sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

KPAI: Sekolah masih bingung gelar KBM tatap muka

Hanya satu dari 21 sekolah yang dipantau KPAI siap melaksanakan KBM tatap muka saat pandemi.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 12 Agst 2020 10:26 WIB
KPAI: Sekolah masih bingung gelar KBM tatap muka
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 266845
Dirawat 60431
Meninggal 10218
Sembuh 196196

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, banyak sekolah belum siap melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka di tengah pandemi coronavirus baru (Covid-19). Pangkalnya, tidak memiliki infrastruktur fisik hingga prosedur operasional standar (standard operation procedure/SOP) yang mumpuni.

Berdasarkan hasil pengawasan KPAI di 21 sekolah, hanya satu satuan pendidikan yang memiliki kesiapan infrastruktur hingga SOP, dari pintu gerbang, kelas, saat istirahat, hingga tempat ibadah. Sementara itu, banyak sekolah belum membentuk Gugus Tugas Covid-19.

"Melindungi anak bukan dengan zona, tapi dengan persiapan pencegahan bahaya penularan yang ketat. (Sayangnya) mayoritas sekolah masih bingung mempersiapkan apa saja untuk menuju kenormalan baru, mereka butuh bimbingan dan pengawasan," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8).

Pengawasan tersebut dilakukan di berbagai wilayah, seperti Bekasi, Bogor, Depok, Bandung, Subang, Tangerang, Tangerang Selatan, DKI Jakarta, NTB, hingga Bengkulu. Menyasar sekolah dasar (SD) hingga menengah atas/kejuruan (SMA/SMK).

Karenanya, KPAI menyesalkan sikap pemerintah yang memperlonggar syarat KBM tatap muka saat adaptasi kebiasaan baru (AKB)–yang diputuskan empat kementerian–dengan dalih desakan para orang tua akibat ketidakefektifan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Apalagi, sambung Retno, KPAI mendapati penularan Covid-19 di tiga sekolah dan lima pondok pesantren (ponpes). SARS-CoV-2 menjangkiti siswa/santri dan tenaga pendidik.

Penularan itu mengenai 51 santri di Ponpes Gontor 2 Ponorogo, Jawa Timur (Jatim); lima guru ponpes di Kota Tangerang, Banten; 35 santri Ponpes Sempon, Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng); 35 santri ponpes di Pati, Jateng; 38 pembina dan seorang santri di Ponpes Agam, Sumatera Barat (Sumbar); seorang guru dan seorang operator sekolah di Pariaman, Sumbar; seorang siswa di Tegal, Jateng; seorang guru SD di Lumajang, Jatim; serta delapan guru dan 14 pelajar di Kalimantan Barat (Kalbar).

"Pembukaan sekolah di berbagai sekolah di zona hijau sebelumnya tidak didahului dengan pemeriksaan rapid test (tes cepat) terhadap seluruh guru dan sampel siswa. Padahal, pengetesan ini penting sebagai upaya pencegahan," tutupnya.

Sponsored

Pada Jumat (7/8), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama sejumlah instansi terkait memutuskan, pelonggaran kebijakan KBM tatap muka diperluas hingga daerah zona kuning. Sebelumnya hanya di zona hijau.

Berdasarkan peta zonasi per 2 Agustus, terdapat 163 daerah kategori zona kuning. Pembaruan status dilakukan setiap pekan berdasarkan beberapa indikator.  

Meski demikian, keputusan memulai belajar tatap muka menjadi kewenangan kepala daerah. Pertimbangannya, lebih mengetahui situasi di daerah masing-masing.

Sementara itu, IDAI mencatat, sebanyak 2.712 anak di Indonesia positif Covid-19 per 20 Juli. Sebanyak 51 jiwa di antaranya meninggal dunia.

Kasus tertinggi (33%) terjadi pada usia 29 hari-11 bulan 29 hari. Kemudian, 25% pada usia 1-5 tahun 11 bulan 29 hari, 18%berusia 10-18 tahun, serta masing-masing 12% usia 0-28 hari dan 6-9 tahun 11 bulan 29 hari.

Berita Lainnya
×
img