sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mahfud ke Dubes AS: Indonesia tak butuh bantuan negara lain untuk Natuna

Mahfud menekankan bahwa Indonesia tidak memiliki sengketa dengan pihak manapun ihwal Laut Natuna.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Jumat, 24 Jan 2020 22:08 WIB
Mahfud ke Dubes AS: Indonesia tak butuh bantuan negara lain untuk Natuna
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 123503
Dirawat 38539
Meninggal 5658
Sembuh 79306

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyatakan Indonesia saat ini tak membutuhkan bantuan negara lain terkait persoalan di Laut Natuna Utara. Pernyataan tersebut disampaikan Mahfud saat menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr.

"Kita katakan (kepada Dubes AS), kita belum perlu bantuan apa pun dari negara lain. Karena kita tidak bersengketa apa-apa dengan China di Laut Natuna Utara itu," kata Mahfud di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat (24/1).

Mahfud juga mengaku mengulang pernyataan yang disampaikannya saat kedatangan Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Xiao Qian, pada Kamis (16/1). Saat itu, Mahfud mengatakan secara hukum Indonesia memiliki hak berdaulat atas kawasan Zona Ekonomi Ekslusif atau ZEE di Laut Natuna Utara.

Diketahui ZEE Indonesia ditetapkan dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS 1982. Hal itu pula yang menjadi alasan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mengatakan Indonesia tidak dalam posisi bersengketa dengan China.

Kalaupun ada yang masuk zona tersebut tanpa izin seperti beberapa waktu lalu, kata Mahfud, Indonesia segera mengusirnya. Pemerintah dipastikan tidak akan berunding. 

Di sisi lain, tambahnya, pengusiran tersebut bukan dalam konteks perang, melainkan menjaga hak untuk berdaulat. 

"Kita tidak akan nego karena tidak ada sengketa perbatasan. Kalau mereka (China) masuk, kita usir. Tapi, bukan perang. Karena kalau kita nego, kalau kita berunding, berarti itu hubungan bilateral. Ini kan sudah ada putusan multilateral internasional, (yaitu) UNCLOS tahun 1982," ucap dia.

Panglima Komando Armada I TNI AL Laksamana Muda TNI Muhammad Ali menjelaskan, ada konflik lebih besar yang melibatkan Amerika Serikat dan China di Laut Natuna Utara. Karena itu, kata dia, Indonesia menerapkan diplomasi lunak menghadapi persoalan ini.

Sponsored

"Kita diseret-seret ke konflik itu, tapi kita berusaha menahan diri. Nah ini kenapa kemarin kita tidak keras tapi melakukan penindakan yang lunak saja," kata Ali dalam diskusi Konflik Natuna dan Pasang Surut Hubungan Indonesia dan RRC, di Jakarta, Jumat (24/1).

Ia pun menambahkan jika diplomasi lunak yang dilakukan Indonesia kepada China dalam konflik Natuna karena Indonesia tidak mau terseret konflik yang lebih besar dengan dua negara raksasa dunia itu.

"Ini konfliknya antara AS dengan China atau hanya Indonesia dengan China? Kita tidak mau ke arah (yang lebih besar) di sana. Kita tetap menahan diri. Kita banyak diskusi mungkin manuver-manuver saja. Kemudian kita tekankan kepada mereka bahwa Anda melanggar UNCLOS pasal sekian, sekian," kata Ali.

Berita Lainnya