sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Imbas libur panjang, kasus Covid-19 diprediksi bisa tembus 1 juta

Kasus positif Covid-19 di Indonesia di atas 7.000 dalam tiga hari berturut-turut.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Sabtu, 26 Des 2020 12:40 WIB
Imbas libur panjang, kasus Covid-19 diprediksi bisa tembus 1 juta
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Ahli epidemiologi dan biostatistik Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, menyebut libur panjang Natal dan Tahun Baru 2021 (Nataru) dapat berdampak terhadap membengkaknya angka kasus baru Covid-19, bisa tembus10 ribu kasus per hari dan 1 juta kasus secara akumulatif.

Bahkan, kata dia, 7.000 kasus dalam tiga hari berturut-turut tersebut masih merupakan imbas dari libur panjang sebelum-sebelumnya.

“Jadi, liburan panjang kemarin itu dampaknya luas. Seluruh Jawa itu kena. Apalagi sekarang, akan lebih banyak lagi. Saya khawatir, ini bukan doa, bisa sampai 1 jutalah kumulatif (dampak libur panjang panjang Nataru),” tutur Pandu kepada Alinea.id, Sabtu (26/12).

Laporan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Jumat (25/12), mencatat kasus positif Covid-19 memang bertambah 7.259 dalam sehari. Secara kumulatif total mencapai 700.097 orang. Sedangkan Kamis (24/12), penambahan kasus sebanyak 7.199, dan Rabu (23/12) ada 7.514 kasus baru Covid-19. Artinya, secara berturut-turut penambahan lebih dari 7.000 kasus.

Bila kasus Covid-19 terus meningkat, Pandu khawatir rumah sakit-rumah sakit tidak mampu menampung pasien baru Covid-19 imbas libur panjang Nataru.

Kematian tinggi di Jawa Tengah

Kasus kematian harian Covid-19 kemarin juga pecah rekor sebanyak 258 orang pada Jumat (25/12). Jawa Tengah (Jateng) menjadi sorotan lantaran kasus kematian harian Covid-19 cukup tinggi, Jumat (26/12), dan pada Kamis (24/12) mencapai 91 orang.

Menurut Pandu, kasus kematian di Jateng tinggi karena testing-nya rendah. Jateng, jelas dia, sempat melaporkan kasus baru Covid-19 yang terkesan sedikit. Bahkan dia menyebut ada ‘campur tangan’ anak buah mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Sponsored

“Jawa Tengah itu kan dulu kelihatannya kasusnya rendah, karena testingnya rendah. Bahkan, sampai staf khusus-nya Pak Terawan itu, ada dokumentasinya, memerintahkan supaya tidak dinaikkan testingnya, maka angkanya tinggi, karena testingnya naik. Lucu lah,” ucapnya.

3T (tracing, testing, treatment), lanjut dia, penting untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Jika 3T dibiarkan, maka rumah sakit-rumah sakit akan kewalahan.

“Kan sekian persen, 5-10%, orang yang terdeteksi kemungkinan masuk rumah sakit. Nah, sekarang kewalahan tuh dari ujung timur sampai barat (Jawa), Banten juga sama,” pungkasnya Pandu.

Apalagi, jelas dia, sebagian besar yang dimasukkan ke rumah sakit adalah pasien Covid-19 berusia diatas 65 tahun atau lebih mudah, tetapi dengan komorbid (penyakit penyerta).

Berita Lainnya