logo alinea.id logo alinea.id

KPK belum bisa pastikan hadirkan Enggartiasto di sidang Bowo Sidik

Mendag Enggartiasto kerap mangkir dalam pemeriksaan KPK.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Rabu, 14 Agst 2019 22:03 WIB
KPK belum bisa pastikan hadirkan Enggartiasto di sidang Bowo Sidik

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum dapat memastikan bakal menghadirkan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita sebagai saksi dalam persidangan bekas Anggota Komisi VI DPR RI, Bowo Sidik Pangarso.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, menjelaskan kewenangan pemanggilan saksi di persidangan berada di ranah Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK. Namun, KPK memastikan akan memanggil para pihak yang disinyalir memiliki keterkaitan dengan penerimaan gratifikasi Bowo Sidik Pangarso.

"Yang pasti dari dugaan peristiwa terkait gratifikasi itu salah satunya adalah terkait dengan gula kristal rafinasi. Siapa saksi yang akan diperiksa, spesifiknya tentu nanti berdasarkan dari Jaksa Penuntut Umum," kata Febri, di gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu (14/8).

Pada persidangan perdana, JPU KPK menyebut setidaknya Bowo Sidik telah menerima gratifikasi berupa uang sebesar 700 ribu dolar Singapura serta Rp600 juta. Uang tersebut teridentidikasi dari empat sumber penerimaan.

Pertama, bersumber dari pengusulan Kabupaten Meranti untuk mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik APBN 2016. Dari pengusulan ini, Bowo menerima sebesar 250.000 dolar Singapura. Selain itu, Bowo Sidik juga menerima uang tunai sebesar 50.000 dolar Singapura saat mengikuti acara Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar di Denpasar, Bali. 

Kemudian, Bowo diduga menerima uang sebesar 200.000 dolar Singapura dari salah satu proyek yang ada di PT PLN (Persero). Terakhir, Bowo diduga menerima aliran dana sebesar 200.000 dolar Singapura dari Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita untuk mengawal Permendag tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi. 

Adapun Permendag yang dimaksud yakni Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi melalui pasar lelang komoditas yang saat itu banyak ditentang oleh fraksi di DPR.

Karena namanya disebut, KPK pernah memanggil Mendag Enggar sebanyak tiga kali guna dimintai keterangan terkait Permendag tersebut. Namun, Enggar selalu mangkir dengan berbagai alasan sampai akhirnya berkas penyidikan Bowo dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor.

Sponsored

Febri mengaku menyesalkan sikap Mendag Enggar yang mengabaikan panggilan KPK. Di mata Febri, Mendag Enggar tidak memberikan contoh yang baik sebagai penyelenggara negara bijak yang patuh dengan hukum.

"Kami sesalkan (sikap Mendag Enggar), karena kami pandang Mendag tidak memberi contoh yang baik sebagai pejabat publik, yang semestinya dapat memprioritaskan proses pemeriksaan dan memenuhi panggilan penyidik karena itu merupakan kewajiban menurut aturan hukum acara yang berlaku,"ujar Febri.

Selain didakwa telah menerima gratifikasi, Bowo Sidik juga didakwa telah menerima suap dari General Marketing Manajer PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasty dan Direktur PT HTK Taufik Agustono sebanyak USD163.733 dan Rp311.022.932. Selain itu, Bowo juga didakwa telah menerima uang suap sebesar Rp300 juta dari seorang pengusaha bernama Lamidi Jimat.

Suap tersebut diterima Bowo baik secara langsung maupun melalui orang kepercayaan Bowo, M Indung Andriani  K yang juga akan segera disidangkan.