sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Mabes Polri umumkan tujuh orang meninggal

Mabes Polri menegaskan akan membentuk tim investigasi untuk menyelidiki lebih lanjut penyebab kematian tujuh orang demonstran

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Kamis, 23 Mei 2019 16:56 WIB
Mabes Polri umumkan tujuh orang meninggal

Mabes Polri mengumumkan tujuh orang meninggal dalam aksi kerusuhan 21-22 Mei di sekitar gedung Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, dan beberapa titik di Jakarta. Mabes Polri juga mencatat sembilan aparat kepolisian mengalami luka-luka ringan.

"Korban meninggal dunia yang ke kami itu tujuh," kata  Kepala Divisi Humas Polri Irjen M Iqbal saat konferensi pers di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (23/5).

Iqbal menegaskan tujuh orang yang tewas merupakan korban dari massa perusuh. Juga bukan massa yang sedang berjualan atau beribadah.

Mabes Polri akan membentuk tim investigasi untuk menyelidiki lebih lanjut penyebab kematian tujuh orang demonstran tersebut. "Untuk mengetahui penyebabnya dari seluruh aspek," tutur dia.

Iqbal kembali menegaskan, pada kejadian 21-22 Mei, aksi terbagi menjadi dua segmen. Segmen pertama adalah massa damai, dan segmen kedua massa perusuh.

Selama aksi berlangsung, Polda Metro Jaya telah menangkap 257 tersangka, empat di antaranya dinyatakan positif mengonsumsi narkotika. "Bagaimana mau unjuk rasa kalau mereka mengonsumsi narkoba, yang lain juga akan diperiksa," kata dia.

Sementara itu, sejumlah warga mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat, untuk mencari anggota keluarga mereka yang diduga hilang saat kericuhan aksi massa 22 Mei 2019.

Salah seorang warga Kembangan Jakarta Selatan, Saroh, datang ke RSUD Tarakan, Kamis siang, mencari anaknya yang bernama Dian Masyhur (20).

Sponsored

Dian pamit sejak Rabu (22/5) pukul sembilan pagi bersama dengan kawannya. "Dia dari rumah pagi-pagi itu bilangnya mau berangkat ngaji di pengajian, belum pulang sampai sekarang," kata Saroh.

Saroh mengaku sempat mencari ke rumah teman-teman Dian, namun tidak membuahkan hasil. Dia mengaku khawatir anak bungsunya itu diajak oleh kawan-kawannya untuk turut serta dalam kegiatan aksi massa 22 Mei, tanpa sepengetahuan keluarga.

"Ya infonya sih, whatsapp-an sama temannya posisi lagi di lokasi, di Petamburan," ujar Saroh menambahkan.

Saroh mengatakan, jika tidak menemukan Dian di RSUD Tarakan, dia akan terus mencari ke beberapa rumah sakit lain yang menampung korban ricuh aksi massa tersebut.

Begitu pula dengan Nurhayati, warga Rawa Buntu, yang kehilangan anggota keluarganya. Anaknya, M Rizki (16), pergi meninggalkan rumah sejak Rabu (22/5) pagi.

"Tadi minta duit sama kakaknya Rp10 ribu. Katanya buat buka puasa di Thamrin," kata Nurhayati.

Rizki pergi dengan seorang temannya, yang juga tidak bisa dihubungi. "Hapenya mati dari semalam, enggak pulang dari jam sembilan pagi sampai sekarang," ujar Nurhayati.

Terkait kemungkinan tujuan sang anak pergi ke daerah Thamrin untuk ikut serta dalam aksi massa 22 Mei, Nurhayati menampik. "Kalau aksi, dia kan dari pondok lagi libur di rumah, orangnya cuma ingin tahu saja mungkin diajak teman, dia orangnya tidak berani kalau iku-ikutan begitu," tambah dia.

Ketika melihat nama Rizki dengan usia 16 tahun yang tercatat di papan daftar nama korban, Nurhayati langsung mengkonfirmasi ke pihak rumah sakit. Sayangnya, nama tersebut tidak cocok dengan identitas alamat yang dimaksud.

Sejumlah 168 orang yang menjadi korban kericuhan aksi massa 22 Mei dilarikan ke RSUD Tarakan sejak Selasa (21/5) hingga Kamis sekira pukul 04.00 WIB. (Ant)