Lion Air: Kami sudah melakukan pre-flight check

telah melakukan standard operational procedures (SOP) sebelum penerbangan semua pesawat dilakukan.

Lion Air: Kami sudah melakukan pre-flight check ilustrasi

Lion Air memberikan tanggapan atas pernyataan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengenai rusaknya airspeed indicator Lion Air PK-LQP. 

Coorporate Communication Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan telah melakukan standard operational procedures (SOP) sebelum penerbangan semua pesawat dilakukan. SOP tersebut bernama pre-flight check, atau pengecekan sehari-hari yang harus dilakukan seluruh awak navigasi di Lion Air.

"Secara general, perawatan pesawat sesaat pesawat hendak dioperasikan namanya pre-flight check. Ini lazimnya dilakukan saat pengecekan sebelum keberangkatan," kata Danang Mandala Prihantoro, Kamis, (08/11).

Setelah itu, tim teknis perawatan Lion Air harus melakukan transit check. Transit check itu dilakukan pada saat pesawat transit mendarat di suatu tempat. 

"Tim teknis juga melakukan pengecekan pada post flight check. Hal ini dilakukan setelah pesawat itu selesai tugas di hari landing dan bermalam di suatu kota. Berarti pengecekan itu dilakukan secara berkala. Jadi semua pengecekan pemakaian Boeing 737 Max 8 itu sudah kami lakukan," ujar Danang M Prihantoro.

Danang juga memilih sikap berhati-hati untuk mengomentari sikap KNKT yang menyebutkan adanya kerusakan tersebut. Sebab, sejauh ini investigasi KNKT tersebut belum final. Apalagi semua dokumen riwayat penerbangan PK-LQP sudah diserahkan kepada KNKT. 

Oleh sebabnya, detail informasi milik Lion Air terkait kecelakaan pada pesawat JT 610 sudah menjadi wewenang penyidikan KNKT. "Lion Air sudah menyerahkan semua dokumen dan data mengenai pesawat ke pihak KNKT. Semua proses investigasi penyelidikan semua wewenang KNKT. Kami hanya menunggu dan menerima laporan investigasi dan menjadikan referensi dan rekomendasi," ujar Danang.

Perihal kasus kerusakan airspeed indicator Lion Air PK-LQP rusak sudah diberitakan Alinea.id beberapa waktu lalu. Saat itu, KNKT menemukan adanya kerusakan di bagian alat kecepatan pesawat Lion Air PK LQP.

Analisa ini lahir dari pengamatan terhadap black box Flight Data Recorder (FDR), pesawat yang telah ditemukan. KNKT bahkan menyebut kerusakan sudah terjadi sejak penerbangan terakhir, penunjuk kecepatan pesawat atau airspeed indikator.

Kerusakan airspeed indikator sudah dirasakan pada kesaksian pilot pesawat sebelumnya di penerbangan Bali ke Jakarta pada 28 Oktober 2018 lalu. Sebelum kecelakaan terjadi, tercatat ada perbedaan Angle  Attack (AOA) sensor pada pilot dan co-pilot. Akibatnya, penunjuk kecepatan di pesawat menjadi tidak tepat.

Tim teknis Lion Air pun sudah responsif untuk mengganti AOA tersebut juga beberapa bagian yang mengalami kerusakan. Sayangnya, saat pergantian tersebut ada ketidaksingkronan dan malfungsi alat di sistem navigasi pesawat. Alhasil, pada sehari sebelumnya saat penerbangan rute Bali-Jakarta muncul perbedaan penunjukan AOA. 

Reaksi pun diperparah dengan sistem AOA yang tidak singkron antara sebelah kiri yang berbeda 20 derajat dibandingkan sebelah kanan. Menindaklanjuti kesalahan tersebut KNKT pun akan melakukan pemeriksaan intensif ke pabrik perangkat pesawat Boeing 737 Max 8 di Chicago, Amerika Serikat.
 


Berita Terkait