sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

KPK belum fokus dalami pelindung Nurhadi

Firli Bahuri menegaskan, KPK saat ini tengah fokus mendalami pokok perkara dugaan penerimaan suap dan gratifikasi.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Kamis, 04 Jun 2020 12:28 WIB
KPK belum fokus dalami pelindung Nurhadi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 75699
Dirawat 36455
Meninggal 3607
Sembuh 35638

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum akan menelusuri pihak-pihak yang diduga melindungi eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi selama menjadi buronan. Sebab, itu belum menjadi prioritas pengusutan komisi antirasuah dalam waktu dekat.

Ketua KPK, Firli Bahuri menegaskan, pihaknya saat ini tengah fokus untuk mendalami pokok perkara dugaan penerimaan suap dan gratifikasi. "Yang pasti sekarang, KPK fokus mendalami perkara pokoknya. Yakni, Nurhadi menerima pemberian hadiah atau janji berupa uang itu. Itu yang pertama," kata Firli, saat ditemui di Gedung Penunjang KPK, Jakarta Selatan, Kamis (4/6).

Namun demikian, Firli memastikan, pihaknya tidak menutup peluang untuk kembangkan perkara itu ke dalam tindak pidana pencucian uang. Hanya saja, pengembangan tersebut dapat dilakukan jika ditemukan bukti baru. "Nanti kalau memang ada keterangan, ada bukti terkait dengan hal-hal lain tindak pidana lain, tentu kami kembangkan," ucap dia.

Saat disinggung, terkait penyitaan sebuah villa Nurhadi yang ada di kawasan puncak, Firli belum dapat mengonfirmasi. Jenderal bintang tiga itu mengatakan, pihaknya harus menganalisis lebih jauh aset tersebut.

"Kami harus lihat dulu, apakah uang yang diterima Pak Nurhadi itu digunakan untuk itu atau tidak? Karena dalam hukum acara benda apa saja yang disita, satu benda hasil kejahatan, dua adalah benda yg ada kaitan dengan kejahatan atau tindak pidana itu sendiri," tuturnya.

Firli juga belum dapat memastikan status istri Nurhadi, Tin Zuraida. Baginya, peningkatan status penanganan perkara seseorang harus memenuhi dua alat bukti yang cukup sebagaimana yang diatur dalam KUHAP.

Diketahui, Tin turut diamankan oleh penyidik saat penangkapan Nurhadi pada Senin (1/6) malam. Tin juga pernah membuang uang yang diduga sebagai barang bukti ke sebuha kloset. "Semua informasi itu, kami kumpulkan dan kami telaah, memerlukan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. Kami harus sajikan (barang bukti) di pengadilan, tentu bedasarkan dengan alat bukti yang cukup. Nanti itu, kami tangani lah," tutup dia.

Sebagai informasi, Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono telah berhasil ditangkap oleh KPK pada Senin (1/6) malam, setelah hampir genap empat bulan menyandang status buron. Dengan demikian, hanya seorang tersangka yakni, Direktur Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto yang belum diamankan oleh penyidik.

Sponsored

Pada perkara itu, Nurhadi bersama Rezky diduga kuat telah menerima suap dari Hiendra berupa 9 lembar cek dengan total Rp46 miliar. Suap ditujukan untuk menangani sebuah perkara di MA.

Sebagai pihak penerima, Nurhadi dan Resky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Hiendra sebagai pihak pemberi, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Berita Lainnya