sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Menag akan jadikan Risalah Jakarta pedoman beragama

Kementerian Agama akan terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan, jaminan, dan perlindungan kehidupan umat beragama.

Soraya Novika
Soraya Novika Sabtu, 29 Des 2018 22:11 WIB
Menag akan jadikan Risalah Jakarta pedoman beragama

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin serius membawa rumusan Risalah Jakarta, yang merupakan hasil dari dialog lintas iman para agamawan, budayawan, dan akademisi di Discovery Hotel, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (29/12) menjadi pedoman dalam pengambilan kebijakan beragama.

"Kami akan secara serius menjadikannya (Risalah Jakarta) sebagai pedoman dalam menata kehidupan dan kerukunan umat beragama di masa mendatang," ujar Menag Lukman melalui pernyataan tertulis, yang dibacakan Sekjen Kemenag M Nur Kholis Setiawan dalam konferensi pers di Discovery Hotel, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (29/12).

Lukman menyampaikan, Kementerian Agama akan terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan, jaminan, dan perlindungan kehidupan umat beragama, sesuai regulasi yang ada.

Lebih lanjut, pihaknya juga akan menyediakan fasilitas dan akses program, agar orang-orang yang dianggap memiliki keluasaan pengetahuan dan otoritas keagamaan dapat terus hadir di ruang-ruang publik dan di dunia digital.

"Dengan demikian, mereka dapat memberikan pencerahan nilai-nilai moral dan spiritual agama melalui jalur-jalur kebudayaan," katanya.

Hal ini penting, mengingat selama ini pihak-pihak yang dianggap memiliki otoritas pengetahuan agama, baik agamawan maupun akademisi, dirasa kurang hadir mengisi dahaga keberagamaan publik lewat ruang-ruang media sosial. Padahal, mereka dirasa sangat mampu menghadirkan nilai-nilai luhur moral dan spiritual agama.

"Selaku bagian pemerintah, kami merasa perlu memberikan fasilitas dan akses dalam menginternalisasi dan menyebarkan nilai-nilai moral dan spiritual agama melalui strategi kebudayaan yang terencana dengan baik dan matang, melalui penguatan literasi bacaan maupun dengan lebih banyak lagi menjelaskan agama melalui media kebudayaan yang universal, kreatif, dan ramah teknologi," ujarnya.

Lukman juga menyerukan kepada semua pihak untuk senantiasa menghindari perilaku ekstrem dan eksklusif dalam beragama. Dia sependapat bahwa konservatisme—beragama dengan menekankan pada nilai-nilai lama agama—bukan masalah dalam kehidupan beragama.

Sponsored

Namun, sikap ultrakonservatif, dalam wujud eksklusifisme dan ekstremisme beragama, terbukti telah mereduksi dan mengingkari esensi ajaran agama itu sendiri.

Baik ekslusifisme maupun ekstremisme juga terbukti dalam konteks kekinian telah mengekang kreativitas, sekaligus menghilangkan rasa aman para generasi muda yang selama ini berkreasi menyisipkan muatan nilai-nilai agama di ruang-ruang digital.

"Karena itu dirasa perlu adanya jembatan untuk melakukan sinergi antara otoritas keagamaan dengan kebutuhan generasi milenial kekinian," ujarnya.