sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kronologis OTT Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

KPK menerka Nurdin dapat uang dari kontraktor lain sebanyak tiga kali.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Minggu, 28 Feb 2021 08:16 WIB
Kronologis OTT Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tiga tersangka usia operasi tangkap tangan atau OTT, Jumat (26/2) hingga Sabtu (27/2) dinihari. Dalam giat senyap, lembaga antisuap menangkap enam orang.

Ketua KPK, Firli Bahuri, mengatakan, OTT berlangsung di tiga lokasi wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). "Yaitu, rumah Dinas ER (Sekretaris Dinas PUPR Sulsel, Edy Rahmat) di kawasan Hertasening, Jalan Poros Bulukumba, dan rumah jabatan Gubernur Sulsel," katanya saat jumpa pers, Minggu (28/2) dini hari.

Dalam kegiatan tersebut, KPK membekuk Direktur PT Agung Perdana Bulukumba, Agung Sucipto (AS); sopir Agung, Nuryadi (NY); Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA); ajudan Nurdin, Samsul Bahri (SB); Edy Rahmat; dan sopir atau keluarga Edy, Irfan (IF).

Firli menjelaskan, giat senyap bermula dari informasi masyarakat mengenai dugaan penerimaan uang yang diterka dari Agung kepada Nurdin melalui Edy. Pukul 20.24 WIB, Agung bersama Irfan disebut ke salah satu rumah makan di Makassar, dan Edy telah menunggu.

Selanjutnya, ketiga orang tersebut menuju ke Jalan Hasanuddin Makassar. Dalam perjalanan, KPK menduga Agung menyerahkan proposal terkait beberapa proyek pekerjaan infrastruktur di Kabupaten Sinjai, Sulsel, tahun anggaran 2021 kepada Edy.

"Sekitar pukul 21.00 WIB, IF kemudian mengambil koper yang diduga berisi uang dari dalam mobil milik AS dipindahkan ke bagasi mobil milik ER di Jalan Hasanuddin," ujar Firli.

Selanjutnya sekitar pukul 23.00 WITA, Agung dibekuk dalam perjalanan menuju ke Bulukumba. Sedangkan sekitar pukul 00.00 WITA, Edy beserta uang dalam koper sejumlah sekitar Rp2 miliar turut diamankan di rumah dinasnya dan dua jam berselang Nurdin diciduk KPK di rumah dinas gubernur.

"Berdasarkan, keterangan para saksi dan bukti yang cukup maka KPK menetapkan tiga orang tersangka. Sebagai (teduga) penerima NA dan ER. Sebagai (terduga) pemberi AS," kata Firli.

Sponsored

Ketiga orang tersebut terjerat kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji dan gratifikasi pengadaan barang dan jasa, perizinan dan pembangunan infrastruktur di Pemerintah Provinsi Sulsel tahun anggaran 2020-2021.

Meski diterka menerima duit dari Agung sebanyak Rp2 miliar melalui Edy, KPK menerka pula Nurdin dapat uang dari kontraktor lain sebanyak tiga kali. Rinciannya, akhir 2020 Rp200 juta, awal Februari 2021 Rp2,2 miliar, dan pertengahan Februari 2021 Rp1 miliar.

Sebagai penerima, Nurdin dan Edy diterka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebagai pemberi, Agung disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Berita Lainnya