sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Saling tuding soal penembak pendeta di Papua, Komnas HAM dalami fakta

Kasus penembakan pendeta menjadi modal untuk mengevaluasi berbagai kekerasan di Papua.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 22 Sep 2020 14:23 WIB
Saling tuding soal penembak pendeta di Papua, Komnas HAM dalami fakta
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 365.240
Dirawat 64.032
Meninggal 12.617
Sembuh 289.243

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan mengusut kematian pendeta Yeremia Yanambani yang tewas tertembak di Kabupaten Intan Jaya, Papua, Sabtu (19/9).

Komisioner Komnas HAM Bidang Pemantauan dan Penyelidikan M. Choirul Anam mengatakan, serangkaian kekerasan bersenjata yang terjadi di Intan Jaya, Papua sepanjang medio 2020 ini telah menelan korban sipil dan TNI. Pihaknya mencatat ada delapan korban dalam tiga bulan terakhir.

“Komnas HAM memberikan perhatian terhadap kasus penembakan Pendeta Yeremia tersebut dan akan melakukan pendalaman terhadap fakta-fakta yang terjadi. Komnas HAM dan Kantor Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua telah memulai mengumpulkan berbagai informasi untuk kasus Pendeta Yeremia dan kasus-kasus lain yang telah terjadi sebelumnya,” tutur Choirul dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).

Menurutnya, pengusutan tuntas kasus penembakan pendeta Yeremia ini penting untuk menjawab kesimpangsiuran informasi tentang pelaku penembakan. Hingga saat, sejumlah pihak, saling tuding soal pelaku penembakan pendeta tersebut.

Disisi lain, sambung dia, juga dapat memberikan sudut pandang yang komprehensif dalam memahami situasi kekerasan yang kerap terjadi di Intan Jaya, Papua.

Choirul menambahkan, pengusutan tuntas kasus penembakan pendeta Yeremia bakal menjadi modal untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai kekerasan yang terjadi di Papua dan Papua Barat. Bahkan, diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi secara keseluruhan dari segi manajemen keamanan.

Choirul juga mengingatkan, pendekatan kekerasan dengan alasan atau latar belakang apapun tetap akan melahirkan pelanggaran HAM. Pendekatan kekerasan juga berpotensi akan melahirkan kekerasan berikutnya.

“Oleh karenanya Komnas HAM menyerukan penghentian kekerasan khususnya kekerasan bersenjata agar perdamaian berwujud di Papua,” ucapnya.

Sponsored

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menuding aparat TNI sebagi pelaku penembakan. Tudingan itu berasal dari keterangan seorang pemimpin gereja di Papua. Dijelaskan pula, pendeta Yeremia masih hidup setelah tertembak, tetapi kemudian ditusuk sampai meninggal dunia.

Disisi lain, Kepolisian Daerah Papua dan TNI menuding pelaku penembakan pendeta Yeremia adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang ingin memancing perhatian global jelang sidang umum PBB pada akhir bulan ini.

Kontak senjata antara TNI dengan kelompok bersenjata semakin tegang dalam sepekan belakangan. Puncaknya, ketika Pratu Dwi Akbar dari Yonif 711/RKS/Brigif 22/OTA yang ditugaskan ke Intan Jaya sebagai persiapan pembentukan Koramil baru tewas ditangan kelompok bersenjata.

Berita Lainnya