manulang, saat telekonferensi “Kaleidoskop Kebencanaan 2020 dan Prediksi Fenomena serta Potensi Bencana 2021" yang disiarkan di kanal YouTube BNPB Indonesia, Selasa (29/12).

Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mendeteksi 1.114 hotspot pada confidence level 80% rentang waktu 1 Januari-28 Desember 2020. Periode sama tahun sebelumnya mencapai 8.944 hotspot. Dengan demikian, berkurang 7.830 titik (87,54%).

Sedangkan satelit observasi bumi milik NASA, Terra dan Aqua, mencatat sekitar 2.565 hotspot di provinsi rawan karhutla pada confidence level 80% rentang 1 Januari-28 Desember 2020. Periode sama tahun sebelumnya mendeteksi 29.337 hotspot. Dus, turun 26.772 titik (91,26%).

"Jika dibandingkan dengan periode 1 Januari-Desember 2019, di situ tercatat luas karhutla sebesar 1.649,258 hektare. Tahun ini sampai dengan tanggal 20 Desember, itu tercatat 296.757 hektare. Berarti ada penurunan sebesar 82,01% dibandingkan dengan tahun lalu," imbuh Basar.

Adapun sebaran karhutla, susut 98% di Jambi, Riau 83%, Sumatera Selatan 99%, Kalimantan Barat 59%, Kalimantan Selatan 97%, dan Kalimantan Tengah 79%. Selain itu, tidak ada asap lintas batas akibat imbas bencana ini selama 2020.

Menurutnya, cuaca serta integrasi semua instansi pemerintahan, perguruan tinggi, masyarakat, dan media menjadi salah satu faktor yang mendukung tercapainya keberhasilan menanggulangi karhutla. Kemudian, kebijakan pencegahan seperti patroli terpadu.

Berdasarkan catatan KLHK, Manggala Agni di tingkat tapak, TNI-Polri, dan masyarakat telah melakukan patroli di 822 desa, yang terbagi dalam 267 posko di masing-masing provinsi. Riau, misalnya, 34 posko dan menjangkau 64 desa serta 31 posko di Kalbar dan menjangkau 128 desa.

Sponsored

"Kita juga ada patroli mandiri, yaitu pasukan kita Manggala Agni di tingkat tapak di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi ada 34 daerah operasi. Jadi, patroli mandiri tahun ini sudah kita lakukan di 776 desa rawan karhutla di Indonesia,” urai Basar.

Faktor berikutnya, tambahnya, dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta kerja sama beragam pihak, seperti Badan Meteorlogi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG); Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT); serta TNI, khususnya Angkatan Udara.

Teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga dianggap juga berperan. Dicontohkannya dengan curah hujan di Riau selama 2013-31 Mei 2020 mencapai 157 milimeter (mm) usai internvensi TMC, padahal prediksi BMKG hanya 121,8 mm. "Berarti terjadi peningkatan curah hujan sebesar 22,42%," ucapnya.

"Kalau dibandingkan dengan curah hujan historikal, data dari BMKG itu tercatat 100,5 milimeter, tapi setelah kita melakukan intervensi rekayasa cuaca, ada peningkatan curah hujan sekitar 35,99%," tutupnya.

Berita Lainnya