sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Menhub sebut 3 titik kritis mudik Natal dan Tahun Baru

Tiga lokasi yang menjadi titik paling kritis arus lintas saat libur Natal dan Tahun Baru adalah Tol Cipali, Pelabuhan Merak-Bakauheni, KTI.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Selasa, 24 Des 2019 14:05 WIB
Menhub sebut 3 titik kritis mudik Natal dan Tahun Baru
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2273
Dirawat 1911
Meninggal 198
Sembuh 164

Menteri Perhubungan (Memhub) Budi Karya Sumadi memprediksi terdapat tiga lokasi yang menjadi titik paling kritis arus lintas saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2019/2020. Ketiga lokasi itu, tersebar di Indonesia bagian barat dan timur.

"Tiga tempat yang paling kritis (arus lalu lintas saat libur Nataru), satu itu Tol Cipali. Di pelabuhan Merak-Bakauheni juga, dan juga Kawasan Timur Indonesia (KTI)," kata Budi, saat ditemui di Pelabuhan Kali Adem Muara Angke, Jakarta Barat, Selasa (24/12).

Budi menilai, puncak kepadatan arus lalu lintas ketiga lokasi akan terjadi pada 1 Januari 2020. Terutama, kata dia di Tol Cipali. Karena itu, dia mengimbau kepada masyarakat untuk memperhitungkan waktu untuk melintasi daerah tersebut.

"Saya menyarankan jangan pulang tanggal 1 (Januari 2020). Kalau bisa, tanggal 29 (Desember 2019) lah. Tanggal 1 itu, pasti akan penuh sekali. Karena, orang akan berkumpul di satu titik, rest area-nya kurang, jarak yang 300 KM itu akan banyak risiko," ucap dia.

Lebih lanjut, Budi menyampaikan, pihaknya telah melakukan sejumlah persiapan untuk menyambut libur Nataru 2019/2020. Salah satunya, melalukan riset terkait penggunaan transportasi masyarakat 

"Hasil riset itu menunjukan bahwa yang ingin melakukan perjalanan 50% menggunakan kendaraan pribadi. Artinya, keinganan menggunakan kendaraan pribadi tetap tinggi," tutur dia.

Dengan angka tersebut, Budi mengaku bahagia karena hasil tersebut dapat dimaknai dengan tingkat kemakmuran masyarakat yang tinggi. Namun di samping itu, angka tersebut justru menjadi peringatan untuk pemerintah.

"Satu sisi kita senang, menunjukan kemakmuran negara kita, tetapi di sisi lain ini warning untuk kita. Bahwa perjalanan-perjalanan itu seyogyanya menggunakan angkutan massal, apakah itu kereta, bus, dan lainnya," ujar mantan Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) itu.

Sponsored

"Pemerintah harus siap melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih masif. Semoga apa yang kita sudah persiapkan ini, bisa dijalankan dengan baik dan mudik ini tetap asik," tutup Budi.

Berita Lainnya